#698 Belajar Atasi Banjir dari Belanda

Belanda memang menjanjikan berbagai fenomena yang menarik untuk ditiru dan dipelajari. Tidak hanya karena kondisi geografisnya yang unik, tetapi juga berbagai kemajuan yang telah dicapai. Oleh karena itu, tidak perlu menengok ke lembaran sejarah Indonesia tentang Belanda sebagai negara penjajah selama 350 tahun lamanya.

Berbicara tentang geografis Belanda, tidak terlepas dari sebutan Belanda sebagai negara bawah tanah yang dalam bahasa Belanda Koninkrijk der Nederlanden. Artinya, “kerajaan tanah-tanah rendah”. Belanda merupakan sebuah negara yang berada di benua Eropa bagian barat laut dan lebih dari 60% wilayah negara itu terletak di bawah permukaan laut. Sungguh unik bukan? Dengan kondisinya yang berada di bawah permukaan air laut, Belanda bisa mengatasi banjir yang sangat mungkin terjadi setiap saat di negara itu. Berbeda halnya dengan Indonesia yang merupakan negara yang dikelilingi oleh perairan, bisa dikatakan Indonesia negara langganan banjir. Bahkan Semarang, tempat saya tinggal, mendapat julukan kota bajir. Padahal, di Semarang ada Polder Tawang. Ironisnya kondisi Semarang itu diabadikan dalam sebuah lagu daerah berjudul Jangkrik Genggong. Wow, mengagetkan bukan?

Adakah hubungannya dengan dam dan kincir angin sebagai ikonnya? Belanda dikenal memiliki teknologi mengatasi banjir, diantaranya adalah dam (bendungan) dan kincir angin. Awalnya, 70% wilayah Belanda adalah laut. Untuk memperbesar wilayahnya, pantai di sekeliling wilayah tepi Belanda dikeruk dan dibuat bendungan. Dalam proyek perbesaran wilayah itu, kincir angin memegang peranan penting sebagai alat untuk mengalihkan dan membendung air, juga untuk menangkap dan mengalihkan banyak angin.

Sebetulnya fungsi dari kincir angin bukan hanya untuk mengeringkan air laut saja. Berdasarkan fungsinya kincir angin dibagi menjadi tiga kategori yaitu, kincir angin pengering air, kincir angin pengiling jagung, dan kincir angin keperluan industri. Cara kerja kincir angin dalam memompa air sangat unik dan cerdas mengingat zaman pada saat itu karena sangat berbeda dengan pompa air zaman sekarang yang ditanam di sumur-sumur warga. Ada beberapa cara yang digunakan pompa air ini untuk mengambil air, salah satunya dengan menggunakan roda besar yang digerakan kincir angin, sehingga roda besar itu memindahkan air dari sisi satu ke ke sisi lainnya. Dengan teknologi tersebut Belanda berhasil mengeringkan air laut dan menjadikannya daratan. Hal itu menyebabkan daratan yang ada di Belanda cenderung rata dan berada di bawah permukaan laut. Oleh karena itu, Belanda membangun bendungan atau dam untuk menahan air laut masuk ke daratan.

Untuk itu, penting artinya Belajar pada Belanda. Kalau dipikir-pikir, Indonesia kaya dengan sungai-sungai. Indonesia juga memiliki bendungan atau waduk sebagai penampung air dan pintu-pintu air sebagai pengatur sistem irigasi. Selain itu, Indonesia adalah negara yang berangin. Angin yang berhembus kadang-kadang merupakan angin jahil yang memporak-porandakan rumah dan bangunan. Jadi, kenapa tidak mencoba teknologi kincir angin dan dam? Di satu sisi merupakan langkah nyata mengatasi banjir, sedangkan di sisi lain sebagai langkah hemat energi. Ah, seperti pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

- ditulis oleh Sutarsih

About these ads

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s