#261 Belanda: Negeri Word-of-Mouth!

Sudah menjadi rahasia umum kalau Belanda terkenal salah satunya karena hal-hal bebas yang diberlakukan di negeri itu. Hal tersebut menjadikan banyak sekali anekdot yang beredar di masyarakat perihal kebebasan yang ada disana. Hal negatif kah? Belum tentu, tergantung dari sudut pandang mana kita mau mengambil makna anekdot tersebut.

Pernah terbersitkah di pikiran kita bahwa anekdot yang berkembang bisa jadi merupakan suatu inovasi strategi marketing pemerintah Belanda dalam membangun curiousity penduduk dunia akan negara yang lebih terkenal dengan sebutan ”Holland” tersebut? Dengan strategi word-of-mouth yang disebarkan, tersirat bahwa seolah-olah Holland merupakan negara yang sangat bebas. Diijinkannya pernikahan sejenis, dilegalkannya red light district, banyaknya penganut atheis, dibukanya nude beaches merupakan beberapa contoh kebebasan yang dipersilahkan pemerintah kepada warga negaranya.

Apakah strategi word-of-mouth (WoM) yang dimaksud disini? Secara bahasa WoM adalah pemasaran dari mulut ke mulut atau dari orang ke orang. WoM dapat diartikan secara luas sebagai penyampaian informasi antar manusia, seperti hubungan tatap muka, telepon, sms, email, website atau blog dan juga dapat dijelaskan sebagai proses berpengalaman, daripada suatu pengamatan (McKenna’s dalam Bates 2005: 6). Efisiensi akan terjadi dalam penerapan strategi ini sehubungan dengan penekanan biaya dan perolehan feedback seketika.

Inspite of the freedom, hendaknya kita juga berpikir bahwa tidak mungkin suatu negara berdiri kokoh tanpa didukung oleh suatu sistem peraturan yang jelas dan tegas. Kebebasan yang dicitrakan tersebut bukanlah kebebasan yang mutlak. Ada peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh warga negara maupun wisatawan yang akan berkunjung, salah satunya adalah tidak diperkenankannya anak di bawah usia 18 tahun untuk mengunjungi tempat-tempat tertentu.

Walaupun demikian, peraturan ketat tersebut tidak menyurutkan minat wisatawan yang hendak berkunjung dikarenakan WoM yang telah berkembang. Terbukti dengan banyaknya wisatawan ke negeri kincir angin tahun 2010 sebanyak 10,7 juta wisatawan (rangking 21 – World Tourism Organization) dan menjadi negara tujuan wisatawan ketujuh di Eropa. Apakah faktor kebebasan menjadi satu-satunya alasan untuk berkunjung? Menurut research oleh NBTC (Holland imago onderzoek 2008: 2009) berita tentang kebebasan memang menjadi salah satu daya tarik namun faktor penting lainnya juga sangat berperan seperti keberadaan taman bunga, kincir angin, art – culture dan kuliner. Bagaimanapun, pemerintah Belanda patut diacungi jempol karena mampu menggerakkan perekonomian warganya dengan mendatangkan devisa dari segala rumor tentang kebebasannya.

Mengingat cost efficiency dari strategi WoM, semestinya pemerintah Indonesia dapat meniru inovasi marketing tersebut dengan menonjolkan aspek keragaman beragama/budayanya, sebarkan WoM ”pingin liat alat musik tradisional yang unik? Upacara budaya yang aneh? Beragam tempat ibadah? Indonesia tuh tempatnya” sama seperti anekdot tentang Belanda ”mau hidup bebas? Ya Belanda lah” atau ”mau nikah sejenis? Nabung dulu deh biar bisa ke Belanda”. Memang sekarang sudah banyak negara yang memberlakukan sistem kebebasan yang sama, namun mari kita pikirkan sejenak, negara pertama yang keluar dari mulut perihal pernikahan sejenis atau wisata semacam red light district? Ya Belanda.

Hal-hal yang semestinya negatif namun terdengar ringan dikarenakan adanya suatu persepsi yang kuat sehingga menimbulkan rasa penasaran yang besar terhadap suatu negeri nyaman bernama ”Netherlands”. Hence, rasanya tidak berlebihan kalau Belanda dianggap sukses dalam inovasi strategi marketingnya dan dijuluki sebagai negeri word-of-mouth.

– ditulis oleh Tinton Yudhianto

Iklan

1 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

One response to “#261 Belanda: Negeri Word-of-Mouth!

  1. Wait for me “the WoM country”… I hope I’ll be @Floriade this year! 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s