#55 Terpukau Dance Works Rotterdam

Satu kali dalam satu pementasan, saya dibuat terpukau dan terpaku. Para penari yang tergabung dalam Dance Works Rotterdam membawakan koreografi yang membuat takjub, dan memberi inspirasi yang membuat saya menulis.  Begini kira-kira apa yang saya rasa saat itu.

Dua koreografer ternama yang digabungkan oleh Dance Works Rotterdam malam itu, kalau tidak salah medio Juni 2008, benar-benar menyuguhkan tarian kontemporer yang memukau di Gedung Kesenian Jakarta. Melihat tarian yang cepat, tangkas dan tegas membuktikan bila kedua koreografer tari tersebut, Ton Simons dan Stephen Petronio pantas dipuji.

Mengambil judul “Rotterdam/New York”, pertunjukan tari malam itu menggabungkan dua karya dari koreografer Rotterdam dan New York, Simons dengan Mortal Coil dan Petronio dengan Lareigne.

Tampil di sesi pertama, Mortal Coil yang berdurasi sekitar 45 menit diiringi musik berirama rap dari lagu hit rap Eminem berjudul “Lose Yourself” dan sentuhan melodi nada-nada Mozart.

Dengan kostum ketat berwarna hitam, tarian Simons menggabungkan keceriaan dan kesedihan, yang kadang bertempo cepat kadang lambat. Musik pun mengiringi dengan sekali-kali intermezzo. Liukan tubuh penari tak kalah menarik karena tarian yang dibawakan tidak melulu lemah gemulai tapi tegas dan berpower. Lompatan dan putaran penari memperlihatkan otot dan lekuk tubuh sang penari.

Sementara Petronio dalam Lareigne yang berdurasi 25 menit mengiringi tariannya dengan The Strangles, No More Heroes. Dengan kostum ketat putih yang menampilkan lekuk tubuh, penari tampil maksimal dengan liukan yang juga tegas dan memukau mata penonton. Penampilan solo di sela-sela tarian mendapat applause yang meriah.

Tidak mengherankan sekiranya bila beberapa kritikus seni dan media memuji kedua koreografer tersebut. Sebut saja, Het Parool yang memuji Simons dengan mengatakan pendalaman Simons telah berhasil menciptakan tarian yang paling orisinal dan terjaga kualitasnya. Begitu juga Petronio yang dipuji Daily Telegraph, dengam memuji ciri khas tarian Petronio; diantaranya ketepatan sempurna, intensitas yang berkembang, kalimat visual organik akan lompatan dan putaran yang selaras.

Kedua koreografer juga telah mendapat sejumlah penghargaan dan dipercaya untuk membuat repertoire dari sejumlah kelompok tari ternama di dunia internasional seperti The Washington Ballet.

Petronio yang membawakan Lareigne dikenal sebagai koreografer inovatif di dunia tari internasional. Karya-karyanya selalu mengombinasikan elemen-elemen dari teknik lepas dan hubungan improvisasi dengan klasisisme. Untuk karyanya-karyanya, ia tidak hanya bekerja dengan musisi kontemporer dunia, tapi juga desainer yang menggabungkan dinamika eksplosif dan pengungkapan gaya tari penuh kemampuan. Karya yang ditampilkannya malam itu merupakan salah satu tari terbaik yang ditawarkan di New York.

Sementara Simons, yang memulai karir sebagai penari professional sejak 33 tahun lalu membawakan karya yang benar-benar matang tidak hanya dari segi tari tapi juga lighting atau pencahayaan, musik dan kostum. Untuk Mortal Coil yang tampil malam itu, Simons mengajak disainer lulusan Akademi Mode Vogue di Amsterdam, Edith Ordelman yang berpenglaman.

Namun, kesuksesan Dance Works Rotterdam malam itu tidak bisa dipisahkan dari 11 penari yang tampil sangat penuh totalitas di atas panggung. Dengan memakai kostum ketat yang menampilkan lekuk tubuh, tujuh perempuan dan lima laki-laki sanggup membuat mata penonton tidak beralih, bahkan sedetik. Setiap gerakan yang dibawakan penari baik solo ataupun bersama tampak begitu indah dan sayang untuk dilewatkan.

Inilah kelebihan dari kelompok tari yang pada malam pertunjukan tersebut ramai dikunjungi penonton. Hanya sedikit bangku penonton yang tampak kosong. Perpaduan antara pembaruan koreogarfis tingkat tinggi dan semangat para penari yang kreatif dan secara teknis sangat ahli di bidangnya menjadikan pertunjukan malam itu begitu istimewa.

Kecepatan tari dengan lompatan dan putaran yang tegas dibawakan sempurna oleh hampir semua penari. Tidak mengherankan bila di akhir pertunjukan semua penonton memberi applaus panjang sekitar tiga menit untuk para penari.*

Tulisan mengenai Dance Works Rotterdam ini pernah terbit di Koran Jakarta dan saya muat di blog indrarahman.blogspot.com.

– ditulis oleh Rahman Indra

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s