#177 ‘Sampah Toilet’ Aliri Listrik 30 Ribu Rumah

Dua puluh lima tahun hidup di dunia, belum pernah sekalipun terlintas di pikiran saya bahwa kegiatan ke toilet yang kita lakukan setiap hari, ternyata suatu saat akan berguna untuk banyak orang. Adalah Delft University of Technology di Delft, Belanda serta Divisi Riset DHV (perusahaan konsultansi dan teknik mesin terkemuka asal Belanda) yang mencetuskan ide kreatif plus gila tersebut. Yaitu, mentransformasikan air seni menjadi energi penggerak fuel cells, semacam generator untuk menghasilkan listrik.

Sepanjang proses riset, Delft dan DHV terus mendapatkan hasil positif yang tak boleh diremehkan. Sebagai bukti, di Belanda saja, energi yang berasal dari urin tersebut sudah dapat mengalirkan litrik ke 30 ribu rumah! Padahal, itu baru dari air seni manusia. Bila ”produksi” nya dapat ditingkatkan, sangat mungkin tenaga yang dihasilkan lebih besar.
Istimewanya lagi, air seni berbeda dengan energi lain yang tergantung pada alam. Misalnya, bila energi angin harus bergantung cuaca, air seni bisa diperoleh kapan saja.
Dalam sebuah video yang dirilis oleh Radio Netherlands Worldwide (RNW) bisa dilihat bagaimana arus “sumber energi toilet” ini hingga menjadi listrik. Pertama, “sampah” alami ini dikumpulkan di sebuah pusat pembuangan di Groningen, di pinggiran Amsterdam. Di sana, sampah ditambahi dengan magnesium hydroxide. Fungsinya, mengikat nitrat dan fosfat menjadi garam yang tidak dapat dilarutkan bernama Struvite.
Garam inilah yang dikirim ke Delft untuk diteliti. Begitu Struvite dipanaskan, amoniak akan terlepas, hingga kemudian memecah menjadi hidrogen dan nitrogen. Inilah yang kemudian dibakar oleh fuel cell untuk memproduksi energi.
Click di sini untuk melihat video tersebut.
Penting!
– Klik tombol subtitle untuk menambahkan teks terjemahan di video sesuai bahasa yang diinginkan
– Jangan tiru gaya si pembawa acara yang menyetir sambil bicara dengan kamera :p
Indonesia Juga Punya!
Pendayagunaan energi dari “sampah” sebenarnya sudah banyak diterapkan di Indonesia. Namun, bila yang tengah dikembangkan oleh Delft adalah energi dari urin, maka yang sudah berkembang di Indonesia adalah produksi biogas. Yaitu, gas dari kotoran ternak.
Pengembangan biogas di Indonesia dimulai pada 2009, melalui sebuah program yang disebut BIRU (Biogas Rumah). Program ini diimplementasikan oleh sebuah NGO asal Belanda, HIVOS. Kini, BIRU sudah diterapkan di delapan provinsi di Indonesia.
Salah satu yang banyak memberikan bantuan pada program ini adalah Rabobank Foundation. Yayasan asal Belanda ini telah menghibahkan alat pengolahan biogas kepada peternak sapi di Indonesia. Dengan adanya biogas, petani lebih berhemat dalam hal pengeluaran untuk membeli minyak tanah atau untuk biaya penerangan.
Nyoman Suwena, seorang peternak di Gianyar Bali yang juga ikut menikmati program BIRU menyebutkan bahwa dirinya banyak diuntungkan, “Saya punya tabung gas elpiji ukuran 12 Kg, untuk berjaga-jaga. Tetapi sampai sekarang tidak pernah terpakai,” katanya seperti ditulis di Kompas, 31 Maret 2011.
Saya jadi membayangkan, suatu saat nanti, sudah ada alat yang bisa mengolah “sampah” di rumah kita jadi sumber energi domestik. *ngayal* Jadi, supaya “sampah”-nya lebih banyak, makan juga harus lebih banyak dong. *cari alasan menghindari diet* Hahahaha
– ditulis oleh Aziz Hasibuan
Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s