#236 Balancing Life

22: 32

Selasa, 1 Mei 2012

Baru aja pulang dari kampus, huff..

Yes, this is my routinity, at least for two times a week. Secara tidak sengaja”dipaksa” jadi anak kuliahan lagi di salah satu sekolah manajemen dari setahun yang lalu. Wajib sekolah dua puluh sembilan tahun, istilah saya.

Read an interesting article this morning ,

“Orang-orang Belanda bekerja sebanyak 1,378 jam per tahun, angka terendah menurut OECD…Angka rata-rata dari studi OECD adalah: bekerja sebanyakan 1,739 jam per tahun”.

Saya jadi teringat masa-masa awal bekerja 2 tahun lalu, tipikal fresh graduates yang ingin membuktikan diri.Jam kerja resmi dari pukul 9 pagi sampai pukul 6.15 sore, tanpa ada tunjangan lembur. Namun jiwa perfeksionis ini susah diajak pulang kalau sudah asyik dengan paperworks, jadilah biasanya paling cepat jam 9 malam baru pulang. Rumah saya di Jakarta Utara, dan kantor di daerah Kuningan, jarak tempuh sekitar 1-1.5 jam jika sudah diatas jam 9 malam. Jadi, dari waktu mulai berangkat bekerja sampai kembali ke rumah, saya menghabiskan 15-16 jam di luar rumah. Seminggu dengan 5 hari kerja, berarti 75 jam/minggu. Biasanya akhir minggu masih menyempatkan diri hang out dimall dengan sahabat-sahabat saya. Tidak heran si mamah mengeluh dan memarahi dan hanya bisa geleng-geleng melihat anaknya.

Intinya, hidup saya senyaman apapun saat itu, tidak seimbang apalagi sehat.

Dengan menempuh kuliah lagi, saya dipaksa untuk meninggalkan kantor lebih cepat, karena kuliah dimulai jam 7 malam, atau untuk mengerjakan tugas kuliah. Terkadang kami mengerjakan tugas kuliah berkelompok sampai tengah malam, rekor “termalam” adalah setengah tiga pagi, sehingga sampai badan saya keesokan harinya menyerah dan pulang tenggo. Ternyata mindset workjunkie saya kalah dengan rasa kantuk. Bukan berarti perfeksionis saya hilang, I just learn to work smarter than before. Tidak bersantai-santai di tengah pekerjaan karena saya tahu saya tidak punya waktu lagi untuk mengerjakannya di malam hari.

Perubahan keseimbangan hidup terasa di pertengahan kuliah, saya merasa ada makanan baru buat otak saya. Sebutlah intelektualitas, pengetahuan, tapi sekolah benar-benar menjadi refreshing untuk saya “melarikan diri” dari kepenatan kerja. Bertemu teman-teman kampus yang berasal dari lingkungan kerja beragam benar-benar membuka mata saya. There are so much life can offer outside my tiny office cubicle!

Kembali ke artikel di atas, mengingatkan saya ketika berkunjung ke Belanda beberapa tahun lalu. Saya yakin hal ini ada hubungannya dengan budaya bersepeda disana, di luar dari jam kerja yang berlaku. Bayangkan bersepeda sepulang dari kantor, tentu dengan kondisi jalan seperti di Belanda dengan jalur sepedanya yang teratur, dengan tatakotayang teratur pula, tentu bersepeda merupakan kegiatan yang sangat refreshing setelah seharian bekerja. Hal ini tentu diluar tujuan dari yang ditargetkan Pemerintah Belanda, namun kini terlihat efek positif dari dipupuknya budaya bersepeda. Menyenangkan sekali jika budaya baik ini bisa terus dikembangkan dan semoga bisa ditiru oleh Pemerintah Indonesia. Semoga!

Saya sudah pindah bekerja sekarang, sudah tidak pernah lembur lagi, nilai kuliah cukup baik, dan yang pasti saya merasa lebih bisa menyeimbangkan hidup saya. Yang awalnya sebuah pemaksaan telah berubah menjadi blessing in disguise. Hehehe..never thought that I would said it. Just don’t tell my mom, she’ll be so pompous about it :p

– ditulis oleh Aisy Ayurezeki

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s