#119 Jalur PANTURA (De Grot Postweg), Goresan Kecil yang Dikagumi Tuhan

Jalur Pantura, orang Indonesia mana yang tidak tahu jalur ini. Jalur yang membentang dari ujung barat Pulau Jawa hingga Ujung Timur Pulau Jawa ini penuh dengan segudang cerita menarik, mulai dari sejarah awal pembuatannya, mitos Ratu Pantai Selatan, hingga ke mitos Ratu esek-esek yang membentang di sepanjang jalur itu. Hehe. Tapi nampaknya dua yang terakhir tidak perlu untuk dibahas, karena nanti tulisan ini terkesan tidak ilmiah dan kelihatan vulgar, walaupun pada akhirnya akan menjadi semakin menarik. Betul Khan!!!! :-D

Jalur Pantura (Jalur Pantai Utara) adalah istilah yang digunakan untuk menyebut jalan nasional (1) sepanjang 1.316 km antara Merak hingga Ketapang, Banyuwangi di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, khususnya antara Jakarta dan Surabaya. Jalur ini sebagian besar pertama kali dibuat oleh Herman Willem Daendels yang membangun Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) dari Anyer ke Panarukanpada tahun 1808-an. Tujuan pembangunan Jalan Raya Pos adalah untuk mempertahankan pulau Jawa dari serbuan Inggris. Pada era perang Napoleon, Belanda ditaklukkan oleh Perancis dan dalam keadaan perang dengan Inggris. (Wikipedia)

Ketika membaca panjang ruas jalan ini tidak terbayangkan betapa sulitnya orang-orang tua kita dahulu membuat sebagian jalur ini pada zaman nya Pak Daendels, bayangkan saja jika jalur ini diukur dengan panjang tubuh manusia Indonesia rata-rata (1.63 meter), maka jalur sepanjang 1000 km dari Anyer ke Panarukan ini diperoleh sekitar 614 ribu tubuh manusia dijejerkan satu per satu di atas jalan. Tapi tentunya tidak seperti itu. Itu hanya untuk menunjukkan betapa sulitnya, betapa besarnya pengorbanan nenek moyang kita dahulu dalam mewujudkan cita-cita bangsa Belanda dalam mempertahankan ke-eksis-an koloninya di wilayah yang pada saat itu belum bernama Indonesia.

Kalau dilihat pada kacamata tahun 1800-an, tujuannya sangat tidak sebanding dengan pengorbanan yang dialami oleh nenek moyang kita. Bagaimana tidak???Kita dipaksa bekerja tanpa upah, atau kalau dalam sebuah lagu “Antara Anyer-Panarukan” yang dipopulerkan oleh Warkop DKI “kita kerja 3 malam, dapat makan 2 malam, yang satu malam puasa… kita kerja 3 malam, dapat singkong 2 batang, yang satu malam begadang”. Sangat tidak berperikemanusiaan jika diingat sekarang. Akan tetapi, sekarang jangan lagi diingat pengorbanannya, tapi bayangkan jika Indonesia khususnya Pulau Jawa tidak punya Jalur Pantura. Bayangkan kalau Jalur Pantura tidak pernah dibuat dengan sebegitu banyak pengorbanan darah??? Mungkin Indonesia tidak akan pernah seperti sekarang. Mungkin saja tidak akan pernah ada jalur-jalur lain yang dapat dicontoh Bangsa Indonesia sekarang kalau tidak ada contoh dari Belanda. Mungkin saja dulu kita melindungi orang yang bukan darah kita. Mungkin saja dulu kita melindungi orang yang bukan suku kita. Tapi, sekarang dengan Jalur Pantura kita menghidupi keluarga kita, sekarang kita menafkahi keluarga kita, sekarang kita dapat menjelajahi wilayah kita sendiri, mungkin kita tidak pernah ke Bali dari Jakarta atau ke Yogyakarta naik mobil pribadi. Mungkin kalau tidak ada Bangsa Belanda yang membuat jalan besar dan rata, sekarang pasti cuma ada jalan kecil atau lorong-lorong karena masyarakat cuma sibuk menjejali wilayah dengan pemukiman. Gak pedulilah dengan jalan. <~ Itu Subyektif.

Alhasil, tidak seperti mahakarya lain, Antara Anyer-Panarukan yang selalu dilihat orang adalah proses, yang selalu dilihat orang adalah pengorbanannya, tapi tidak pernah orang melihat itu sebagai sebuah lukisan indah karya Leonardo Da Vinci, Raffaello Sanzio, Michael Angelo, ataupun pelukis lainnya. Lihatlah itu sebagai sebuah ide kreatif, yang dengan ide itu lahirlah sebuah mahakarya indah. Yang kalau tidak ada goresan kecil lukisan tangan Herman Willem Daendels tidak akan pernah ada lukisan indah yang selalu dikagumi Tuhan ketika melihat Indonesia dari Singgasana-Nya di Surga.

– ditulis oleh M. Ghomari

1 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

One response to “#119 Jalur PANTURA (De Grot Postweg), Goresan Kecil yang Dikagumi Tuhan

  1. anatholi jaccobi

    dislike.. menjilat sekali..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s