#216 Soal Anak dan Keluarga

Soal kebijakan anak dan keluarga, Indonesia perlu banyak belajar dari Belanda.

Indonesia akan segera menyongsong “bonus demografi”, suatu komposisi demografi yang punya potensi untuk berdampak positif terhadap input dan produktivitas negara. Pasalnya pada tahun 2020-2030 diperkirakan sekitar 60 persen penduduk Indonesia tergolong dalam kelompok usia produktif (15-64 tahun). Apakah kondisi langka tersebut akan menjadi momentum kebangkitan bangsa Indonesia? Jawabannya akan sangat bergantung pada kualitas sumberdaya manusia dari 60 persen penduduk produktif di tahun 2020-2030 tersebut tentunya.

Berbicara tentang kualitas sumberdaya manusia, tentu perlu juga menyinggung soal peran keluarga sebagai institusi pertama dan utama dalam pengembangan sumberdaya manusia. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kualitas manusia saat dewasa sangat ditentukan oleh kualitas “investasi” sumberdaya manusia yang dilakukan saat usia dini di dalam keluarga. Investasi sumberdaya manusia tersebut berkaitan dengan upaya-upaya peningkatan kualitas anak seperti melalui pengasuhan yang baik, pemenuhan kebutuhan fisik serta psikis, dan stimulasi yang baik yang dilakukan oleh orangtua di dalam keluarga.

Sejumlah negara maju menyadari betul pentingnya perhatian terhadap anak dan keluarga, untuk memastikan kualitas sumberdaya manusia di masa depan sebagai penggerak kemajuan negara. Salah satunya Belanda, yang patut menjadi contoh dalam urusan perumusan kebijakan anak dan keluarga.

Salah satu bentuk perhatian pemerintah Belanda terhadap masalah anak dan keluarga adalah dengan didirikannya Kementrian Anak dan Keluarga pada Februari 2007. Untuk apa kementrian tersebut didirikan? Seperti halnya di Indonesia yang menerapkan sistem desentralisasi, di Belanda pun pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk mengurusi masalah rumah tangganya sendiri. Pemerintah Belanda sadar betul akan pentingnya suatu sistem yang akan tetap memastikan bahwa setiap wilayah melaksanakan kewajibannya untuk merumuskan suatu kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan serta perlindungan terhadap keluarga dan anak serta kebijakan yang ramah keluarga dan anak. Itulah tugas kementrian tersebut, sebagai koordinator yang mengatur garis besar kebijakan yang berkaitan dengan keluarga dan anak.

Para perumus kebijakan di negeri kincir angin ini juga paham betul bahwa kehidupan keluarga sangatlah kompleks dan berkaitan dengan banyak aspek lain, seperti kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan. Oleh karena itu, dalam menyusun garis besar kebijakan keluarga dan anak, Kementrian Anak dan Keluarga bekerja dengan berkoordinasi bersama empat kementrian lainnya, yaitu: Kementrian Kesehatan, Kementrian Hukum, Kementrian Pendidikan, dan Kementrian Sosial. Dengan demikian, kebijakan-kebijakan keluarga dan anak yang disusun juga akan menyentuh aspek kesehatan, hukum, pendidikan, dan kesejahteraan.

Pertanyaannya, mengapa pemerintah harus juga memiliki peran dalam mengurusi masalah keluarga?Ecological system theory yang dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner bisa menjadi jawabannya. Keluarga adalah unit terkecil dalam struktur masyarakat. Lingkungan keluarga merupakan bagian dari lingkungan-lingkungan lain yang lebih besar dan kesemuanya saling berinteraksi dan mempengaruhi. Pemerintah menjadi bagian penting yang turut mempengaruhi kehidupan keluarga melalui kebijakan yang dibuat. Sehingga kebijakan tersebut perlu diarahkan agar turut mendukung keberfungsian keluarga.

Pemerintah Belanda menerapkan strategi back to family dalam rangka implementasi kebijakan keluarga dan anak. Tujuannya untuk mengingatkan kembali seluruh warganya tentang pentingnya institusi keluarga untuk pembangunan sumberdaya manusia, mengingatkan bahwa keluarga adalah tempat utama bagi manusia untuk tumbuh dan berkembang. Dengan demikian diharapkan kepedulian terhadap keluarga bukan hanya datang dari pemerintah semata, tetapi juga dari keluarga sendiri. Bagaimana dengan di Indonesia?

– ditulis oleh Agus Surachman

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s