#154 Habis Ketemu Iblis

Seputaran Agustus 2011 lalu, panggung kesenian Indonesia dimeriahkan dengan pementasan Histoire du Soldat (Mau ketemu iblis…?) yang ditafsir serta dimainkan secara kolaboratif oleh seniman Belanda dan Indonesia. Buatku, pertunjukan ini adalah sebuah peristiwa yang istimewa dan sangat membuka mata. Pertunjukan ini merupakan titik temu, sebuah percakapan yang nyata, perjumpaan kreatifitas yang lintas-budaya.
 Dalam pertunjukan ini, seniman yang berbakat di bidangnya dipertemukan dan ditantang dalam penggarapan satu naskah kontemporer yang jenius gubahan komponis neo-klasik kelahiran Rusia, Igor Stravinsky (1882-1971). Histoire du Soldat (1918) sejatinya merupakan satu karya avant-garde yang tercipta untuk dibaca, dimainkan, dan ditarikan. Libretto / teks ditulis oleh C.F Ramuz (1878-1947), seorang penulis dari Swiss berbahasa Prancis, yang kemudian diterjemahkan oleh Jean Pascal Elbaz.
Dalam tafsirnya di atas panggung Indonesia, karya Histoire du Soldat ini telah berhasil digarap secara kolaboratif bersama Gerard Mosterd, seorang koreografer dari Belanda, dan Dutch Chamber Music Company di bawah asuhan konduktor Arjan Tien. Gerard merupakan lulusan fakultas tari Royal Conservatory di The Hague, Belanda. Sejak 2002 pertunjukannya tiap tahun dipertunjukan di gedung-gedung pertunjukan di Belanda dan Asia. Kerap pula seniman ini berkolaborasi dengan seniman-seniman Indonesia.
Dalam penggarapan Histoire du Soldat ini Gerard bekerjasama dengan Martinus Miroto (penari & koreografer dengan karya kontemporer), Sri Qadariatin (teater Garasi), Eko Supriyanto (penari&koreografer), serta Jamaluddin Latif (aktor), dan Dutch Chamber Music Company (DCMC).  DCMC adalah sebuah ansambel yang bertujuan menjembatani batasan kultur dan kebangsaan melalui konser dan proyek pendidikan seputar musik chamber dan musik teater.
 
Histoire du Soldat (Mau Ketemu Iblis…?) bercerita tentang perumpamaan seorang serdadu yang menjual biola (yang dimaknai sebagai jiwa) pada iblis, demi sebuah buku yang mampu meramal perekonomian masa depan, sebuah buku yang membuka rahasia kekayaan. Karya ini (karya dramatis pertama Stravinski, di mana yang jahat menjadi pemenang) lahir di tengah transisi paska perang dunia I, dan sebagai sebuah pertunjukan dia sangat cerdas dan merangsang pemikiran penontonnya.
Yang menarik dari pertunjukan waktu itu adalah, bahwa peristiwa di atas panggung tersebut merupakan hasil peracikan kolektif dari interpretasi segenap seniman lintas-budaya atas karya Stravinski—seorang Rusia yang menelorkan karya di Swiss dalam keterasingannya. Yang bisa dibaca pula sebagai suatu pertemuan dari bahasa-bahasa estetika seniman Indonesia dan Belanda. Keberhasilan atas penggarapan karya yang kompleks ini merupakan representasi atas sebuah dialog kreatif dengan inisiator dari Belanda. Kolaborasi timur dan barat dengan gula-gula dari utara.
Sungguhlah ini jadi satu bukti bahwa telah terjadi sebuah penjembatanan, ada peningkatan pemahaman dan pengertian bersama atas perbedaan budaya. Seperti yang menjadi tujuan dari dibentuknya ansambel Dutch Chamber Music Company (DCMC).

DCMC sendiri dalam pertunjukan tersebut mampu menunjukan kualitasnya yang tinggi dalam menghadirkan dimensi dan kompleksitas karya Stravinski. Dengan tepat, DCMC mampu bersinergi dengan narasi yang dibawakan Jamaluddin Latif, yang luwes menghadirkan kemampuan peran sekaligus olah tubuh, bersama dengan seniman tari Miroto, Eko Supriyanto, dan acting yang menawan dari Sri Qadariatin.
Penggarapan Histoire du Soldat (Mau Ketemu Iblis…?) tersebut berhasil diracik dalam konteks dimensi pemahaman orang Indonesia, dengan symbol-simbol yang tetap tak meninggalkan bingkai cerita induknya. Meski karya ini lahir dalam ruang dan waktu yang jauh dari sini, tapi ia tetap mampu diterima dan diterjemahkan kembali dalam dialektika keseharian kita. Karena sejatinya, adalah inti-inti dari sifat manusia dan kesadaran kita yang diterjang dan diperbincangkan dalam cerita tersebut.
– ditulis oleh Timoteus Kusno

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s