#114 Mencari Toha di Belanda

Saya membayangkan rentetan peluru berdesing cepat. Di kejauhan bunyi bom menggelegar seperti membelah bumi. Suasana panik tak terkendali. Teriakan mengaduh sayup-sayup terdengar di antara nyaring senapan. Sementara itu seorang anak, dengan selembar kertas dan cat minyak. Bersembunyi di balik pohon dan melukis suasana itu. Suasana saat Yogyakarta tenggelam dalam pertempuran hebat di awal Agresi Militer kedua Sekutu.
Hanya itu yang saya bisa bayangkan dari hidup seorang Mohamad Toha Adimidjojo. Seorang pelukis sekaligus kronik sejarah yang mengabadikan momen perang di jogja pada 1948. Saat itu ia masih berusia 11 tahun. Mengendap-endap di antara KNIL dan sekutu. Menyembunyikan peralatan lukisnya untuk kelak mengabadikan momen-momen yang menggetarkan.
Saya kira kita berhutang banyak pada pemerintahan Belanda saat itu (dan juga kini) yang mau menyelamatkan dan mengabadikan 45 lukisan Toha kecil. Saya kira jika lukisan itu masih di Indonesia. Ia akan hancur. Bukan karena tak dirawat, namun karena kedegilan politik rezim yang kerap kali tak bisa bersikap bijak pada karya seni.
Mengingat dan mengenali Toha bukan perkara mudah. Tak banyak orang di Indonesia yang mengenal karya-karyanya. Bukan karena karyanya sudah di borong ke Rijksmuseum. Namun karena keengganan masyarakat Indonesia untuk mencari dan mengenali sejarahnya sendiri. Mereka kerap kali terjebak dalam hiruk pikuk kondisi kekinian.
Padahal di Belanda karya-karya Toha telah beberapa kali dipamerkan dan mendapatkan apresiasi yang luar biasa. Seperti pada 1992, ke-45 lukisan pejuang cilik ini di pamerkan di Legermuseum di kota Delft. Di sana, menurut penuturan kurator dan kritikus seni rupa Agus Dermawan T, “Lukisan Toha di asuransikan oleh Firma Blom En Van Der Aa seharga 1 juta gulden dan mendapatkan pengamanan ketat oleh sejumlah polisi,”
Mau tidak mau saya dipaksa kagum. Bahwa lukisan seorang anak usia 11 dari Indonesia dihargai begitu rupa hingga mencapai nilai 1,4 milyar pada kurs 1992. Lebih dari itu lukisan yang besarnya tak lebih dari telapak tangan itu mendapatkan apresiasi yang begitu rupa dari masyarakat Belanda. Negara lain yang bukan tanah kelahiran si pelukis. Saya kira kita berhutang sejarah pada mereka.
Kekaguman masyarakat Belanda pada Toha tak berhenti sampai disitu. Pada 1993 sebuah film berjudul Een waarheid met vele gezichten (Kebenaran dalam Banyak Wajah) membuat banyak veteran dan pecinta sejarah Indonesia tercengang. Dalam film itu Toha kecil dihidupkan dan direkonstruksi. Merekam ulang proses kreatif pelukis cilik asal Yogyakarta itu.
Sedikit banyak saya menyimpan mimpi untuk bisa ke Belanda. Untuk bisa masuk dan menghayati karya seni yang ada di Rijksmuseum. Tentu untuk melihat langsung lukisan Toha yang oleh pelukis impresionis terkemuka indonesia, Affandi, dijuluki “Berdaya tangkap tajam dan edan tenan!” Jika Affandi sang maestro berkata demikian. Maka saya yakin Toha adalah sebuah maestro yang terlipat dalam sejarah.
Di Rijksmuseum karya Toha bersanding dengan para kanon-kanon lukis dunia. Seperti Vincent van Gogh, Rembrandt van Rijn, dan maestro moii indie Raden Saleh. Dalam keremangan lampu dan penjagaan ketat lukisan Toha memang jauh dari ‘rumah’, namun ia berada di tempat yang tepat. Jauh dari hiruk pikuk kepentingan dan dicintai sebagai sebuah karya seni tinggi.
– ditulis oleh Arman Dhani B.

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s