#56 Negeri van Orange

Pada suatu senja, suasana kelas Falsafah&Agama Universitas Paramadina (baca: kelas penulis) lengang tanpa suara dan para mahasiswa sibuk beraktivitas sendiri untuk menunggu dosen tiba. Dengan sengaja penulis berteriak dengan kencang, ??Ada yang tau nggak kenapa Belanda identik dengan nama Orange???, seketika sepi pun buyar diusir dengan suara sahut-menyahut teman-teman penulis berebut untuk menjawabnya. Wajar saja penulis berada di kalangan mahasiswa filsafat yang konon santer dengan kedalaman pengetahuannya, meski dari jurusan lain banyak yang menganggap ribet dengan bahasanya yang terlampau tinggi. Yang pasti perdebatan di kelas sore ini telah menghabiskan waktu 3 sks (berhubung dosen telat datang 2 jam) bagi penulis merupakan sebuah inspirasi untuk mengisahkan sebuah kisah tentang Belanda.

Seorang teman yang dipercaya sebagai ahli Eropa pun maju ke depan kelas dengan berlagak layaknya dosen memulai menjawab pertanyaan penulis dengan asal-usul ??Glorius Revolution??. Dongeng panjang tentang sosok William van Orange pun mewarnai hiruk-pikuk kelas. Sekali lagi kelas filsafat sedikit ricuh dipenuhi kontroversi pendapat antara filsuf yang satu dengan yang lainnya. Namun tanpa menodai pembicara utama yang telah berdiri di depan kelas lengkap dengan spidol dosen di tangannya tak terkecoh untuk berhenti melanjutkan kisah tentang William van Orange.

William dari Orang (dalam Belanda: Willem van Oranje) adalah seorang bangsawan ambisius yang tumbuh menjadi seorang pemimpin dan kemudian dihormati sebagai “bapak negara”, yaitu sebagai pendiri dari negara Beland. William adalah pemimpin utama Belanda yang melakukan pemberontakan melawan Spanyol sebagai pemicu Perang Delapan Puluh Tahun dan mengakibatkan kemerdekaan formal dari Provinsi Serikat pada 1648. Dia lahir di Rumah Nassau sebagai Count dari Nassau-Dillenburg. Ia menjadi Pangeran dari Orange pada 1544 dan karenanya Ia dinobatkan sebagai pendiri Gedung cabang dari Orange-Nassau. Dia sendiri tidak pernah membayangkan munculnya sebuah negara merdeka. William lahir tahun 1533 di Dillenburg Castle di Jerman. Orang tuanya adalah Lutheran, tetapi ketika ia mewarisi kerajaan dari Orange di Perancis pada 1544, orang-orang menyebut dirinya sebagai “Pangeran”, kaisar Charles V bersikeras bahwa sang pangeran muda dibesarkan sebagai seorang Katolik. Untuk alasan ini, dari usia dua belas William dibesarkan di istana kerajaan di Brussels.

Setelah terjadinya kerusuhan penghancuran berhala di gereja-gereja, William melarikan diri ke Dillenburg. Dari tempat inilah, mulai tahun 1568 dan seterusnya, beliau melakukan beberapa serangan militer ke Benelux (Belanda, Belgia, Luxembourg) untuk menaklukkan kekuasaan Pangeran Alva. Beliau juga menggunakan propaganda (pamflet, lagu-lagu mars, kartun) dalam peperangan tersebut. Salahsatu produk dari masa ini adalah lagu kebangsaan Belanda, Wilheminus. William tidak memperoleh banyak kemenangan pada awalnya. Baru ketika para Pengemis Laut menangkap Den Briel secara tidak sengaja pada tanggal 1 April 1572 barulah kaum Pemberontak memperoleh dukungan yang luas.
Berlawanan dengan perkiraan banyak kalangan, kaum Pemberontak di Holland dan Zeeland bertahan cukup lama, sebagian besar karena keteguhan hati William van Oranje. Melalui Perdamaian Ghent tahun 1576 kaum pemberontak bahkan berhasil membuat beberapa kesepakatan dengan berbagai propinsi. Impian William van Oranje tampaknya dapat teraih : pengembalian tujuh belas bagian negara Benelux Burgundian kepada kekuasaan kaum bangsawan, dan penyelesaian berbagai konflik agama, berdasarkan toleransi. Namun demikian, usaha penyatuan itu tidak bertahan lama.

Pada tahun 1580, Philip II memberikan hadiah bagi siapa yang dapat menyerahkan William van Oranje. Reaksi William adalah dengan menulis Apologie (pembelaan diri), sementara Jendral Negara-negara Bagian yang memberontak menyampaikan sebuah Plakkaat van verlatinghe (plakat perpisahan). Kedua dokumen ini mempunyai pesan yang sama : perlawanan mereka dianggap layak karena raja bersikap sebagai seorang tiran. Pada tanggal 10 Juli 1584 seorang Katolik, Balthasar Gerards, menembak William van Oranje dan kemudian mengakhiri hidupnya sendiri. William belum meraih apapun, namun kurang dari dua puluh lima tahun kemudian berbagai propinsi yang memberontak berubah menjadi sebuah Republik yang penuh percaya diri dan William van Oranje dianggap sebagai Bapak Pendiri dari negara yang baru tersebut. daerah tersebut konon yang saat ini kita kenal dengan sebutan BELANDA.

Kisah ini belum usai namun sayang dosen yang sudah telat kebangetan itu pun nekat untuk masuk dan melanjutkan perkuliahan yang telah melampaui waktu sebenarnya. Penulis sepakat untuk mengakhiri kisahnya mengenai William van Oranje sampai di sini. Adapun hasil paparan teman penulis di atas berasal dari saduran yang diambil dari beberapa sumber di internet dan media source lainnya.

– ditulis oleh Lutfi Khoiri

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s