#62 Angin Semilir dari Nederland

Sabtu pagi, dengan bus kecil kami menuju hutan pendidikan Wanagama, Gunung kidul , Yogyakarta , untuk  melakukan praktikum lapangan silvikultur.  Setibanya dilokasi, kami disambut bau khas lembab lantai hutan serta sersah daun pohon jati ( Tectona grandis ) yang terdekomposer, ini membuatku dan teman – teman lebih bersemangat untuk melaksanakan praktikum. Lokasi praktikum diadakan pada petak tegakan hutan jati yang bersebelahan dengan tegakan mahoni, yang jaraknya sekitar 4 kilo meter dari lokasi kami diturunkan. Dan kami harus menempuh jalan dibawah tajuk itu dengan semangat, sepanjang jalan kami bersenda gurau semambil menenggak minuman bekal yang kami bawa. Kakak Pemandu praktikum berjalan dibelakang kami. Licin jalan akibat batuan kapur yang tergerus lumut membuat kami lumayan lelah . “Setelah naik lalu turun dan itu disana tegakan yang harus kalian buat petak ukur” ujar kakak itu. Sesampainya dilokasi kakak ini menyiapkan tali meter utuk mengukur diameter pohon jati yang ada dan menaksir tingginya dengan haga meter. Ternyata bapak dosen dan ibu dosen sudah menunggu di lokasi, pengarahan dan penjelasan sedikit tentang apa yang harus kami lakukan dilakukan oleh beliau.” Ternyata kayu jati begitu istimewa”, ucapku. “Iya memang “ , kata bapak dosen . “Dahulu Belanda juga ikut andil dalam pengolahan hutan jati dijawa ,buktinya yaitu tahun 1808 – 1890 Boschwezen ( Pemerintah Hindia Belanda ) melakukan percobaan pembangunan hutan tanaman jati dan kehutanan setelah hancurnya hutan jati di pulau jawa tahun 1650 – 1800 atau tepatnya akhir abad ke – 18 karena dominasi VOC. Tahun 1890 – 1942  Boschwezen berhasil membangun hutan tanaman jati di pulau jawa dan diadakan pengaturan azaz kelestarian berdasar pada pradigma timber managemen yang mana hutan jati dijawa terjaga akan produksi kayu  dengan kelestarian ekosistemnya.” Ternyata zaman dahulu hutan jati sudah sangat diistimewakan dan dijaga. “ , ujar temanku , sambil melingkarkan pita meternya pada batang pohon jati. Mengalir keringat dari jidat , sekitar 100 pohon telah kami selesaikan. Data yang kami dapat akan diolah lebih lanjut dalam hitungannya. Setelah pengukuran itu kami menuju jalan setapak yang ada dibawah tegakan jati memisahkan antara sungai dengan tegakan jati itu. Deras aliran sungai terdengar bersama bunyi gareng pung yang nyaring “ ngerrr r r r”,ditambah lagi semerbak harum daun jati yang hijau bercampur dengan daun yang kering dilantai hutan menambah kenyamanan kami, “sebuah pengalaman “ujarku dalam hati. Kelompok lain sepertinya juga sudah selesai. Lalu segera kami menuju tempat penurunan kami tadi. Disana ada mushola untuk melaksanakan solat dzuhur , makan siang pun menanti disana. Sesampainya dipenurunan, kami lalu bergegas solat dhzuhur lalu menuju samping bus untuk makan siang bersama detemani semerbak bau kringat dan semangat rimbawan muda fakultas kehutanan.  Angin berhembus semilir membawa mimpi dalam angan seiring kutenggak air putih didalam botol, setelah kunyahan terakhir makan siang .

– ditulis oleh Syakuf Raik

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s