#815 Onthelisme: Kreativitas Belanda Membangun Ideologi Bersepeda

Pit onthel (sepeda engkol) di beberapa negara dianggap ndeso dan kuno. Pemakainya identik dengan kelas bawah, kampungan, ketinggalan zaman. Tetapi tidak di Belanda. Belanda adalah surganya pesepeda. Tidak ada kesenjangan status sosial pemakainya. Tidak ada gengsi menggunakannya.

Jika dikaitkan isu pemanasan global, Belanda layak menjadi kiblat. Belanda membangun ideologi bersepeda dengan konsep murah meriah, dilakukan sejak dini, tepat sasaran. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan ideologi sebagai kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup (Balai Pustaka, 2002 : 417). Merujuk definisi tersebut jelaslah dengan ideologi bersepeda Belanda bercita-cita menjadi negara rendah polusi, mewujudkan masyarakat sehat (meningkatkan harapan hidup) serta membangun negara modern bernuansa natural.

Menurut hemat saya ideologi cepat melekat di masyarakat karena beberapa faktor. Pertama, faktor keturunan. Keluarga menjadi pengaruh utama. Jika ayah-ibu gemar bersepeda bukan tidak mungkin segera menular kepada anak-anak. Kedua faktor pembelajaran mandiri. Setiap orang belajar dari sikap orang lain dan lingkungan sekitar. Jika kebanyakan warga Belanda “jatuh cinta” bersepeda, setiap orang asing pasti berhasrat mencobanya. Di sisi lain lingkungan juga mengkondisikan segera menirunya. Ketiga, faktor paksaan. Negara menjadi aktor utama. Secara internal negara memaksa diri membatasi produksi mobil/ kendaraan pribadi. Secara eksternal negara memfasilitasi sebaik-baiknya pesepeda. Negara memaksa masyarakat untuk bergerak. Bukan memaksa kendaraan untuk bergerak. Negara memperluas akses MRT. Negara menyediakan trotoar secara eksklusif tanpa adanya penyalahgunaan fungsi untuk lahan parkir, berdagang, tenda kuliner.

Mayoritas warga Belanda bukan tidak mampu membeli mobil. Nyatanya tidak ada dominasi mobil/ kendaraan pribadi terhadap sepeda di Belanda. Yang ada hanyalah pajak tinggi kendaraan pribadi. Unsur “paksaan” menggiring warga menaati ideologi negara untuk bersepeda daripada menggunakan kendaraan pribadi. Inilah kreativitas Belanda, memprioritaskan yang minoritas. Bukan malah mengistimewakan yang mayoritas.

Nilai kreativitas Belanda menurut saya lebih kepada kemampuan mengelola, mengkondisikan, memberdayakan sumber daya sosial/ lingkungan untuk kemaslahatan bersama. Belanda tidak ikut trend untuk menjadi negara serbacanggih. Buktinya Belanda tidak terpacu menjadi negara produsen mobil yang kerap mengeluarkan produk terbaru dengan embel-embel ramah lingkungan, BBM irit, energi terbarukan. Sadar tentang pencemaran udara dan masalah transportasi, Belanda tidak berambisi mengembangkan industri mobil nasionalnya dalam skala besar-besaran. Belanda justru konsisten memberdayakan aset sebagai keunikan yang sudah ada : sepeda.

Ideologi “menyepedakan masyarakat, memasyarakatkan sepeda” kelihatannya tidak lazim bagi negara maju sekelas Belanda. Lantas apakah ideologi ini menyalahi pakem yang menyebutkan negara maju harus selalu serbacanggih? Inilah nilai plusnya. Tanpa menanggalkan identitas sebagai negara modern, Belanda berhasil mendampingkan unsur tradisional dalam balutan kecanggihan. Di sisi tradisional Belanda menawarkan fasilitas yang berfihak kepada pesepeda misalnya jalur khusus sepeda, parkir sepeda, penyewaan sepeda yang merata di setiap kota. Di sisi kecanggihan Belanda membangun jaringan MRT yang terintegrasi secara luas.

Belanda adalah cermin negara dalam memanusiakan manusia. Setiap orang memperoleh haknya dengan wajar dan terkesan dimanjakan. Setiap orang difasilitasi dengan fasilitas terbaik. Setiap orang memperoleh kemudahan bergerak tanpa terganggu peliknya masalah perkotaan. Dalam lingkup lebih luas, Belanda memberi contoh kreativitas rekayasa sosial kemasyarakatan dapat dijalankan untuk turut serta memperbaiki dunia secara massal. Tentunya melalui aset berharga yang terus dijaga kelestariannya yaitu pit onthel.

- ditulis oleh Chakim Musthofa

About these ads

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s