#251 Negara “Kecil” yang Bahagia

Salah satu tokoh Psikologi yang menginspirasi saya, Rogers, mengatakan bahwa kebahagiaan merupakan hasil sampingan dari keberfungsian manusia secara penuh. Manusia yang berfungsi sepenuhnya, begitu istilah yang diberikan Rogers. Keberfungsian ini tentunya bukan hal instan yang bisa didapat dengan mudah. Keberfungsian hidup, baru akan dirasakan ketika seorang manusia sudah mampu mengaktualisasikan diri. Sedangkan aktualisasi diri, menurut penganut paham humanistik, merupakan kebutuhan puncak manusia yang hanya akan didapatkan ketika kebutuhan-kebutuhan lainnya terpenuhi.

Kebutuhan manusia, menurut Maslow, terdiri atas kebutuhan-kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta kasih serta perasaan memiliki, harga diri dan aktualisasi diri. Sebelum empat kebutuhan di awal terpenuhi, seseorang tidak akan bisa mengaktualisasikan dirinya. Dengan kata lain, kebahagiaan sebagai hasil samping dari proses aktualisasi diri itu juga akan semakin sulit diperoleh.

Jadi ketika sebuah bangsa yang terdiri dari jutaan orang dikatakan sebagai bangsa yang paling bahagia nomor empat di dunia, wajarlah jika kita berdecak kagum dan merasa heran. Ya, heran! Bukannya bangsa itu hanya tinggal di wilayah negara yang kecil dengan sumber daya alam yang bisa dikatakan tidak terlalu fantastis? Apalagi bangsa itu untuk sekedar hidup saja harus “menambal” lautan di sana-sini.

Tetapi itu memang faktanya. Laporan PBB tentang World Happiness Report menunjukkan bahwa Belanda, negara dengan luas wilayah yang hanya 42.526 km2 itu, merupakan negara yang paling bahagia nomor empat di dunia. Kebebasan berpolitik, jejaring sosial yang kuat dan ketiadaan korupsi memiliki bobot yang lebih besar dibandingkan dengan pendapatan. Di tingkat individu, kesehatan mental dan fisik, job security dan keluarga yang stabil merupakan faktor-faktor penting dalam pengukuran kebahagiaan itu.

Padahal, secara sumber daya alam saja, bolehlah kita meragukan terpenuhinya kebutuhan fisiologis 16.5 juta penduduknya. Apalagi akhir-akhir ini, benua Eropa merupakan kawasan yang mengalami pukulan berat akibat krisis ekonomi. Tentunya akan semakin sulit bagi bangsa Belanda untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka.

Kreatifitas, itulah yang saya kira menjadi jawaban paling tepat bagi rasa heran kita. Karena pribadi-pribadi kreatif adalah kumpulan orang-orang yang terbuka pada pengalamannya, mampu untuk menilai situasi dan bertindak menghadapi situasi tersebut dengan cara baru yang inovatif. Kreatifitas dapat membuat seuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya, menjadi satu hal nyata. Pribadi kreatif, identic dengan orang-orang yang sudah mempu mengaktualisasikan dirinya. Tanpa dikejar pun, dengan aktualisasi diri, kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.

So, there’s no doubt if it is said that “Holland is a creative nation. Dutch people enjoy innovating and constantly ask themselves and others questions to come up with new ideas.”

– ditulis oleh Denisa Apriliawati

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s