#18 Penjaga Gawang Warisan Budaya Bangsa: Mendidik Bangsa Melalui Dokumentasi

Jika kita mendengar istilah dokumentasi, salah satunya arsip, beberapa dari kita akan langsung mengarah pada salah satu negara di Eropa, Belanda. Negeri kincir angin ini memang memiliki salah satu tradisi penjagaan warisan budaya yang luar biasa baik, salah satunya adalah arsip. Jika di negara kita arsip sering mengalami degradasi pemahaman, maka sudah seharusnya kita belajar banyak dari bangsa Belanda. Bagi Belanda, menyimpan arsip tidak sekedar sebagai sarana utama pendukung penelitian-penelitian sejarah, tetapi juga penjagaan terhadap nilai-nilai kebudayaan suatu bangsa, terutama bangsa Indonesia. Suatu hal yang saya kagumi dari Belanda sebagai seorang mahasiswa ilmu kearsipan.

Bangsa Belanda menyadari akan keberagaman budaya yang ada di negeri kita. Oleh karena itu,  para ilmuwan Belanda seolah-olah berlomba untuk mendokumentasikan keberagaman dan keunikan budaya nusantara. Salah satu pakar ilmu alam Belanda, G.E. Rumphius, menerbitkan sebuah buku berjudul D’Amboinsche Rariteitkamer, yang menjelaskan tentang temuan-temuan artefak di Maluku, pada tahun 1705. Sejak saat itu, para ilmuwan lain kemudian berminat terhadap warisan-warisan budaya nusantara.

Sebelum Raffles menginjakkan kaki di bumi nusantara dan mendokumentasikan banyak hal terkait  budaya Jawa, pemerintah Belanda telah lebih dulu membentuk sebuah yayasan yang bertindak  merawat dan melestarikan warisan budaya di Hindia Belanda (nama Indonesia masa pemerintahan  kolonial Belanda). Yayasan yang didirikan tahun 1778 bernama Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Kemudian di tahun 1885, pemerintah Belanda turut serta menjadi pelopor dalam melahirkan perkumpulan peminat tinggalan  sejarah dan purbakala amatir di Yogyakarta. Salah satu warisan yang dapat dilihat hingga saat ini adalah Museum Sonobudoyo yang terletak dekat dengan Keraton Yogyakarta.Bahkan perundang-undangan tentang cagar budaya di Indonesia dicetuskan pertama kali oleh pemerintah Belanda melalui Monumenten Ordonnantie No. 19 tahun 1931 Staatblad 238 (diperbaiki tahun 1934).

Hingga saat ini, masyarakat dunia masih menjadikan Belanda sebagai kiblat utama dalam hal dokumentasi dan kearsipan. Kesadaran dalam melestarikan warisan budaya bangsa melalui pendokumentasian maupun pengarsipan sudah seharusnya tertanam jika kita ingin disebut bangsa yang menghargai keberagaman budaya nusantara.

– ditulis oleh Rina Rakhmawati

Iklan

6 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

6 responses to “#18 Penjaga Gawang Warisan Budaya Bangsa: Mendidik Bangsa Melalui Dokumentasi

  1. bener Belanda memang menjadi kiblat kearsipan, saya pernah membaca buku mengenai arsip. Belanda yang terbaik

  2. Ozani

    sudah takdir (tiada bisa diubah lagi) belanda negeri pengumpul arsip sementara indonesia negara sangat baik dalan urusan melupakan sejarah. maka korupsi sangat mendarah daging sejak zaman belanda masih di sini sampai sekarang ketika belanda menyediakan pendidikan tinggi anti korupsi untuk warga indonsia. seharusnya Indonsia adalah negera persemakmuran belanda, dan kini mungkin akan semaju beladan dalam arsip dan moseum -kalau saja soekarno tahu dan akui betapa ia salah pada 1945. Sungguh malang negara tanpa arsip..

    • muayyad

      ‘seharusnya Indonsia adalah negera persemakmuran belanda, dan kini mungkin akan semaju beladan dalam arsip dan moseum -kalau saja soekarno tahu dan akui betapa ia salah pada 1945’

      Soekarno is Indonesia strong man !!
      silahkan tanggalkan kewarganegaraan anda jika anda menginginkan Indonesia sebagai negara persemakmuran Belanda. NKRI harga mati.

    • hmmm pernyataannya kontroversi ya hehehe brarti menyesal nih kita merdeka tahun 1945? Saya ngerti ko maksudnya Ozani pasti ingin seperti negara Commonwealth gitu ya?

  3. meiffi

    betul mbak, gila pengarsipan dan pendokumentasiannya, itu udah tingkat yang kompleks sekelas sejarah budaya, coba klo bangsa indonesia bisa mengikutinya dgn mendokumentasikan sesuatu yang memliki nilai historis..

  4. Maya Rizki Analia

    Betul mb, ane setuju.
    seharusnya bangsa Indonesia sadar pentingnya sebuah arsip, untuk melihat masa lalu bangsa ini.
    terkait sejarah, belanda memang menyumbang bnyak ttg kisahnya di cat. sejarah Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s