#36 Where is My Ticket?

“…Geef mij maar nasi goreng, met een gebakken ei. Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij…”

Mengalun pelan dari laptop peninggalan kuliahku dulu (Oh…Gee). Seketika lirikan mataku nan coklat memukau indah (antara aku atau cermin yang berdusta?) tertuju pada foto berbingkai di dinding kamarku. Senyum lebar dibalut pakaian khas petani belanda, terompa kayu serta gendongan susunya. Melihatnya seakan aku benar-benar di Belanda studio foto. Ya…ya…ya, obsesi terkadang melahirkan kenyataan absurd.

ImageKita memang tak pernah tahu apa yang dirindukan sampai sesuatu itu tiba di depan mata.” (~ Dee, Akar: Supernova #)

Berawal dari fakultas hukum yang kumasuki, kecintaan pada Belanda pertama kali disemai. Membayangkan suatu saat nanti menginjakkan kaki di Negeri Merah Putih Biru tersebut. Berdiri di tengah kota Utrech, menutup mata lalu menghirup udara dan menepukkan tangan ke cakrawala. Bisa kurasakan paru-paru dan tanganku dipenuhi barisan pasal dan norma hukum. Energi kehidupan bagi pengecap manis hukum Eropa Continental. Ohh…indahnya!!!

Kemudian cinta itu tumbuh rindang dikarenakan keberhasilan prestasi De Oranje dalam bidang ilmu pengetahuan, sosial dan kemanusiaan. (Belanda negara terbaik ke-2 sebagai Best Place Business, Ilmuwan Belanda adalah pelopor ilmu serta peraih Nobel dan Penghargaan lainnya, Negeri Paling Bahagia ke-4 versi PBB dan terbaik ke-3 untuk Work Life Balance versi OECD, Belanda juga rangking ke-3 jumlah universitas terbanyak World Reputation Rangking 2012 oleh Times Higher Education). For myself: cinta selalu butuh alasan.

Lalu maukah kita mencari tahu, bagaimana Belanda meraihnya? (Yuhuuu!!!…yang diam berarti mau).

Dina Banjarnahor, salah satu temanku yang melanjutkan pendidikan di Wageningen UR, bercerita bagaimana kehidupan pendidikan di Belanda:

Disini lim, orang-orangnya tepat waktu, laki-laki perempuan setara, gak ngurus urusan oranglain, gak ngurus agama oranglain, bahkan student belanda sangat berani ngomong dan kadang-kadang mendebat dosen bila perlu dengan argument yang tepat tentunya. Gak ada senioritas dan mereka sangat menghargai kebebasan berpendapat dan kesetaraan manusia” (rekaman percakapan facebook di suatu malam sekitar awal April 2012).

Kata-kata Dina kumaknai melalui pencarian kebenaran dari berbagai sumber. Tadaaa!!!….<Pendidikan>. Culture dan sistim pendidikan Belanda membentuk manusia berpikir kreatif. Hasil karya kreatif tersebut melahirkan mahkluk bernama “kreasi”.

Kreasi menjadikan bendungan penahan abrasi di daerah bawah permukaan laut. Kreasi membentuk inovator mobil terbang, energi tata surya, seni kontemporer. Bahkan kreasi mendirikan “condemerie”, toko menjual alat-alat seksual kondom berbagai ukuran dan model serta menjadikannya kampanye pencegah HIV/AIDS (Jangan salah, ini tidak bermaksud ponografi!). Gambaran tersebut ingin mengukuhkan bagaimana kesuksesan sebuah pendidikan, sehingga hal tabu sampai hal langit, serta merta dikemas Belanda menjadi mahakarya.

Sepertinya Indonesia memang butuh belajar terhadap pendidikan Belanda. Aku jadi ingat Acara Kick Andy, 13 April 2012 #Tema: Mengejar Mimpi. Salah satu yang hadir tokoh pendidikan Arief Rahman Hakim, diminta pendapatnya terhadap bintang tamu yaitu anak-anak miskin yang berjuang menggapai pendidikan. Beliau mengatakan, “…sekarang saatnya guru-guru mengajarkan muridnya untuk kreatif. Kita dulu diajarkan,”…ibu memasak di dapur, pasti bapak…? Penonton yang lain riuh tertawa seraya menjawab “…baca koran” atau kalau disuruh gambar, “dua gunung pasti di tengah-tengahnya? ….matahari” atau “guru berkata,”yah…kalau kamu rangking 40 pastilah enggak naik kelas”. Pendapat itu bersifat satir tapi itu fakta dan bahkan mungkin aku, kamu dan kita semua adalah korbannya.

Tiba saatnya aku…ke Belanda. So…where is my ticket? I need now.

– ditulis oleh May Lim Charity

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s