#123 Sejuta Pertanyaan tentang Belanda

Ketika saya masih seorang bocah kecil, saya mengenal Belanda dari kalender-kalender yang menampilkan pemandangan kanal-kanal dengan kincir angin dan ladang-ladang tulip. Saat saya remaja, Belanda semakin tertanam dalam pikiran saya karena kekuatan, kharisma dan kekompakan tim sepak bolanya. Dan kini, negara yang juga dikenal dengan kecanggihan sistem perairannya itu, semakin menempati ruang penting dalam benak saya.

Sejak pertama kali saya mendengar kata Belanda dan melihat keindahan negerinya dari kartu pos dan kalender, saya menyimpan banyak pertanyaan yang mengendap di dalam otak saya. Bagaimana kerja kincir angin itu? Bagaimana orang Belanda membuat keju? Kayu apa yang mereka pakai untuk membuat klompen? Bagaimana tim sepak bola Belanda berlatih di negeri yang dingin? Bisakah bunga-bunga tulip tumbuh dan berbunga di negeri tropis? Dan masih ada ratusan pertanyaan tentang Belanda (sebagian besar mungkin pertanyaan bodoh) yang saya simpan rapi dalam folder di otak saya hingga kini.

Dalam sebuah kunjungan saya ke Bönn pada bulan Desember 2010 lalu, uatu Sabtu pagi, saya berencana untuk pergi ke Belanda dengan kereta api dari Stasiun Bönn. Namun perjalanan itu urung saya lakukan. Cuaca buruk mengepung sebagian besar wilayah Uni Eropa termasuk Bönn. Saya yang berasal dari negeri tropis dan terbiasa oleh hangat sinar matahari, dikalahkan badai terburuk tahun itu. Sejuta pertanyaan tentang Belanda pun tidak menemukan jawabannya karena cuaca buruk.

Hingga kini, setiap kali saya membentangkan peta Uni Eropa dan melihat Belanda, saya seperti melihat sebuah noktah kecil. Tetapi negeri dengan luas wilayah ‘hanya’ 42.000 kilometer persegi tersebut tidak bisa dianggap remeh.

Pertengahan April 2012,  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menerbitkan laporan “World Happiness Report” yang menyebutkan Belanda sebagai negeri paling bahagia ke-4 di seluruh dunia, setelah  Denmark, Finlandia dan Norwegia. Pada tahun 2011, OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) juga merilis laporan yang memosisikan Belanda sebagai negara terbaik kedua dalam hal Work-Life Balance. Sebuah survei yang dilakukan oleh Mercer  juga menunjukkan bahwa ibu kota Belanda, Amsterdam, menempati posisi ke-12 dalam daftar kota-kota yang memiliki kualitas hidup terbaik sepanjang 2011.

Mekipun tahun ini terjadi sedikit penurunan pertumbuhan ekonomi, yang mungkin diakibatkan oleh krisis ekonomi di Eropa, perekonomian Belanda terhitung stabil. Bloomberg bahkan menyebut Belanda sebagai negara terbaik kedua untuk berbisnis, setelah Hong Kong.

Sampai pada titik itu, pertanyaan saya tentang Belanda pun bertambah lagi. Bagaimana negeri sekecil itu bisa tidak terguncang oleh krisis ekonomi Eropa yang beberapa waktu lalu membuat panik beberapa negara besar di wilayah itu?

Sesaat kemudian, kenangan tentang kartu pos dan kalender bergambar negeri Belanda yang saya lihat saat saya masih bocah, melintas seperti kijang yang lincah. Kincir angin, klompen, keju, kanal, buku-buku literatur adalah produk-produk yang sejak dulu sudah melambungkan nama Belanda ke seluruh dunia. Di masa kini, saya yakin bahwa daftar itu pasti bertambah panjang seiring dengan kreatifitas warga Belanda. Dan saya tahu, semakin panjang daftar kreatifitas mereka, semakin panjang pula daftar pertanyaan saya.

Dan saya harus mencari jawabannya!

– ditulis oleh Nino Santana

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s