#182 “Surga” di Belanda: Kisah Negeri Sejuta Kreativitas

Surga, karena tak ada yang pernah merasakannya, maka (meskipun ia diyakini ada) ia hanya berputar dalam dunia angan-angan dan pengandaian. Namun, semua orang mungkin sepakat, bahwa surga adalah representasi dari kesejahteraan, kedamaian, kemakmuran, kebahagiaan, dan ketentraman dalam hidup. Maka, dalam konteks inilah tak ada salahnya kalau surga “dikonkritkan” dengan penggunaan analogi untuk lepas dari makna sebenarnya yang “sakral”.
Lalu dimanakah tempat yang bisa dianalogkan dengan surga itu? Maka, dengan sangat antusias saya katakan, tempat itu bernama Belanda; The Netherland!. Sebuah Negara kecil dengan keindahan bunga tulip dan kincir angin yang selalu berputar menyajikan melodrama kesejukan. Sebuah Negara, meski dengan luas 0,008% dari seluruh permukaan bumi, tapi mampu berbicara banyak pada bumi.
Kenapa harus Belanda?
Pertama, Belanda adalah negeri paling bahagia keempat di dunia sebagaimana dalam laporan “World Happiness Report” versi perserikatan bangsa-bangsa (PBB). Faktor ini semakin diperkuat dengan raihan Belanda sebagai negeri terbaik kedua dalam halwork-life balance alias keseimbangan antara dunia kerja dan “kebermaknaan” hidup.
Kedua, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg, secara ekonomi Belanda berada di peringkat dua sebagai negara terbaik untuk melakukan kegiatan bisnis. Selain berdiri perusahaan-perusahaan besar berskala internasional, juga terdapat lima pelabuhan besar yang mempermudah akses ke berbagai Negara, khususnya negara-negara Eropa lainnya.
Ketiga, dalam hal pendidikan, Belanda adalah Negara yang menjadi salah satu “sumber” ilmu pengetahuan. Setidaknya hal ini bisa dilihat dari beberapa bukti nyata berikut ini; Belanda berada di peringkat keempat negara dengan jumlah universitas terbanyak dalam World Reputation Ranking 2012. Selain itu, pendidikan di Belanda berkualitas tinggi tapi jauh lebih terjangkau (affordability dan accessibility).
Keempat, suasana lingkungan yang aman dan kondusif serta tempat-tempat wisata dengan keindahan luar biasa, dan konsep tata ruang kota yang sangat modern.
Beberapa kenyataan di atas, diakui atau tidak, menjadi faktor penting dalam pencapaian kehidupan yang sejahtera, damai, makmur, bahagia, dan tentram. Sehingga tidak salah kalau kemudian menjadikan Belanda, dalam konteks sebagaimana di atas, layaknya surga.
Namun, semua faktor tersebut akhirnya mengerucut pada sebuah konklusi, bahwa Belanda adalah “surga” kreativitas yang telah melahirkan berjuta inovasi dan menjadi salah satu Negara yang paling produktif di dunia. Kreativitas adalah “nyawa” orang-orang Belanda, utamanya para akademisi dan peneliti degan prinsip utama “think out of the box”, sehingga menjadikan sesuatu yang sangat biasa menjadi sangat luar biasa dan spektakuler. Tidak usah terlalu jauh membicarakan kreativitas mereka yang mampu menciptakan “model polder” untuk mengatasi masalah perairan dan membangun tanggul sepanjang 17.000 Km, penciptaan “mobil terbang”, konsep vibration energy,atau mungkin lampu LED “melayang”, tapi cobalah untuk sejenak melirik di sekitar kita (sebagai bekas jajahan Belanda) bagaimana sisa-sisa bangunan, arsitektur, teknologi Belanda masih bisa dinikmati hingga sekarang, dan semua itu tak akan mungkin jika tidak dibangun dengan kreativitas yang luar biasa. Tentu, masih banyak kreativitas lain yang tidak bisa dijabarkan dalam tulisan sesingkat ini.

Akhirnya, membicarakan tentang Negara Belanda bukan hanya kesederhanaan dan sikap yang sangat toleran yang dimiliki warganya, tapi seperti sebuah penyadaran, bahwa surga akan diraih “lebih awal” dengan tak henti-hentinya berpikir kreatif dan inovatif!. Itu saja…

– ditulis oleh Mutiara Fatur

37 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

37 responses to “#182 “Surga” di Belanda: Kisah Negeri Sejuta Kreativitas

  1. Ijank

    “Kreatif” memang sulit, karena kreatif itu subjektif!
    Sebagaimana tulisan ini misalnya; bagi saya kreatif, bagi yang lain mungkin tidak…
    Belanda, bagi someone bisa kreatif, tapi bagi yang lain mungkin malah sakit hati…

  2. Kholil W.

    Saya pikit tidak mudah untuk menulis artikel semacam ini, saya suka…

  3. Garera

    Benarkah “surga” itu ada disana?
    Jadi ingin merasakan…

    • Mustafa Afif (Mutiara Fatur)

      Dari berbagai fakta dan data yang ada, dan itu ilmiah, memang “surga” bisa dicicipi disana.
      Saya juga ingin, boy

  4. Ipunk

    Kalau konsep surga “disederhanakan” seperti itu, maka ada banyak “surga” di dunia ini, bahkan di Indonesia. Bukankah sangat banyak daerah di Indonesia yang mempunyai latar belakang alam dan keindahan yang luar biasa indah dan menakjubkan? Bukan hanya Bali, tapi Raja Ampat, Lombok, Makasar, dan daerah-daerah lain yang mempunyai potensi “surga” memang dari “sananya”.
    Sepertinya juga, tidak akan kalah dengan Belanda!

    • Mustafa Afif (Mutiara Fatur)

      Tapi, kan, persoalan menjadi “surga” bukan hanya tentang potensi tempat, melainkan juga kesejahteraan, kemakmuran, dan ketentraman rakyat… jadi, kalau hanya tempatnya yang indah tapi faktor yang lainnya tidak diindahkan, sama saja bohong…

      • Ipunk

        Setidaknya, Indonesia sudah punya banyak modal.
        Oia, saya suka sekali gambar belanda dengan selingan “Heaven of Creativity” ini. Sederhana tapi berkesan…

  5. Sholeh

    Luar biasa! i like this…

  6. Mustafa Afif (Mutiara Fatur)

    Belanda memang tidak sama dengan surga, dan tidak akan pernah menyamai. Penjelasan ini sudah saya jabarkan di awal tulisan untuk menggunakan makna yang tidak terlalu “kaku” dan “sakral” dalam mengartikan surga. Karena ia masih bisa dibahasakan. Dalam al-Quran-pun ada pengandaian tentang surga, yang kesemuanya itu terwakili dengan beberapa kamlimat pengganti seperti nyaman, damai, tentram, sejahtera, dan lainnya. Bukankah itu juga akan ditemukan di Surga???

  7. Pras

    kenapa sih harus (ngomongin) Belanda?
    mana bisa ia disamain dengan surga meski sudah mengalami perluasan makna?
    analogi semacam apa?

    • Pras

      Belanda memang tidak sama dengan surga, dan tidak akan pernah menyamai. Penjelasan ini sudah saya jabarkan di awal tulisan untuk menggunakan makna yang tidak terlalu “kaku” dan “sakral” dalam mengartikan surga. Karena ia masih bisa dibahasakan. Dalam al-Quran-pun ada pengandaian tentang surga, yang kesemuanya itu terwakili dengan beberapa kamlimat pengganti seperti nyaman, damai, tentram, sejahtera, dan lainnya. Bukankah itu juga akan ditemukan di Surga???

  8. Fatin

    Pertama, saya adalah cewek pertama dalam komen ini..
    Kedua, harus lebih objektif lagi melihat permasalahan, terutama topik yang akan dibahas dan ditulis..
    Ketiga, sejarah tak bisa dilupakan, sebagaimana Bung Soekarno pernah katakan
    Keempat, perkembangan menuju kemajuan adalah sebuah keniscayaan, dan mencari contoh yang baik adalah jalan paling murah dan meyakinkan!

    • Mustafa Afif (Mutiara Fatur)\

      Benar-benar komen yang luar biasa, meski berada di tengah-tengah kaum dengan spesies berbeda…
      terima kasih atas saran dan kritik konstruktifnya…

  9. Mustafa Afif (Mutiara Fatur)

    Untuk teman-teman yang sudah komen, terima kasih…
    Meski saya tahu kalian tidak ada yang punya blog, tapi mari kita lanjutkan…

    Semangat!

  10. Mustafa Afif (Mutiara Fatur)

    Muhlis; hufh, kupingku mana ya? hehe… 🙂

    Rosi & Syauqi; ayo, sama-sama. Meski 2 minggu saja (ngarep banget!)

    Rasidi; yah, begitulah, bung…

  11. Rasidi

    Wah, wah, wah, udah rame, nih..,
    Bung Mustafa ternyata pinter juga promosiin tulisan ya…
    Memang pantas untuk menjadi yang terbaik!
    yang penting jangan lupa untuk terus belajar, OK?

  12. Syauqi

    Ke Belanda? mau dong… (yang gratisan! hehe)

  13. Fahrur Rosi

    Ah, obrolan kalian membuatku ingin merasakan yang sebenarnya.
    Merasakan semua yang ada dan diinformasikan tentang Belanda, Si Meneer Kreatif itu!

  14. Muhlis

    Semakin kreatif saja, kau… Jika dunia punya Belanda, maka kita (teman2mu) punya kamu… hahaha, jangan sok deh! hehe…
    Dan harusnya memang harus begitu!
    Jika negara sekecil liliput yang berada di bawah permukaan laut saja bisa menjadi luar biasa, kenapa kita (Indonesia) yang sebesar gajah tidak bisa?

  15. Mustafa Afif (Mutiara Fatur)

    Ahsan; Amien atas do’amu… iya-iya, pengen sekali tuh ke Belanda. yah, sebaimana banyak orang lakukan, bahasa akan selalu menjadi sesuatu yang menarik. pemaknaan surga disitu lebih ditarik pada konteks yang “mudah dipahami” saja…

  16. Mustafa Afif (Mutiara Fatur)

    Rizal; Terima karena telah sudah untuk membaca tulisan ini, terutama pujiannya, hehe… kapan-kapan kita belajar menulis bareng-bareng lagi!

    Khairuddin; Indonesia? ya, semoga bisa belajar dari kreativitas orang-orang Belanda, apalagi Indonesia pernah menjadi “kampung” mereka. Proses belajar, meemang memerlukan kesediaan untuk selalu “membuka mata”…

    Lanjutkan…

  17. Ahsan

    Saya suka sekali dengan konsep “surga” dalam tulisan kamu ini,
    setidaknya seorang penulis memang harus selalu kreatif dan inovatif sebagaimana Belanda dalam tulisanmu.
    Semoga sukses… (ke Belanda, hehe)

  18. Khairuddin

    Sepakat dengan tulisan ini, dan yang lebih penting, semoga Indonesia bisa mengambil “sesuatu” dari hal yang luar biasa ini…

  19. Rizal

    Tulisan yang bagus dan berkesan. Belanda memang kreatif, tapi tulisan ini juga kreatif.
    Good Luck, kawan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s