#97 Belanda pun Terobsesi dengan si Mulus Tectona

Sejak sebelum saya lahir hingga sekarang tentunya telah tercipta berjuta-juta ide brilian di dunia ini. Kaitannya dengan Belanda, negara ini termasuk salah satu negara di dunia yang turut menyumbang terobosan-terobosan spektakuler, seperti kincir angin, penggusuran laut menjadi daratan, hingga taktik dalam bermain sepakbola ala Belanda juga pernah menjadi trend dunia. Bahkan menurut saya, keputusan Belanda untuk “berwisata” di Indonesiaalmost 350 tahun juga merupakan suatu inovasi luar biasa yang tak diragukan lagi mempengaruhi hajat hidup orang banyak (hehehe, mulai sotoy).

Nah, disini saya sebagai seorang rimbawan bau kencur yang baru saja lahir tidak akan membahas inovasi terbaru tentang teknologi, sains, atau tetek bengek lainya. Mengapa? Karena jika saya tetap memaksakan untuk menulis hal tersebut takutnya akan menjadi tulisan yang sesat. Hehehe

Menurut saya, ada satu terobosan yang pernah dilakukan Belanda, dimana peristiwa ini telah menjadi salah satu pondasi bagi tonggak sejarah kehutanan di Indonesia. Apa itu? Yak, jawabannya adalah“penanaman jati (Tectona grandis) besar-besaran di Pulau Jawa pada tahun 1600-an!” Penanaman jati yang diperintahkan oleh Belanda tersebut didasari atas kebutuhan kayu yang tinggi untuk pembangunan dan perang kala itu. Nah, disinilah kejelian Belanda memilih jenis jati karena jenis ini memang sangat cocok untuk ditanam di Pulau Jawa.

Penanaman ini tentu saja sukses besar karena hingga saat ini masih meninggalkan bekas seluas 2,4 juta hektar hutan jati di Pulau Jawa dan Madura yang sekarang dikelola oleh Perhutani. Bandingkan dengan kebijakan Jepang dahulu untuk menanam jarak yang gagal total. Walaupun jati-jati tersebut dulunya ditanam dengan membabat hutan alam, namun hilangnya hutan alam di Pulau Jawa sebenarnya hanya masalah waktu. Jika saat itu tidak ditanami jati, pasti saat ini hutan alam tersebut sudah berubah menjadi mall, perumahan, atau perkebunan sawit.

Pekerjaan besar seperti itu tentu saja memakan biaya dan korban. Siapa lagi korbannya kalau bukan penduduk pribumi yang harus melakukan kerja paksa. Masa kelam waktu itu tidak bisa kita pungkiri telah menorehkan luka yang cukup dalam. Akan tetapi itulah penjajahan, dan selayaknya kita tidak perlu mengungkit-ungkit hal tersebut karena saat ini dunia telah berbeda. Setidaknya masih ada sisi positif yang masih bisa kita ambil, yaitu munculnya lowongan pekerjaan sektor kehutanan. Bahkan saat ini Perhutani memiliki 24.000 karyawan!

Lalu apa lagi warisan Kumpeni untuk kita selain wujud fisik pohon jati tersebut? Jawabannya adalah ILMU PENGELOLAAN HUTAN. Guys, seberapa banyak sih hutan di Belanda? Tentu saja sangat  terbatas kan? Namun pada masa itu mereka mampu mengajari bangsa kita yang belum lahir ini dengan ilmu-ilmu pengelolaan hutan yang hingga saat ini masih kita gunakan. Teknik dan manajemen pengelolaan di Perhutani masih mengadopsi kebijakan pada zaman Belanda dulu. Tabel tegakan yang saat ini masih digunakan Perhutani pun buatan Mr. Wofl van Wulffing yang disusun pada tahun 1800-an, walaupun sebenarnya dalam beberapa hal sudah tidak relevan.

Nah yang perlu kita contoh adalah bagaimana saat itu Belanda begitu total ketika mereka terobsesi dengan jati. Tidak setengah-setengah, dan sudah 400 tahun lebih jati-jati tersebut masih eksis hingga sekarang (bandingkan dengan boyband-girlband yang datang dan pergi dalam hitungan umur jagung, hehehe). Mantab bukan? :P

– ditulis oleh Dwi Puji Lestari

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s