#181 Cahaya Pengetahuan dari Negeri Kincir Angin

Belanda dikenal sebagai negara yang kreatif dan inovatif dalam bidang pendidikan, iptek, olahraga sampai seni. Belanda tercatat sebagai negara kesepuluh penerima Nobel terbanyak. Sejarah mencatat dengan tinta emas buah pikiran dan kreativitas orang Belanda, mulai dari Anthony van Leuwenhoek yang menemukan mikroskop, Lorentz yang menemukan hukum utama kelistrikan, yaitu Hukum Lorentz sampai dengan Andre Geim penerima Nobel bidang Fisika tahun 2010. Penemuan mikroskop telah meletakkan kaki ilmu kedokteran satu langkah di depan garis batas yang selama masa itu belum terjamah dan membuka pemahaman baru tentang kuman penyebab penyakit. Ilmu kedokteran menemukan arahnya yang lain dan sangat berpengaruh dalam perkembangan ilmu kedokteran selanjutnya dan bahkan bagi kemanusiaan secara umum. Kreativitas dan imajinasi orang Belanda juga tercermin dalam dunia olahraga. Siapa yang tak kenal dengan total football ciptaan Rinus Michael yang begitu memukau dan membuat dunia tersihir pada awal tahun tujuh puluhan dan masih menjadi legenda sampai sekarang. Dalam dunia seni, sejarah juga mencatat kreativitas seorang Vincent van Gogh sebagai seorang pelukis yang paling cemerlang pada masanya.

Dalam bidang pendidikan kedokteran, buah pikiran orang Belanda memegang peranan penting dalam merevolusi sistem pendidikan kedokteran di Indonesia bahkan dunia.  Diperkenalkannya sistem pembelajaran dengan Problem-based Learning dari Universitas Maastricht telah memberikan arah baru dalam pendidikan kedokteran di Indonesia. Sistem pembelajaran ini berbasis pada pandangan modern yang menekankan bahwa pembelajaran mahasiswa harus berlandaskan pada proses constructive learning, self-directed learning, collaborative dan contextual. Sistem pembelajaran ini telah diadopsi oleh hampir seluruh fakultas kedokteran di Indonesia dengan tujuan untuk menciptakan “five stars doctor”, dokter bintang lima yang menjadi acuan badan kesehatan dunia (WHO). Dikembangkannya metode diskusi “seven jumps” dari Universitas Maastricht yang banyak diterapkan telah mengubah pendekatan mahasiswa dalam memecahkan suatu masalah, yang tidak hanya relevan diterapkan dalam pembelajaran mahasiswa namun juga setelah lulus menjadi seorang dokter dan menjalankan praktek profesi kedokteran. Selain itu, buah pemikiran dan kreativitas orang-orang Belanda juga tercermin dari dipublikasikannya berbagai metode untuk menilai hasil belajar mahasiswa. Berbagai metode inovatif antara lain, Hofstee’s method dan  Cohen method merupakan buah karya orang Belanda yang telah sangat membantu membuat penilaian terhadap hasil belajar mahasiswa menjadi lebih kredibel dan objektif. Ahli-ahli pendidikan kedokteran dari negeri Belanda seperti Van der Vleuten, Albert Scherpbier, Tim Dornan, De Grave dan Cohen telah memberikan sumbangsih yang bermakna bagi perkembangan ilmu pendidikan kedokteran.

Belanda merupakan kiblat dari pedidikan kedokteran di Indonesia. Banyak ahli-ahli pendidikan kedokteran di Indonesia yang merupakan lulusan dari universitas-universitas ternama di Belanda misalnya Universitas Maastricht, Utrech, Leiden dan Universitas Gronigen. Ilmu yang mereka timba, bawa, dan terapkan di Indonesia telah merubah pendidikan kedokteran di Indonesia yang konvensional menjadi relevan dengan perkembangan ilmu kedokteran di dunia, sehingga perkembangan pendidikan kedokteran di Indonesia tidak tertinggal dibandingkan dengan bangsa-bangsa lainnya. Hal ini tentu membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap pembangunan bidang kesehatan di Indonesia.

Belanda telah menjadi berkah bagi ilmu pengetahuan. Tanpa kreativitas dan sumbangsih orang Belanda, mungkin dunia pendidikan kedokteran di Indonesia bahkan dunia tidak akan semaju sekarang. Kreativitas ini bagaikan penjaga yang membuat obor ilmu pengetahuan masih tetap menyala terang sampai saat ini.

– ditulis oleh I Made Pariartha

11 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

11 responses to “#181 Cahaya Pengetahuan dari Negeri Kincir Angin

  1. hmmm….ayo mbak Septi…kita rame2 serbu negeri Belanda..hehehe…

  2. Septiani

    ngomong-ngomong soal Belanda, jadi kepingin ke Maastricht.. memang salah satu kiblat medical education di sana. kiranya siapakah yang mau memberiku beasiswa S3 ke sana? he3 hayo Pariartha.. ambil program doktorat rame2..

  3. yogaps

    “Belanda” ketika membaca, yang pertama kali terlintas dalam benak adalah masa penjajahan di negeri kita. Indonesia menjadi jajahan Belanda selama berabad abad lamanya. Tidak bisa dipungkiri, hal tersebut tampaknya masih membekas dalam perilaku dan mental orang Indonesia yang belum percaya diri. Menganggap bahwa negara-negara luar selalu lebih baik. Bahkan kampanye perilaku untuk menggunakan produk dalam negeri masih harus didengung-dengungkan hingga sekarang. Semoga Belanda lebih banyak membantu dan mengembangkan pendidikan di Indonesia, tidak hanya di negerinya sendiri.

    • betul mbak…walaupun kita banyak mengadopsi dari luar…seharusnya kita juga melakukan penyesuauan-penyesuaian ya…atau sesuatu yang kita adopsi itu kita kembangkan lagi sehingga nilai tambahnya lebih…syukur-syukur kalau kita bisa menciptakan hal yang baru… : )

  4. Jadi, Maastricht atau Utrech nih? :).

    • Hahaha..salah satu ga papa kok, ibaratnya memilih antara 2 bidadari, bidadari supraba atau nilottama,,,sama2 cantik,,,hehehe,,,

      • Kok bidadari? Malaikat Marla kan juga bisa :D.

        Ya, seperti pendidikan di sana memang menjanjikan, hanya saja kalau tidak melihat sendiri, jadinya belum terbayangkan :).

  5. Saya rasa PBL sukses di Belanda sana karena kultur liberalnya.Penerapannya di Indonesia mungkin agak sulit di awal,jadi harus disesuaikan dengan kondisi lokal juga kalo mau diterapkan. Walau begitu, saya sih suka dengan konsepnya, pembelajar jadi lebih open minded dan aktif..

    • ya…benar juga mbak tarin, kita jangan mengadopsi secara mentah-mentah apa yang dari luar..tetap harus disesuaikan dengan kondisi di Indonesia. Dari segi cultur, terutama kultur pendidikan kita memang berbeda dengan Belanda, Penerapan PBL di Indonesia juga harus disesuaikan dengan kondisi mahasiswa di Indonesia…hehehe

  6. merry

    sungguh ringkasan yang lengkap tentang banyaknya bidang yang digeluti dan diberikan kontribusi oleh orang belanda. itu menunjukkan kita pun harus bisa berkontribusi di seluas mungkin bidang yang kita bisa. dan semoga bermanfaat untuk orang orang di dunia.

    • Betul Mbak Merry…kita jangan kalah kreatif dengan orang Belanda…kreativitas, selain membuat kita berarti, juga berguna bagi orang-orang di sekitar kita…sippppp…trims for comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s