#8 Saya pun Berguru pada Orang Belanda

Jogjakarta, rabu 7 september 2011 siang itu saya berkunjung ke suatu daerah yang bernama Prawirotaman. Daerah ini cukup tenar di wilayah jogjakarta karena akses untuk ke tempat-tempat yang asik, dan bersejarah sangat lah mudah diantaranya taman sari, malioboro, keraton dan masih banyak lainnya,  disinilah sangat banyak kerumunan turis asing yang sengaja berlibur ke jogjakarta.

Karena saya hanya seorang pelajar yang mempunyai rasa ingin tahu tentang kebiasaan orang bule maka suatu hari saya sengaja mengikuti seorang bule berkumis putih dan bermata biru. Mungkin cerita ini sedikit konyol tapi apadaya,saya mencoba untuk berbagi cerita. Kita panggil saja Mr Jesse, siang itu dia akan pergi ke suatu bank yang terletak di Jl.Mayjend Sutoyo,setelah sampai bank.Saya mencoba memperhatikan gerak-gerik pak kumis itu. Suasana di bank itu sangatlah ramai dengan orang-orang yang sibuk dengan  antrian panjang untuk mengambil uang dan menabung. Setelah dia menulis slip pengambilan uang dia duduk di kursi sebelah utara dari receptionist. Mulai saat itu dalam benak saya terdapat sedikit keganjalan. Pak kumis itu tampak sabar menunggu antrian untuk mendapatkan gilirannya mengambil uang, namun yang saya amati orang indonesia selalu sigap ketika ada celah dikit dalam antrian pasti nerobos bisa dibilang datang akhir justru pulang awal tidak seperti  pak kumis itu yang masih menunggu saja di kursi sebelah utara receptionist. Jam sudah menunjukan pukul 14.56 yang berarti bank itu akan tutup namun pak kumis itu masih belum mendapatkan antriannya. Sedangkan orang indonesia sudah dari tadi pulang dan menyelesaikan administrasinya. Seorang satpam pun menghampiri pak kumis itu untuk memberi tahu bahwa bank akan tutup pukul 15.00 dengan muka yang sedikit kecewa pak kumis itu mengurungkan niatnya untuk mengambil uang pada hari itu,keesokan harinya ia pun datang kembali ke bank tersebut namun apa yang terjadi. Kejadian hari kemarin pun terulang kembali ia pulang dengan tidak membawa hasil. Pada hari ke tiga ia masih bersikukuh untuk datang lagi ke bank tersebut, namun saya mencoba untuk memberanikan diri berbincang dengan pak kumis yang ternyata asli kerkewarganegaraan Belanda. Permisi Mr, sebaiknya setelah anda menulis slip pengambilan uang tersebut anda langsung berdiri  antri di barisan tersebut sambil menunjukan barisan antrian itu,jangan duduk saja di kursi itu untuk hanya menunggu panggilan. hari itu juga akhirnya ia berhasil mengambil uang di Bank tersebut sambil mengucapkan terima kasih ia memberi saya sebuah kamus belanda-indonesia. Dengan ekspresi yang tidak dapat di tutupi saya pun tersenyum lebar kepada pak kumis itu seraya melambaikan tangan pertanda perpisahan.

Dari cerita tadi bisa saya ambil pelajaran begitu disiplinnya pak kumis itu dalam kehidupan sehari hari hanya masalah antri, mungkin di daerah atau tempat tinggalnya ia terbiasa hidup dengan disiplin mengantri. Tidak seperti di indonesia banyak orang yang saling serobot dalam antri bahkan bisa dibilang sudah menjadi budaya orang indonesia,kalaupun pak kumis itu tidak mengatahui apa yang harus ia lakukan maka sampai kapanpun ia tidak akan mendapatkan uang di bank itu karena di serobot (memotong antrian) . sebuah kebiasaan yang perlu kita terapkan di indonesia ini walaupun dari hal yang kecil yaitu antri

Sangat berbeda kebiasaan antri di indonesia dengan di luar negeri

 

 

 

 

 

 

 

– ditulis oleh M. Zulfikri

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s