#221 Belanda, Kreativitas, dan Ekonomi

Melakukan hal yang menyenangkan dan menjadi hobi sehingga menghasilkan suatu kreatifitas bukan tidak mungkin mendulang uang. Bahkan bisa membantu pertumbuhan ekonomi negara.

CEO Facebook, Mark Zuckerberg adalah contoh yang pas. Bahkan dia berhasil menjadi milyuner dengan produk kreatifitasnya. Kreatifitas memang bisa dalam bentuk apapun, termasuk desainer terkenal seperti Wim Crouwel yang merupakan desainer grafis terkenal asal Belanda.

Sebenarnya ada sesuatu yang unik mengenai bagaimana Belanda berupaya membangun industri kreatif ini. Negara Bunga Tulip ini mengambil inspirasi dari negara-negara besar seperti Inggris dan Amerika yang terlebih dulu membangun konsep kota kreatif (Creative City).

Meskipun tidak terdeteksi kapan pertama kali dikenalkan, di Negara Kincir Angin ini, konsep kota kreatif pertama kali dikenalkan oleh planolog asal negara tersebut, Hemel Zeph. Dia sangat terinspirasi dengan kota kreatifitas Inggris yang saat itu penuh dengan budaya, artistik dan organisasi perkotaan.

Pendekatan ini diambil karena pembangunan kota kreatif ini bisa menjadi salah satu strategi untuk mengatasi perubahan masalah perkotaan.

Ditambah lagi dengan salah satu ahli perkotaan asal Inggris, Richard Florida yang akhirnya menemukan bahwa kretifitas ternyata tidak bisa dipisahkan dari pertumbuhan ekonomi.

Bahkan, Belanda telah menempati urutan ke delapan dalam indeks Kretifitas Dunia, di bawah Jepang, Amerika Serkat dan Swedia. Sejak saat itu, industri kreatif menjadi diskusi yang hangat di jajaran pemerintah pusat dan daerah di Belanda.

Dan sekarang, lihat saja, sudah banyak kota, termasuk Amsterdam (atau lebih populer dengan sebutan kreatif I amsterdam) dan Utrecht, mengembangkan industri kreatif melalui kota kreatifnya. Karya-karyanya sangat bervariasi, yaitu dari desain arsitektur, fashion atau bidang tari, dan games.

Industri kreatif di Belanda telah menunjukkan bahwa peran kretifitas dan inovasi membantu ekonomi Belanda untuk tumbuh. Unfortunately, economy is not always about numbers. It creates jobs, therefore people would raise money and spend it to fulfil their needs.

Menurut studi yang saya temukan melalui internet, beberapa daerah di Belanda yang mempunyai kota kreatifitas terbukti menghasilkan lapangan kerja lebih banyak dibandingkan kota lain.

Well, for the obvious facts, let me show you the data I got (but unfortunately it was updated at 2004):

Jumlah karyawan yang bekerja di industri kreatif mencapai 403.000 atau 5% dari total tenaga kerja. Peran terhadap ekonomi Belanda sebesar 4% dan porsi ekspor 11 persen.

Masih kurang? Ini ada lagi. Pada tahun 2007, industri fasion di Belanda telah menghasilkan EUR 9 miliar, sementara EUR 4 miliar (44%) berasal dari ekspor.

Tak kalah juga, di tahun 2006, ekspor musik di Belanda mencapai EUR 35,9 juta, 37% dari jumlah itu adalah dari musik untuk tarian. Sementara dari sektor arsitektur telah memperkerjakan sekitar 33.500 orang dan di tahun 2005 telah meraup EUR 10,9 miliar.

Luar biasa bukan? Siapa bilang untuk mendukung ekonomi suatu negara harus dengan membuat perusahaan pengolahan yang memperkerjakan ribuan orang. Belanda telah membuktikan bahwa hal yang menjadi hobi seseorang bisa mendulang uang, bahkan bisa membantu Belanda untuk tumbuh.

Lalu, bagaimana Belanda bisa membangun industri kreatif itu? Tak lain adalah dari fundamental pendidikannya. Satu ke-khasan belajar di Belanda adalah selalu diajak untuk berpikir kreatif. Think outside the box!

– ditulis oleh Ririn R. Kusuma

Iklan

38 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

38 responses to “#221 Belanda, Kreativitas, dan Ekonomi

  1. ayu

    mbak yuuuu, ceritamu mengungkapkan pikiranku :))
    bayangkan, selama sekolah kerjaanku cuma dua : garap soal, atau mengabaikan soal dengan membaca komik. hahahaha. rasanya ndak ada pernah diajarkan kreatifitas, bahkan ditumpulkan. mata pelajaran seni di tempatku bahkan disuruh gambar cerminan benda. hahaha.

    tapi ada satu nih yang istimewa :pernah ada satu ketika, pas SMA, ada semacam kegiatan ekstrakurikuler mengadakan proyek penelitian atau semacamnya. ketika itu meski masuk jurusan IPA, saya dan teman saya ndak tertarik sama sekali melakukan apapun penelitian itu.

    guru saya cukup bijak menanggapi hal ini (karena setiap siswa wajib bikin kali ya XD). kebetulan guru saya ini tahu bener saya dan teman saya hobi baca komik. jadi dia mengajukan tema menarik : coba kalian bikin komik soal kejadian fisika, dan teliti seberapa efektif komik menyebarkan info soal pengetahuan.

    saya rasa guru semacam ini harus diperbanyak di Indonesia. belajar ndak harus dengan cara yang membosankan. dan kreatifitas menawarkan jalan keluar : mengasah otak kanan dan otak kiri (menceritakan terjadinya hujan asam melalui gambar dan kata sederhana), dan tidak memaksa murid melakukan hal yang tidak disukai. rasanya itu satu-satunya proyek menyenangkan yang pernah saya garap di SMA. sisanya : tiada hari tanpa mengerjakan soal matematika, fisika, biologi dsb (yang sekarang pun jarang terpakai di pekerjaan XD).

  2. heldy

    Tulisan yg menarik, rin!

    Untuk urusan bangunan Belanda ga cuma kreatif tapi juga all out dalam pengerjaannya. Di Indonesia banyak gedung hasil peninggalan yg dibangun pd saat jaman penjajahan masih bisa bertahan hingga saat ini. Sungguh arsiteknya mengerjakan segala aspek bangunan (art, safety, kesehatan, perairan, penerangan) dengan sangat detail. so sebenarnya Belanda sudah memulai menuangkan ide kreatifitasnya ratusan tahun yg lalu.

    And I do agree with U rin, mengasah kreatifitas harusnya bisa dimulai dari fundamental pendidikan. Di Indonesia murid telah terbiasa dan atau dituntut untuk menjadi anak pintar, juara dari segala subject mata pelajaran disekolah tanpa memperhatikan bagaimana mengembangkan aspek kreatifitas anak yang sebenarnya juga sangat diperlukan disaat para murid itu kelak berjuang didunia pekerjaan. Bahwa bahkan dengan mengembangkan kreatifitas justru bisa menciptakan lapangan pekerjaan.

    Indonesia yg kaya akan seni budaya, ayooo saatnya all out dlm menggali kreatifitas, tentunya perlu dukungan dari segala pihak agar hak-hak kreatifitas dilindungi supaya orang-orang Indonesia yg kreatif dan punya ide brilliant ga kapok berkarya dinegara sendiri apalagi sampai menjual idenya ke tempat lain hanya karena merasa ga aman dari segi perlindungan.

  3. NiePham

    Di Indonesia banyak kok orang kreatif, mslhnya penghargaan terhadap kreativitas yg masih kurang..malah byk org yang seneng dgn karya plagiat dibandingkan karya cipta kreatif sendiri hanya krn alasan TIDAK MAINSTREAM!!!

    • Ririn

      Ahahaha.. selow lah. Memang susah juga mengubah pola pikir masyarakat untuk menghargai kreatifitas dengan merogoh kocek lebih dalam. Mulai dari diri kita yuk 😀

  4. Marco

    Indonesia asal jangan jadi negara peniru aja hehehe… Masih banyak budaya Indonesia yang bisa dikembangkan jadi produk industri kreatif dengan skala global.

  5. Di Jogja ada kawasan kota Indische yaitu Kotabaru, konsep tata kotanya begitu bagus. Banyak bangunan peninggalan Belanda yang hingga kini masih berdiri kokoh, salah satunya adalah Gereja Santo Antonius Kotabaru. Di daerah lain seperti di Bandung dan Jakarta saya kira juga banyak bangunan peninggalan Belanda yang serupa.

    Sudah sepatutnya kita belajar dari kreativitas arsitek Belanda. Namun, tentu saja tidak hanya terbatas pada bidang arsitektur saja. Banyak peluang di Indonesia yang bisa kita jadikan lahan berinovasi dan mengasah kreativitas. Sudah saatnya generasi muda Indonesia menjadi pioneer. Dan berhenti menjadi follower yang hanya meniru saja.

  6. Ahsan eL Farid

    Nice…
    Yach… I think so, kreatifitas adalah modal utama dalam hal apapun.
    Sebenarnya Indonesia bisa, bahkan saaangat bisa… kita mempunyai banyak peluang dlm hal itu. Jangan sering kali berharap bahwa pemerintah akan membantu ato tidak, yg terpenting kita nya dulu.. Ayo dari hal yg sangat kecil yg bahkan orang lain belum pernah meliriknya, memang terkesan lebih sulit tapi itu “murah”, dari pada ikut2an…

    #tulisan ini sangat menarik “inspired” ^_^

  7. Richard van der Schaar

    That’s a very interesting article, Ririn! I actually never really think about the creative industry so excuse me if I make naïve comments 🙂 I think that a creative industry is much more productive/important in a developed country such as Belanda because it needs to be fostered by the government (through subsidies and good organizational structures as well as legal certainty; copyrights etc) and I also think that the artists/productmakers/entrepreneurs need to be in a reasonably good financial position from the start as most of them face a big risk that their creative products will not catch on. In Belanda most of them can afford such failures as there will still be government allowance for the unemployed (under certain conditions of course) etc. In developing countries most people cannot face that risk due to (near) poverty. I completely agree with Bart that people become more creative when there is less money, but to me that is more the “Sudirman-Joki’s”-type of creativity. In economic problematic situations the general public will first save on creative products (not going to the cinema, not buying fashion etc) than save on food or housing, which seriously harms this sector (unless the government provides good ‘soft infrastructure’).

    If the Dutch are good in this sector it’s probably also because of the general/traditional innovative (not necessarily creative) entrepreneur mentality of the Dutch (which started around 1600 I guess mmm….) as most businesses in this sector are small or medium sized (belanda has a high percentage of entrepreneurs compared to total population).

    Please correct me if i make mistakes…..

    • Ririn

      Thanks Richard. That’s very good comment. Well, starting creative business is not very easy. The percentage of failure might higher that conventional business. I just wondering how Indonesia can manage this kind of business since it has new ministry who is managing creative industries, Mari Elka Pangestu. I hope she can run the industry good enough. Perhaps she can learn from Belanda? 😉

  8. Agung Budiono

    Kreativitas lahir dari kemerdekaan dan kebebasan berpikir. Selama bangsa ini mengekang itu, sulit rasanya kreativitas lahir. Karena itu, media utk melahirkan kreativitas sudah selayaknya didukung dan difasilitasi pemerintah..semoga.

  9. Sasha Satyagraha

    Seharusnya Indonesia bisa membuat kota kreatifitas seperti ini. Kita memiliki potensi yang tidak kalah besar seperti di Belanda. Misalnya, Bandung dan Yogyakarta. Hanya saja, pemerintah masih memandang sebelah mata terhadap kemungkinan lahirnya kota kreatifitas. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang baru berdiri belum memiliki road map jelas untuk mendorong kreatifitas kaum muda. Selain itu, belum banyak kaum muda yang kreatif dan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Untuk berkembang lebih baik dan lebih kreatif yang dibutuhkan hanyalah niat dan kesempatan. Indonesia belum memiliki keduanya, tapi seharusnya kita jangan terus menunggu.

  10. Bart

    Interesting! There are many creative people in Belanda, in all kinds of areas. The current economic situation has put pressure on education and innovation which forces even more people to be creative (with less money). Also some nice examples of kids who invent formats or apps and become rich with that 🙂

  11. dasir

    Mudah-mudahan Indonesia bisa belajar dari negara Belanda unggul disegala sektor khususnya bidang Industri Kreatif apalagi Belanda menempati urutan ke delapan dalam Indeks Kretifitas Dunia, di bawah Jepang, Amerika Serkat dan Swedia, wow!. prestasi yang mengagumkan tentunnya dapat meningkatkan perekonomian rakyatnya kalo negaranya kreatif.

    Tapi Industri kreativitas di Indonesia juga sudah mulai marak khususnya di Kota Bandung, banyak loh anak-anak muda di Bandung yang udah jadi pengusaha dari olahan ide-ide kreativitas mereka contoh saja di bidang Kuliner, Fashion, Musik bahkan dari sektor kebudayaan ada komunitas HONG sebuah perkumpulan komunitas yang mempertahankan budaya permainan rakyat tempo dulu hingga kini berkembang menjadi industri bisnis jasa wisata , hebat kan. Bahkan Bandung dinobatkan sebagai Bandung Creatifve City sama pemerintah Kota Bandung, ngga tau kalo di kota-kota lain di Indonesia selain Bandung.

    Kita memang harus belajar banyak dari negara Belanda tersebut karna kita masih tertinggal jauh dengan negara sebutan Kincir Angin itu, diharapkan pemerintah Indonesia harus gencar mengkampanyekan Industri Kreatif kalo perlu belajar tuh di negeri Belanda

  12. Zahra M.D

    Ketika saya kecil kata-kata Belanda yang saya ingat sampai sekarang adalah “Ik ben zelf een vreemdeling” tetapi tulisan mbak Ririn sudah tidak asing lagi di mana-mana, mencerahkan, memberikan inspirasi yang berbeda, semoga kincir angin itu menarik mimpi-mimpi kita, mimpi negri kita untuk lebih baik ke depannyaa…semangaaat dan sukses selalu ;D

  13. profit.. profit.. profit.. mungkin itulah yang ada di dalam industri kreatif dari orang-orang Indonesia.. tapi memang tak bisa disangkal bahwa profit memang salah satu goal dalam bisnis, termasuk industri kreatif Indonesia.

    saya melihat dari sisi teknologi, memang sumber daya manusia dari sisi ini sangat banyak dan tidak kalah dengan negara maju sekalipun. Tapi untuk melahirkan inovasi dan kreatifitas yang “wah”, saya rasa mungkin kita belum siap untuk kesana. Masih ingat saya sewaktu Koprol di akuisisi oleh Yahoo dengan nilai yang cukup besar, dunia teknologi gempar dan heboh, lalu semua berbondong-bondong untuk menciptakan startup dengan tema yg hampir sama bahkan bisa dibilang startup seperti “kacang goreng” dan berharap bisa diakuisisi juga, karena apa.. karena profit..! bahkan suatu web e-commerce standar pun dianggap sebagai “startup”

    kemudian di industri film, ketika film horor populer di tahun 2010’an dan menghasilkan profit yang “wow”.. kemudian muncul film horor lainnya yang tidak masuk akal dan jauh dari kata “horor” , hanya mengumbar aurat semata.

    untuk saat ini industri kreatif yang memang maju adalah dari sisi seni dan budaya, karena Indonesia memang beragam dan tidak ada duanya di belahan dunia manapun.

    Untuk industri teknologi dan film sorry to say Indonesia masih sebagai “follower”

    Thanks

  14. I like the idea how the writer sees the presented topic “creative industry” from different angle, kind of refreshing as most of people are likely to correlate the subject with computers, mobile phones, automotive etc. The arguments are clear and well presented. We can see from here, comparing to Indonesia, that the Dutch are not fully rely on natural resources. Something that could be discussed further as well as an input for our friends living in the archipelago.

    • Ririn

      Actually, like Lia said below your comment, small medium enterprises – which are usually from creativity business base – is very effective to help some countries from global financial turmoil.

      In music and film industries, I will choose South Korean which is very aggressive to export its art and culture. Boybands like Super Junior, however, can earn large amount of money for South Korea.

      Indonesia? Uuumm.. art is less developed in here. Perhaps the best creativity exporter was Pramoedya Ananta Toer. hahahaha…

  15. Sugeng Prasetyono Eko Putro

    Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di wilayah Austronesia (South east of Asia). Siapapun tidak ada yang menyangkal kebhinekaan yang dimiliki negara kita, yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, bahasa, budaya/adat istiadat, gaya arsitekturnya, sosiologi, antropologi, kekayaan alamnya, di tambah keramah-tamahan penduduknya.

    Jadi…. tidak perlu diragukan lagi bahwa semuanya ini adalah modal utama untuk mengembangkan ekonomi kreatif yang produktif di setiap bagian wilayah Ibu Pertiwi tercinta ini…!

    Belanda saja bisa kaya hanya karena import rempa-rempah dari indonesia, seharusnya kita bisa lebih kaya di banding dengan negara-negara lainnya karena kita punya tidak sekedar rempah-rempah.

    Marilah kita bernostalgia sejenak….. Pada abad ke VI Dinasti Wangsa Sanjaya sudah meletakan dasar arsitek bangunan di ketinggian 2093 meter DPL beserta keindahan seni serta toleransi agamisnya, disusul dengan mega proyeknya Gunadharma pada masa keemasan Dinasti Syailendra-Smaratungga maka terciptalah Candi Borobudur, disusul lagi dengan Dinasti Rakai Pikatan yg tidak mau kalah untuk mendirikan sebuah bangunan yg fenomenal yaitu Candi Prambanannya…. Kalau sudah begini apa yang di sangsikan lagi? tidak ada toh ! (padahal saat itu di benua Eropa belum banyak di buat bangunan-bangunan seperti di negara kita).

    Dari sinilah kita mesti sadar bahwa kita tidak kalah kreatif dengan negara lainnya karena semua sudah dimulai dari para leluhur kita dan kita tinggal meneruskannya saja !

    Oh ya… Di negara kita banyak ditemukan orang-orang pintar tapi sayangnya tidak benar sehingga menjadi salah urus, salah asuh bagaimana mau memberikan rasa asih…. malu rasanya nenek moyang kita sudah kreatif dan produktif, seharusnya kita punya nilai lebih di banding masa lampau…. Bersama kita bisa berkarya !!!

  16. Sofyan Hendra

    So pasti Belanda inovatif dan kreatif. Kalau enggak, tak mungkin sebagian daratannya berada di bawah permukaan laut. Iya kan?

    • Ririn

      Hahahha… itu memang menjadi cita-cita Jakarta untuk menjadi Belanda yang kedua. Tapi memang suatu ide itu kalau tidak berada di tangan yang tepat, juga tidak akan berkembang. :p

  17. gustidha

    Pernah denger senior atau bahkan bos ngomong, industri kreatif itu harus antisipasi di masa mendatang. Industri ini diprediksi bakal melesat dan menjadi faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi dunia. kreatif ga sekedar di sisi hiburan, yaa meski kita tahu sampe kiamatpun manusia bakal haus akan hiburan XD. Kreatif bisa di segala aspek.. cara ngembanginnya ya… mulai dari diri sendiri ..
    klo kata AA GYM, mulai dari sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulailah saat ini hehehhe

  18. Lia

    Well, waktunya sektor kreatif bangun ekonomi Indonesia. Jangan hanya mengandalkan sektor mainstream ah :p

  19. lisa

    kalo untuk bangsa indonesia industri kreatif sudah ada, potensi juga ada, namun belum terakomodir dan terbangun dengan apik. Jika Belanda mulai membangun sebuah ekonomi dari ekonomi kreatif cukup jeli dalam memadu padankan potensi yang sudah ada, gak heran banyak pelajar Indonesia juga pgn belajar disana. Moga2 yang udh kesana bisa balik dan membangun Indonesia lebih kreatif dan tentunya terakomodir jadi ada pengaruh yang signifikan…

  20. Birny Birdieni

    Semoga tulisan ini bisa jadi pencerahan buat Indonesia yang gudangnya orang-orang kreatif.. Kayanya orang-orang Indonesia juga ga kalah dari orang dari negara lain. Sayangnya dukungan pemerintah belum maksimal yak.. semoga adanya Menteri Budaya Pariwisata dan Perekonomian Kreatif bisa dukung Indonesia buat bisa unjuk gigi kreatifitasnya.. Chaiiyyoooo….

    Regards

    Birny Birdieni

  21. Putra

    Indonesia sebenernya bisa banget melakukan apa yang udah dilakukan Belanda. Semua udah ada (kultur yang beragam dan jumlah rakyat yang besar). Tinggal bagaimana dukungan pemerintah aja seperti dalam hal permodalan dan aturan yang gak njelimet.

  22. hem…kalau bicara mengenai kreativitas…kita sebagai bangsa…memiliki banyak orang-orang kreativ bukan hanya dari kalangan akademisi jebolan universitas ternama seperti Sandi Uno…tapi mereka yg grassroot juga banyak pula orang-orang kreativ
    …lngatlah bagaimana gempa di jogja yg meluluhlantakkan bantul….rumah tak ada, usaha berhenti total tak ada aktivitas ekonomi…
    tapi…tengoklah sekarang(mohon sempatkan bila ke jogja ‘inspirative and creative city’) …seoalh tak pernah terhempas biadai…ombak pun tidak…mereka tetap tegak dan tersenyum…mengapa ?? karena punya sejuta kreatavitas yang tak pernah usai apalagi padam
    bukan hanya itu…masih banyak lagi mereka yg tumbuh dan berkembang dalam kehidupan seni kreatis dan industri kreatif memaparkan dan membahasnya satu per satu dalam comment ini adalah tak logis (nanti nyaingi artikel sist ririn ^_^)
    …namun bahwa pemerintah perlu menunjang dengan sarana berupa regulasi serta kemudahan birokrasi juga promosi yg mendukung…itu memang suatu keniscayaan …

    yang pasti jangan pernah menunggu (apapun, siapapun) untuk maju dan berkreatifitas

    I’ m proud with my country and with all the people

  23. agusdd

    Banyak yang sudah berpikir begitu, hanya saja memulainya bagaimana. Itu dia yang penting. Kalau sekedar wcana dan memamerkan si sudah banyak ya. Kalau mau contoh ya, contoh Korea atau Jepang sudah cukup. Lagian kan Belanda juga mantan penjajah kita, kok belajar masih dari jaman Belanda si.

    Bukan apa-apa, nggak sirik, atau bermaksud mengkritik, tapi aturan Belanda dikita sudah menganak cucu dari peraturan di bidang hukum sampai soal pembukuan keuangan. Lihatlah bagaimana PT POS pembukuannya semrawut dan baru mulai dibenerin tahun 2009, itu kenapa ya karena dia pakai sistem Belanda dulu. Nggak tahu kenapa nggak berubah. Akhirnya POS kan jadi turun bisnis.

    Orang kita itu tingkat kreativitasnya sudah seperti dimatikan. Nah, kalau mau menjadi kreatif kuncinya bagaimana? Saya setuju pendidikan. Tapi sayang, pendidikan ditempat kita juga masih jauh dari kata kreatif. Yang ada malah pinter korupsi tu lihat diberita Kompas Hari ini yang sebut merampok uang rakyat, atau judul berita di http://www.harianmetronews.com/index.php?option=com_k2&view=item&id=950:diknas-bagi-bagi-duit-pengkondisian-proyek&Itemid=186. Sedih pendidikan kok malah jadi tempat begituan.

    Orang Bali kita juga banyak yang kreatif, orang Magelang juga banyak yang kreatif, mahasiswa kita juga banyak yang sudah kreatif juga anak SMK kita banyak yang kreatif. Kita bahkan lebih kreatif dari Bangsa manapun. Hanya saja kemampuan untuk memulai itu belum ada yang mendorongnya, belum ada yang menstimulasi dan belum ada yang menjadi startup.

    kalau mau bilang kreatif bahkan individu dimana saja di suku bangsa kita banyak yang kreatif. Lihatlah Bandung, lihatlah Bogor, Semarang, Purwokoerto, Probolinggo, Makassar dan lainnya banyak sekali yang sukses karena kreativitas mereka.

    Kita bahkan sudah memiliki 100 buku inovasi, yang diterbikan tiap tahun dan saat ini sudah tahun ke 3 sehingga menjadi terbitan 103 inovasi. Mobil listrik kita juga sudah menciptakan dari tahun 80-an. Untuk memulai Tabung Plasenta bahkan kita bersamaan dengan Korea, kita bahkan lebiih dahulu dibanding Singapura. Tapi ketika SIngapura dan Korea sudah makin maju, kita hanya begitu-begitu saja.

    Tidak hanya itu, yang lebih canggih juga soal nuklir. Dari jaman Soekarno kita sudah memikirkan soal nuklir, makanya di Serpon kita sudah punya reaktor nuklir. Tidak hanya satu, tapi kini ada di 3 tempat. Tapi kenapa yang lain sudah bikin puluhan PLTN kita belum juga memilikinya.

    Apakah kita kurang kreatif? saya rasa tidak.

    Bahkan untuk pengentasan kemiskinan, kita juga lebih maju dibanding Grameen Bank yang dapat nobel. Kita punya program PPK dari jaman Soeharto, itu bahkan sebelum Bank Dunia mewacanakannya. Kita sekarang punya program PNPM yang banyak dicontoh oleh dunia untuk soal pengentasan kemiskinan.

    Apakah kita kurang kreatif? no…

    Soal karikatur dan desain, asosiasi di Eropa bahkan sempat sampai melarang Indonesia ikut lomba disana, karena setiap kali kita ikut lomba kita selalu menang. (Bisa di tanya ke Ibu Hesti di Kementerian Perdagangan).

    Ketika open house di China, Shanghai Ekspo, Indonesia juga menjadi juara dalam konteks makanan paling laku. Makanan rendang juga dinobatkan sebagai makanan paling enak, juga nasi goreng. Tapi kenapa makanan itu variannya baru bisa ditemui dibeberapa negara sekarang, dulu kemana?

    Apakah kita kurang kreatif? i don’t think so…

  24. seharusnya Indonesia bs jauuhh lbh maju bila lbh gigih menggali potensi dan lebih kretaif berproduksi..sygnya Indonesia skrg lbh suka dibanjiri produk Impor…selain itu generasi muda (sy salah satunya) lebih memilih sbg pekerja drpd pengusaha yg bs terus melebarkan dan mengembangkan potensinya.
    tulisan ini seharusnya bs dijadikan cermin bagaimana suatu bangsa bs maju dan mandiri dengan mengandalkan semua potensi yg ada didalamnya…

  25. ferial

    waaah keren yah,klo ajah bs diterapkan di Indonesia..sayangnya di Indonesia pengembang berlomba-lomba bangun mall dimana-mana yang isinya sama ajah

    • andri rahadi

      Mall itu jg bisa jadi pasar industri kreatif lo
      … 🙂

      • Ririn

        Bener juga sih. Fashion kan juga ada di mall dan termasuk industri kreatif. Tapi sayangnya di Indonesia itu mall nya penuh dengan industri kreatif yang impor. Hahaha..
        Mungkin di luar negeri juga ada produk dari Indonesia ya. Tapi kan tidak tahu juga. Belum pernah nemu. hahahaha..

  26. Indonesia udah punya moda: kota-kota yang melahirkan orang-orang kreatif seperti Bandung dan Jogja! Yok, saatnya tidak hanya menjiplak film dan lagu! =)

  27. andri rahadi

    Tulisan menarik. Bagaimana pemerintah bisa bekerja sama dengan rakyatnya dalam membangun perekonomian dalam negeri. Saya memimpikan hal ini bisa terjadi juga di Indonesia. Bukan hanya sekedar jargon manis dari pemerintah. Atau mungkin kita harus bergerak sendiri, daripada mengemis kepada pemerintah? 🙂

  28. Saugi Riyandi

    wah boleh juga niy kaya gini.
    kapan yang Indonesia bikin kota kaya gini.
    masa kalah sama Belanda 🙂

  29. Martin Ade

    Belanda, salah satu negara dengan kreatifitas tinggi.. contoh saja ketika mereka membuat dam karena tinggi kota kalah tinggi dengan posisi air laut.. pemikiran unik yang jarang dimiliki negara lain..

    Terlebih, industri kreatif yang disini kalah pamor, di sana dikembangkan sebagai salah satu pilar penopang perekonomian negara.. Memang masih minim jika dilihat dari porsinya, tapi perekonomian negara tak musti dari migas saja kan..

    Tulisan-tulisan seperti ini yang dibutuhkan agar memacu semangat untuk lebih kreatif lagi.. Saya yakin Indonesia pasti memiliki kretifitas lebih tinggi.. kan saat dijajah, mereka pake pestol, kita pake bambu runcing :))

  30. wow! tulisan yang menarik. dengan kreativitas, perekonomian belanda bangkit. Ayo dong, Indonesia! jangan mau kalah! seperti kata penulis, “think outside the box” or …. “think, there is no box”

    regards
    maharani ardini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s