#82 Perempuan-perempuan Perkasa di Belanda

Perempuan Belanda bekerja 2 jam lebih lama daripada pria. Jumlah pekerja perempuan bertambah hingga 70 % pada jenis pekerjaan paruh waktu. Jumlah ini meningkat dengan cepat, dibandingkan pada era 80-an yang hanya berkisar pada 35 % perempuan yang bekerja.[1] Peningkatan pekerja perempuan  ini tidaklah aneh, karena Belanda adalah sebuah negara yang sangat memperhatikan keseimbangan antara bekerja dengan kehidupan warga negaranya. Oleh karena itu, pada tahun 2011, sebuah organisasi yang bernama OECD menghasilkan studi bahwa Belanda meraih terbaik ketiga pada bidang work-life balance. Ruang lingkup dari work-life balance yang dikemukakan OECD, didasarkan pada variabel utama, yaitu: 1). Proporsi tenaga kerja yang memiliki jam kerja sangat panjang (lebih dari 50 jam per minggu); 2). Waktu yang digunakan untuk “rekreasi dan aktivitas pribadi” (misalnya bermain komputer, bersenang-senang bersama keluarga, melakukan hobby, dll); 3). Tingkat ketenagakerjaan bagi wanita yang memiliki anak.[2]

Perempuan yang telah memiliki anak akan mengalami kesulitan ketika harus memilih untuk bekerja atau untuk mengurus anak. Sementara pada anak usia pra sekolah sangat berat bagi mereka untuk ditinggalkan orang tua terutama ibu mereka. Sehingga mayoritas ibu akan memilih untuk bekerja setelah anak mereka telah memasuki usia sekolah. Hal ini dianggap sebagai solusi terbaik bagi banyak keluarga dan pekerja yang sukses. Studi dari OECD menyebutkan bahwa sebanyak 66% ibu bekerja setelah anak-anak mereka memasuki usia sekolah.[3] Dengan demikian tidak ada pilihan untuk meninggalkan anak-anak ataupun tidak bekerja sama sekali. Karena bagaimanapun juga warga negara yang bekerja akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sedangkan anak-anak yang dididik dengan baik dalam keluarganya adalah investasi yang berharga bagi suatu negara. Pekerja dan anak-anak menjadi perhatian utama bagi Belanda untuk mencapai kemajuan yang diinginkan.

Keseimbangan antara bekerja dengan kehidupan telah berhasil diraih oleh negeri yang dikenal lewat kincir anginnya ini. Tak ayal lagi, Belanda pun mendapat penghargaan sebagai negeri paling bahagia ke-4 di dunia. Salah satu yang menjadi pertimbangan adalah keluarga yang stabil.[4] Di belanda walau warga negaranya bekerja namun mereka memiliki perhatian yang besar untuk merawat anak-anak mereka dengan cinta dan kasih sayang. Ayah dan ibu Belanda punya waktu luang untuk bercengkerama dan bercanda dengan anak-anak mereka di rumah. Pekerjaan sama pentingnya dengan kebahagiaan rumah tangga.

Penghargaan Belanda terhadap kodrat perempuan sebagai seorang ibu yaitu tidak membatasi warga negara perempuannya untuk berkarir dalam bidang pekerjaan. Semua dilakukan secara terencana dan penuh perhitungan. Kebijakan pemerintah Belanda dalam mengatur kehidupan warganya patut diacungi jempol. Hal ini sangat berguna untuk memerangi kemiskinan dan angka perceraian yang makin tinggi dewasa ini. Perempuan yang mandiri secara finansial akan memiliki keberanian untuk mendapatkan haknya. Mereka mampu untuk mendaya gunakan kemampuannya untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Para perempuan yang kuat dalam menjalani kehidupan akan lebih dihargai oleh orang-orang di sekitarnya. Menjadi istri dan ibu yang hebat bukanlah suatu khayalan. Ini adalah sebuah kenyataan yang tengah diraih.

– ditulis oleh Ria Dewanti

Iklan

32 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

32 responses to “#82 Perempuan-perempuan Perkasa di Belanda

  1. dody

    mantab daah…

  2. Dear Ri,
    Sorry baru sempet leave comment sekarang.. 🙂
    Pertama, salut buat tulisanmu ini karena telah memberikan pengetahuan baru buatku tentang keberhasilan wanita dalam menjalankan perannya sebagai dalam keluarga sekaligus karir disana. Jujur aku ga banyak tau tentang kebijakan2 di Belanda seperti apa, termasuk mengenai aturan ketenagakerjaannya disana. Mungkin lebih bagus jika ditambah data tentang kepuasan kerjanya mereka bagaimana? Sehingga akan bisa kita ketahui juga, faktor2 apa saja yang menjadi motivasi bagi mereka sehingga mereka memilih untuk berkarir dibanding murni menjadi ibu rumah tangga.
    Mungkin sekedar tambahan opini aja dari aku, ada satu hal menarik yang aku tangkap disini. Membaca dari tulisanmu:
    “Perempuan yang mandiri secara finansial akan memiliki keberanian untuk mendapatkan haknya. Mereka mampu untuk mendaya gunakan kemampuannya untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Para perempuan yang kuat dalam menjalani kehidupan akan lebih dihargai oleh orang-orang di sekitarnya”
    Apakah disana semakin mandiri seorang wanita, semakin cemerlang karirnya, dan semakin tangguh dirinya, justru sangat dihargai oleh laki2 ya? dan bukan menjadi masalah bagi laki2 jika pasangannya (mungkin) lebih mampu menghidupi keluarga?
    Karena di Indonesia ini, ego laki2 masih sangat tinggi. Mereka tidak mau “kalah” dengan wanita, pun sebaliknya, wanita juga tak mau kalah dengan mereka (emansipasi sih katanya.. :p) Tapi justru hal ini menjadi rawan konflik, kasus perceraian juga tak sedikit karena ketidakharmonisan antara suami istri dikarenakan sosok istri yang lebih dominan serta lebih sukses dari suami, sehingga si suami merasa terintimidasi.
    Nah ya, mungkin beda culture atau pola pikir atau apa. Tapi itu opini sampingan aja sih. :p
    By the way, good job Ri. Nice article!
    Good luck buat kompetisinya yaa.. 🙂

    • ria

      Terima kasih mbak Mustika komentarnya. . 🙂
      Jaman yang serba kompleks dan penuh pengeluaran seperti sekarang ini tak dapat dipungkiri turut mengubah persepsi masyarakat tentang perempuan dan karir. Sudah bukan saatnya lagi untuk perempuan yang hanya tinggal di dalam rumah dan mengurus anak. Apalagi didukung dengan tingkat pendidikan yang tinggi antara perempuan dan laki-laki. Bahkan sebagian perusahaan besar di dunia menerapkan sistem yang sama dalam hal posisi laki-laki dan perempuan. Walaupun di Belanda sendiri, pekerjaan yang paling diminati oleh perempuan Belanda adalah kerja part time.
      Kedisiplinan Belanda dalam menghargai waktu mnyebabkan upah tenaga kerja sangat dihargai. Hal ini memperluas kesempatan kerja bagi warga negara yang ingin mendapatkan penghasilan.
      Mengenai keharmonisan rumah tangga tentu ada banyak faktor di dalamnya. Kerja sama antara perempuan dan laki-laki dalam membina rumah tangga serta memiliki pengertian yang baik tentang karir akan mengurangi tingkat pertengkaran. Lagi pula seorang pria tak dapat bersikap egois di Belanda dengan melarang istrinya untuk bekerja. Karena bagaimanapun juga penghasilan seorang pria saja tidak akan cukup untuk membiayai segala kebutuhan terutama masa depan anak mereka di bidang pendidikan dan kesehatan. Suami dan istri perlu membiasakan diri untuk menimba ilmu pengetahuan tentang keharmonisan rumah tangga, melalui seminar maupun pelatihan. Apabila ada masalah yang mengancam rumah tangga maka sebaiknya mereka menghubungi konsultan pernikahan.

  3. artikel yang keren. Disini kita bisa ambil pelajaran bahwa sebagai wanita kita tidak harus memilih antara keluarga dan karir.

    kalo diterapkan di Indonesia, mungkin akan terasa sulit tapi bukan sesuatu yang mustahil. Tergantung bagaimana wanita Indonesia menyikapinya. Bagaimana dia menyikapi posisi dia dalam kehidupan sehari – hari. Benar – benar penjabaran tentang wanita di masa depan. Dimana wanita dituntut untuk mandiri.

    good job ria

    • ria

      Terima kasih Ririz komentarnya.
      Belanda memiliki keunggulan dalam mengatur jam kerja dan kehidupan pribadi warganya. Sehingga para perempuan Belanda tidak merasa terintimidasi sekalipun memiliki aktivitas yang padat dalam pekerjaan. Hal ini menyangkut ketangguhan pemerintah dalam merumuskan aturan. Serta ketangguhan warganya untuk memiliki etos kerja yang tinggi. Sehingga mereka dapat memiliki pendapatan yang cukup untuk kesejahteraan keluarganya.

  4. ayu novita raga

    Ketentuan penulisan dalam lomba ini adalah tulisan peserta memuat pengetahuan, pendapat, serta pengalaman individu sesuai dengan tema yang telah ditetapkan oleh panitia.Hanya saja saya belum menjumpai point “pengalaman individu ” dalam tuli…san mba. Qt bisa berikan contoh sederhana dari negara qt sendiri dan kemudian membandingkanya dengan fakta-fakta di lapangan mengenai dominasi kaum wanita di Belanda. Misalnya Bali, tradisi di pulau dewata ini berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia karena perempuanlah yang berperan sebagai tulang punggung keluarga. Akan tetapi pencapaian gemilang para wanita negeri kincir angin tsb belum bisa terealisasi di Indonesia, khususnya Bali. Kesenjangan realita ini bisa menjadi topik tambahan menarik untuk dibahas dalam tulisan mba. Tapi sekali lagi ini hanya pendapat saya, semoga bermanfaat…

    • ria

      Terima kasih dek Ayu kritikan membangunnya . . .
      Bisa menjadi pelajaran bagi tulisan saya selanjutnya.

    • ria

      Pengalaman individu yang saya tulis dalam artikel ini adalah segala pemikiran dan aktivitas saya sebagai seorang perempuan. Bagaimana saya menghargai kehidupan yang saya miliki juga keputusan saya untuk berkeluarga nantinya serta bagaimana cara mengatur waktu untuk diri sendiri, suami dan anak. Saya pikir seorang perempuan harus mengetahui sejak dini mengnai hal-hal apa saja yang harus disiapkan ketika berkeluarga nantinya. Karena dengan pertimbangan yang matang, keberanian untuk cerdas, seorang perempuan akan dapat memberikan peran besar bagi lingkungan sekitarnya.

  5. Andreas

    Ada yang kurang kmu tidak menjelaskan OECD itu organisasi apa kepanjangannya, bergerak di bidang apa, kapasitas dan kapabilitasnya, ada lembaga atau institusi lain yang terpilih malah Austria, nah kaan?tapi utk tema dan hasil penelitiannya yakni ttg pekerja wanita sangat menarik

  6. nurul syamsyiati

    perempuan yang luar biasa, jika dia bisa mengatur waktux buat keluarga ,anak2x dan bisa tetep beraktifitas dengan kesibukan kerjaanx.

    • ria

      Terima kasih Nurul komentarnya . .
      Semakin besar tantangan perempuan di masa akan datang, semakin besar pula peluang yang ada. Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki ternyata membawa banyak perubahan di dunia. Perempuan dan laki-laki tidak terpisahkan dalam peran. Masing-masing harus lebih perduli dengan kewajibannya. Serta memahami bagaimana akibat dari ketidak seimbangan yang terjadi apabila keduanya sama-sama egois dan hanya ingin menang sendiri.

  7. Wanita yang bekerja tanpa “menerlantarkan” keluarga, sepertinya adalah harapan bagi wanita yang memilih untuk bekerja. Statement “mayoritas ibu akan memilih untuk bekerja setelah anak mereka telah memasuki usia sekolah” mungkin salah satu solusi yang ditawarkan dalam hal ini.
    Pada akhirnya apapun pilihannya, wanita karir, ataupun ibu rumah tangga, semua wanita pasti mengharapkan yang terbaik untuk keluarganya.

    • ria

      Terima kasih Annis komentarnya . . .
      saya setuju sekali dengan keseimbangan hidup yang tengah diraih oleh perempuan Belanda saat ini. Keberhasilan dalam pekerjaan juga dan merawat anak-anak dan suami hingga berhasil. Inilah tantangan perempuan di masa depan. Di antara hasrat perempuan kota besar dan negara maju untuk hidup melajang, ternyata pernikahan tetap sesuatu yang istimewa dan dicita-citakan oleh sebagian besar perempuan. Bayangkan saja apabila banyak pria dan wanita melajang. Tentu negara akan kebingungan karena pertumbuhan warga negaranya menurun drastis. Untuk dapat mengelola kehidupan warganya dengan baik, pemerintah Belanda pun membuat kebijakan yang mendukung pekerjaan dan kehidupan warganya, baik laki-laki maupun perempuan.

  8. Muhaimin Rahayu

    keren mbk, sangat mencerahkan, lo dari saran aku setuja dengan beberapa coment diatas, yaitu ada sosok nyata yg ditampilan sebagai figur tauladan. mungkin perempuan yang expert di bidang seni..yang mana dekat dengan kreatifitas.
    dan sepertinya wanita Indonesia memang harus masih banyak belajar bagaimana mengaktualisasikan dirinya secara positif, supaya banyak perempuan indonesia yang terlahir menginspirasi. seperti yg satu ini (Mbk Ria) hehehehe

    • ria

      Terima kasih dek Imin komentarnya . .
      Sepertinya aku harus mengambil salah satu contoh perempuan Belanda yang jadi panutan. Betul juga, untuk memberikan bukti konkret. Karena tujuannya untuk menginspirasi dan menunjukkan dengan cara yang dekat tentang bagaimana sosok perempuan Belanda yang perkasa itu. Dalam sejarahnya, dipelajari bahwa negara Belanda dipimpin oleh seorang Ratu yang tentunya seorang wanita. Negara Belanda menganut sistem parlementer. Jadi Ratu berfungsi sebagai kepala negara. Sedangkan untuk menangani masalah pemerintahan, ada perdana menteri.
      Sedangkan untuk prestasi Belanda yang melibatkan para perempuan, aku lebih menonjolkan sisi terbaik mereka dalam menyeimbangkan kerja dan kehidupan pribadi. Istilah populernya ‘work life balance.’

  9. lina

    Balancing antara bekerja dan mengurus keluarga dengan terplanning secara jelas dan penuh perhitungan itu oke bgt! Emansipasi wanita yg benar bgt… Siasat wanita tdk bekerja hingga ank usia sekolah itu jg lumayan masuk dah…sukak…=D

    • ria

      Terima kasih Lina komentarnya . .
      betul sekali, orang Belanda benar-benar terencana dan sangat serius dalam mengurus segala keperluan hidupnya. Tidak hanya pernikahan, keluarga dan mengurus anak. Tapi juga lalu lintas serta berbagai bidang kehidupan lainnya. Orang Belanda patut diacungi jempol dalam hal kesadaran pentingnya merawat anak dan menjaga keutuhan keluarga. Mungkin ini juga ada kaitannya dengan situasi di Belanda yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Jadi dengan aturan yang mendukung kesejahteraan keluarga di Belanda, pemerintahnya berpikir betul tentang keberlangsungan generasi muda bangsa. Keluarga bahagia adalah awal dari negara yang bahagia. Bahagia datang karena memiliki kerja dan kehidupan pribadi yang seimbang.

  10. ida

    Negara mana peraih work-life balance 1 & 2?
    Artikelnya bagus kak, sangat membangun dan menginspirasi. Salah satu bentuk emansipasi bisa menunjukkan pada dunia bahwa wanita bisa melakukan hal yang benilai bagi diri sendiri, keluarga, bahkan mempertinggi perekonomian suatu negara. Namun tidak dipungkiri dengan kodratnya bahwa wanita tetaplah makmum bagi kaum lelaki…
    Nah misalnya ni kak untuk keluarga yang sederhana yang memiliki anak banyak dan belum sekolah… bagaimana menyiasatinya sementara mereka binggung memilih antara mengurus anak dan bekerja… moga sukses ya kak buat blognya…..

    • ria

      terima kasih dek ida atas komennya ^^
      nomor 1 australia dan nomor 2 austria, negara peraih work life balance. orang belanda takut punya banyak anak, apabila mereka tidak punya cukup penghasilan untuk membiayai segala kebutuhan mereka. itu sebabnya, orang tua di belanda semuanya bekerja, baik laki-laki maupun perempuan. kebanyakan pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan paruh waktu. dengan bekerja, selain memperoleh pendapatan mereka juga tetap bisa mengurus anak dan menggunakan waktu untuk bermain atau melakukan hobby. orang belanda bekerja selama sekitar 9 jam per hari. kepandaian dalam mengatur waktu inilah yang membawa negara belanda sebagai peringkat tiga keseimbangan pekerjaan dan kehidupan pribadi.

  11. Mitta

    artikelnya bagus…saya jd tambah ilmu & informasi…
    artikel ini bisa jg dijadikan contoh buat perempuan yg bekerja, dimana keluarga posisinya jg sangat penting ketimbang pekerjaan…
    semangat Ria…

    • ria

      Terima kasih Mitta atas komennya . .
      Inilah problem utama para perempuan: berjuang agar memiliki karier tertinggi, tapi di sisi lain juga punya tanggung jawab besar pada suami dan anak – anak. Di mana keduanya sangat penting. Tak bisa ditinggalkan salah satunya . .

  12. Ninin Herlina

    hmmm….
    saya jadi teringat novel ‘Bumi Manusia’, secara adat Nyai Ontosoroh adalah wanita pribumi yang dipandang rendah, tp kecerdasannya mampu mengurusi perusahaan suaminya (orang Belanda) sehingga dikenal sebagai wanita yg memiliki karakter. mgk bisa dibaca lagi sbg contoh perempuan perkasa yang ada dibumi jawa juga…
    artikelnya bagus, mengungkapkan fakta bahwa perempuanlah yang menjadi pelopor pembangunan bangsa, tidak terbantahkan bahwa “perempuan adalah tiang negara”, landasan filosofisnya keren,,,

    Bisa dilihat juga film Kita Vs korupsi, bagaimana perempuan juga memiliki peranan penting dalam mempertahankan keutuhan bangsa yakni dimulai dengan pembekalan pelajaran cinta kasih yang tulus terhadap generasi.

    Just begin from ourselves as superwoman!!!

    and have many thing to talk….hehehe…

    • ria

      Terima kasih komennya mbak Ninin Herlina,
      saya sering membaca berbagai kutipan tentang Nyai Ontosoroh. Seorang figur perempuan masa depan yang melampaui pemikiran para perempuan yang ada di jamannya. Dia tidak hanya berdiri di belakang suami, lalu menadah telapak tangan ke atas. Tidak demikian, Nyai Ontosoroh benar seorang perempuan yang bekerja, diakui, dan berkelas karena kepandaiannya.
      Ternyata ada banyak keunggulan negara yang dapat diraih berkat kemampuan para perempuannya yang memiliki daya juang dan kesadaran yang tinggi untuk berkarya, bekerja, menjadi agen-agen pembangunan bangsa. Tidak hanya di Indonesia, Belanda tapi juga di seluruh dunia.

  13. ria

    Terima kasih banyak Malika atas kritik yang membangun 😀
    banyak pelajaran yang dapat diambil dari para perempuan Belanda, maupun Indonesia dan dunia. Para perempuan masa kini telah beradaptasi dengan perubahan gaya hidup, serta aktivitas yang makin padat.
    Tapi saya masih mncari tahu siapa saya perempuan Belanda yang bisa dijadikan “contoh” dan sesuai dengan kriteria perempuan perkasa ini . . .

    mungkin, ada yang bisa kasih tahu saya?

  14. Malika

    Perempuan yang bekerja itu superwoman. Karena mereka bertanggung jawab pada 2 hal, keluarganya dan pekerjaannya. Dan itu luar biasa. Di Belanda, di Indonesia, atau dimanapun di dunia.

    Menurut saya secara umum artikelnya cukup menarik.. Terutama bagi perempuan-perempuan yang bekerja. Namun, menurut saya, akan lebih bagus lagi bila diberikan satu contoh sosok perempuan perkasa itu.

    Tapi secara umum sudah cukup baik kok.. 🙂

    Semangat Ria!! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s