#19 Liarnya Pendidikan Belanda

Mengutip salah satu slogan yang ada di Pondok Madani, atau biasa dikenal dengan sebutan Pondok Modern Gontor “ke Madani, apa yang kau cari?”. Sepertinya tepat juga ditujukan kepada orang-orang yang ingin melanjutkan sekolah di Belanda. Yaps betul..! “ke Belanda, apa yang kau cari?”

Statement itu tepat untuk menggambarkan orang-orang non Belanda yang ingin menempuh studi di negeri kincir angin. Orang belanda penuh dengan inovasi dan banyak menciptakan ilmuwan dunia. Tidak heran, negara yang secara geografis di bawah permukaan laut ini mampu membendung lautan untuk dijadikan daratan yang indah seperti sekarang. Sejak awal, pendidikan di Belanda memacu kreatifitas pelajar yang nantinya akan menjadi pelajar yang kreatif, punya daya saing, kritis, dan mandiri.
Dengan 1000 lebih program pendidikan internasional yang ditawarkan di Belanda, membuka kesempatan bagi pelajar dari seluruh negara untuk datang dan belajar di negeri kanal ini. Hal inilah yang membuat para pelajar dituntut untuk bisa berinovasi dan berkreasi dalam belajar. Kalau di Indonesia mungkin lebih dikenal dengan CBSA, Cara Belajar Siswa Aktif. Di Belanda sistem ini sangat diterapkan bahkan sampai tingkat perguruan tinggi. Ruang kelas dalam dunia pendidikan di Belanda hanyalah sebagai tempat berdiskusi, bukan sebagai tempat menambah stok pengetahuan baru. Jadi, pelajar dituntut untuk mandiri dan terus berinovasi dan improvisasi mengenai materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya. Di Indonesia sebenarnya sudah diterapkan sistem CBSA, akan tetapi penerapan dan aplikasinya kurang maksimal. Sehingga berubah menjadi Catat Buku Sampai hAbis (CBSA).
Menurut gw, pendidikan di Belanda adalah liar. Ya, liar bahkan sangat liar. Siapa saja yang menempuh pendidikan di Belanda, dibebaskan untuk berinovasi dan berkreasi dengan apa yang ada di dalam pikiran mereka. Yang tak punya inovasi bagaimana? Ya siap-siap jadi penonton dan penikmat dari inovasi yang telah diciptakan. Tanpa inovasi dan kreasi, mana mungkin Belanda semaju sekarang ini.

Sebut saja Jalila Essaidi, ilmuwan asal Belanda. Karena inovasinya yang “liar”, dia telah menciptakan kulit anti peluru. Kulit anti peluru ini terbuat dengan memanen protein sutra laba-laba dari susu kambing rekayasa genetika. Protein dikumpulkan dan ditenun sehingga menghasilkan material sekuat baja. Kemudian digabungkan dengan sel kulit manusia dengan cara dikulturkan[1]. Dengan angan-angannya yang gila, Jalila berhasil menciptakan kulit anti peluru. Walaupun belum mampu menahan peluru dengan kaliber besar dan kecepatan tinggi.

Selain itu, Ilmuwan Nano Leo Kouwenhoven telah berhasil menimbulkan kegemparan di kalangan ilmuwan pada bulan Februari lalu, saat mempresentasikan hasil temuan awal pada sebuah kongres ilmiah. Pada tanggal 12 April, para ilmuwan akan mempublikasikan penelitian mereka ke dunia ilmu pengetahuan. Penelitian ini dibiayai oleh FOM Foundation dan Microsoft[2].

Dalam daftar Top 50 Life Sciences Universities dari Times Higher Education, Wageningen University and Research Centre serta Utrecht University menempati peringkat ke-17 dan ke-30. Saat ini, Wageningen University and Research Centre memiliki reputasi yang sangat baik terutama untuk program-program studi seperti pertanian, teknologi pangan, bioteknologi, peternakan dan perikanan. Sementara Utrecht University menawarkan program-program studi mutakhir seperti Astrofisika, Biomolekular, Fisika Eksperimental dan Hidrologi[3].

Dalam dunia pendidikan, Belanda merupakan negara pertama di Benua Eropa yang menawarkan program-program belajar yang diajarkan dalam bahasa Inggris. Para mahasiswanya pun didorong untuk meciptakan ide–ide kreatif dan inovatif sehingga menjadi pelopor dan motor penggerak dalam kehidupan.

– ditulis oleh Adi Budi Yulianto

1 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

One response to “#19 Liarnya Pendidikan Belanda

  1. wah saya suka sistem belajar di Belanda kalo begitu! kreativitas lebih dikembangkan ya, pelajar pun jadi lebih banyak berfikir dan berkarya daripada sekedar menghafal dan memahami saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s