#59 Memanusiakan Manusia Lewat Desain

Memayu Hayuning Bawono,
Ambrasto dhur angkoro 
(Manusia hidup di dunia harus mengusahakan
keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan;
serta memberantas sifat angkara murka,
serakah dan tamak.)
– pepatah Jawa –
Kehadiran Belanda dalam catatan panjang sejarah di Indonesia membuatnya meninggalkan kesan khusus dalam benakku. Meskipun secara khusus belum pernah aku menginjakan kaki di Belanda, tapi sebagian energi dan memori darinya bisa dirasakan di sini, di Jogjakarta, kota tempatku lahir dan tumbuh. Khususnya jejak-jejak itu terasa melalui sisa-sisa peninggalan arsitektur dalam bangunan dan tata kotanya.
Aku sangat sepakat dengan perkataan YB. Mangunwijaya, bahwa pada dasarnya desain harus memanusiakan manusia. Nilai dan logika macam inilah yang terasa  dari cara Belanda menata kota dan arsitektur bangunan yang ada di sini. Karena bahkan tanpa perlu berteori, keberhasilan desain yang berorientasi pada manusia dapat dirasakan dengan panca-indra.
Jalan P. Mangkubumi – Malioboro Yogyakarta (1948)
Daerah Kota Baru Yogyakarta (1937)
Hal itu tampak dari bagaimana komposisi ruang dan jalan ditata dengan memprioritaskan kenyamanan untuk pejalan kaki dan pesepeda. Trotoar yang lebar dan besar, dengan pohon di sisi-sisinya menunjukan bahwa jalanan ini memberi ruang untuk manusia. Sehingga kadang ironis ketika melihat situasi saat ini yang kontras, dengan  trotoar yang makin sempit, jalan yang makin lebar, dan laju mesin jadi prioritas utama. Pejalan kaki dan pengayuh sepeda harus berebut jalan dengan kendaraan bermotor, dengan segala resikonya.
Pertambahan jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat,
tidak sebanding dengan kapasitas jalan yang tersedia. 
(sumber gambar: http://www.kotajogja.com)
Di Belanda sendiri sampai saat ini mampu mendesain kebijakan transportasi yang manusiawi, dengan keberhasilannya menciptakan ruang serta tatanan yang ramah bagi pesepeda dan pejalan kaki. Bahkan sejumlah negara bekerjasama dengan Belanda dalam menyusun kebijakan sepedanya.[1]

Salah satu contoh desain / tata kota humanis di Belanda adalah struktur spasial Houten, kota baru di sekitar Utrecht dengan penduduk 43.000 jiwa. Stasiun kereta dan pusat perbelanjaan berada di pusat kota, dengan perkantoran & fasilitas-fasilitas penting publik berada di seputarnya.  Daerah pemukiman kemudian dibangun mengelilinginya. Dari pusat kota, terdapat jaringan rute yang menyebar  langsung menuju daerah pemukiman (yang dikhususkan untuk pesepeda dan pejalan kaki). Meski demikian, mobil tetap bisa menempuh ke area manapun. Hanya saja, lalu lintas mobil wajib melalui jalan lingkar (ring road) untuk menuju area pemukiman satu ke lainnya, atau menuju pusat kota. Jadi pada akhirnya berjalan kaki atau bersepeda bisa menjadi pilihan menarik & lebih cepat.[2]

Teknologi terus bergerak maju, tapi tradisi bersepeda tetap dipelihara. 
Sepeda tidak perlu ruang yang besar, baik di jalan maupun di tempat parkir. 
(sumber gambar : “Cycling in The Netherlands”,
keluaran Ministerie van Verkeer en Waterstaat tahun 2009 )
Sepeda bebas emisi dan polusi suara. 
Sepeda adalah alat transportasi yang sehat, dan manusiawi.
(sumber gambar : “Cycling in The Netherlands”,
keluaran Ministerie van Verkeer en Waterstaat tahun 2009 )
Aku percaya bahwa seni (termasuk arsitektur dan tata kota) memiliki kemampuan untuk merekam memori dan energi suatu jaman, termasuk pula untuk membuka kesadaran masyarakatnya. Motor penggeraknya  adalah kepekaan, dan kreatifitas. Kepekaan adalah kemampuan kita untuk melihat, untuk mengalami, untuk memahami, dan menghayati hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Dan kreatifitas buatku secara pribadi adalah suatu penciptaan sinergi atas fungsi, estetika, filosofi, dan kemanusiaan dalam wujud aksi yang nyata.  Perkawinan dari kepekaan dan kreatifitas inilah yang ikut serta membangun peradaban dan kebudayaan manusia. Inilah yang kita butuhkan!
Sepeda kayuh dan mobil tidak perlu berebut ruang di jalanan. Semua telah dijamin haknya.
(sumber gambar : “Cycling in The Netherlands”,
keluaran Ministerie van Verkeer en Waterstaat tahun 2009 )
Didasari oleh faktor geografis dan sejarahnya, bangsa Eropa, termasuk pula Belanda, memiliki kecenderungan pada rasionalitas, dan “melawan sesuatu lingkungan terhadap sesuatu, atau pembebasan atas sesuatu”[3]. Di dalam atmosfir itulah kepekaan dan kreatifitas mereka tumbuh. Berbeda dengan kultur Jawa yang  dengan segenap kebaikan dan kekayaan alam akhirnya menemukan konsep keharmonisan dengan alam, bukan justru melawannya.
Dalam konteks tersebut, keterbatasan tanah dan peningkatan kebutuhan lahan pemukiman dan turunannya telah membuat orang-orang Belanda memacu diri untuk terus bisa berkreasi, berinovasi, hingga menggiring pada penemuan sistem pengairan, membangun tanggul, mereklamasi pantai, mengatur peringkat air (bukti nyata kreatifitas ini adalah bandara Schipol, meski letaknya 5m dibawah permukaan laut, dia tetap berfungsi optimal, kokoh berdiri tanpa terendam air) [4].

Bukan bermaksud menimbang masalah ini secara biner dalam kotak benar-salah atau mana yang lebih unggul dari yang lain, tapi perlu dipahami bahwa inilah perbedaan sudut pandang dan penyikapan atas gejala-gejala alam dan kehidupan. Tapi mengapa tidak kita belajar dari padanya kalau memang dirasa perlu?

Masalah perkotaan di Indonesia makin kompleks. Rasa-rasanya perlu buat kita berefleksi dan belajar dari Belanda. Khususnya tentang penataan kota yang lebih humanis. Sudah tak bisa disanggah bahwa saat ini kita telah mengamini modernitas. Artinya dengan sadar kita pun seharusnya juga siap secara mental atas kemajuan ini.

[1] Lihat “Cycling in The Netherlands”, keluaran Ministerie van Verkeer en Waterstaat tahun 2009, halaman 4
[2] ibid, halaman 54
[3] Pengertian ini ditulis oleh Romo Mangun dalam “Wastu Citra” (1988:196), mengutip dari Grand Larousse Encyclopedie (1960): “L’Architecture se propose avant tout de satisfaire a des besoins materiels : loger les diverses activites de l’homme” (Tugas arsitektur yang paling pertama adalah memenuhi kebutuhan-kebutuhan material : memberi perumahan bagi berbagai aktivitas manusia.)
[4] seperti ditulis oleh Rosihan Anwar dalam  “Napak Tilas ke Belanda : 60 tahun Perjalanan Wartawan KMB 1949”. (2010:82)
– ditulis oleh Timoteus A. Kusno
Iklan

4 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

4 responses to “#59 Memanusiakan Manusia Lewat Desain

  1. iyumiyum

    Mau nyoba ikut ngomong mas, semoga nggak OOT.. hehe

    Pada dasarnya sebuah proses desain adalah seperti proses kehidupan, dimana akan selalu terjadi perubahan posisi, kadang di atas, kadang di bawah, kadang bergerak, dan kadang tidak bergerak. Merancang sebuah ruang gerak yang cukup besar yang disebut dengan perkotaan, memang sudah seharusnya menggunakan paramater manusia sebagai penggunanya, bagaimana fungsi manusia sebagai makhluk yang memiliki akal sehat, apakah kenyamanan itu akan tercapai ketika desain yang dirancang sudah mencapai titik untuk diwujudkan. Keselarasan antar elemen desain sangat harus diperhatikan untuk mencapai kenyamanan dan tidak melupakan estetika.

  2. Welly

    Saat pemangku kebijakan bersedia jujur akan apa yang terbaik yang bisa diberikan dan dimiliki masyarakatnya tanpa melupakan alam maka harmoni pembangunan bisa terjadi. Dari sini akan lahir banyak kebaikan di tengah masyarakat. Semua merasa bahwa “kota ini adalah rumah ku dimana kenyamanan selalu ada d hati”. Ayo, kita butuh perubahan!

  3. kodokijoproyek

    apik jo !

  4. riflemanprofessional

    emang harusnya tiap langkah perancangan diperhatikan dan disesuaikan sama manusianya.yakin deh kalo semua gitu akhirnya esensinya balik lagi..ya untuk manusia!..bener banget…sepakat dah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s