#269 Ke Belanda, Pulang Ke Nusantara

“Naar jou alleen, naar jou verlangt mijn hart”. Sepotong kalimat yang cukup romantis dari sebuah tembang keroncong berjudul Schoon Ver Van Jou yang dinyanyikan oleh Bram Aceh dan sering saya putar. Sebuah hasil akulturasi budaya Indonesia-Belanda.

Oke, dalam tulisan ini saya mencoba mengutarakan pandangan saya tentang kreativitas Belanda dari pendekatan budaya dan sejarah. Berhubung saya orang Indonesia dan tulisan ini tentang Belanda, jadi isi tulisan ini ya berkaitan dengan keduanya, Indonesia dan Belanda.

Beberapa hari yang lalu, seorang dosen paleoantropologi di kampus saya menuturkan, “Kita itu sebenarnya memiliki begitu banyak fosil untuk dikaji, namun kok malah negara-negara lain yang tidak memiliki fosil hominid yang lab-nya paling maju. Seperti Belanda, disana sastra Jawa menjadi bahan kajian yang bahkan orang-orang kita ke sana untuk mempelajarinya”. Pernyataan beliau tersebut menginspirasi saya judul di atas, “Ke Belanda, Pulang Ke Nusantara”. Ya, banyak pelajar Indonesia datang ke Belanda untuk “pulang” ke Nusantara.

Dalam beberapa cerita sejarah yang saya tahu, Jawa menjadi kawasan vital di masa pendudukan belanda. Saya di sini tidak akan memojokkan Belanda sebagai penjajah. Kalau pun ada banyak kisah yang terkesan negatif seperti kerja paksa di masa pendudukan Belanda, saya sudah memaafkan kok, ha ha ha. Saya pribadi berterimakasih pada Belanda untuk beberapa hal. Salah satunya, Belanda berjasa dalam memajukan teknologi di Indonesia pada masa pra-kemerdekaan. Di samping itu, Belanda juga berperan dalam memajukan pendidikan di Indonesia pada masa berlakunya Politik Etis.

Pendudukan Belanda di Indonesia tentunya memberikan manfaat tersendiri bagi para pengkaji ilmu pengetahuan. Salah satunya ya pengamat budaya. Budaya Jawa menjadi salah satu objek pembelajaran tersendiri bagi mereka.

Para pengkaji budaya asal Belanda membawa pulang budaya Jawa untuk dikaji. Salah satunya ya berupa karya sastra Jawa. Mencurikah? Oh bukan. Saya tidak beranggapan seperti itu. Saya yakin mereka mengkaji budaya Jawa karena tertarik dan mencintai budaya tersebut. Dan di sisi lain saya bahkan berterimakasih untuk semua itu. Eyang putri saya tinggal serumah dengan orang tua saya di Purworejo. Dalam koleksi bukunya, saya menemukan sebuah buku kuno karangan J. Kats yang berisi kutipan serat-serat Jawa yang ditulis dalam Aksara Jawa Baku kecuali bagian voorwoord yang ditulis dalam bahasa Belanda. Dan yang membuat saya terkesan, Buku itu ditulis oleh penulis Belanda dan Belanda juga yang menerbitkan buku itu pada tahun 1914. Saya memang seorang pemuda yang punya ketertarikan tersendiri terhadap budaya klasik Jawa khususnya beberapa serat masa Mataram Islam. Saat saya mencoba membaca buku tersebut, ternyata ada beberapa pakem (aturan) penulisan huruf Jawa yang belum terlalu saya fahami karena tidak seperti karya sastra Jawa yang umumnya berupa tembang, buku ini berupa prosa. Karena itu maka saya berterimakasih. Walaupun kadang dianggap mencuri, namun Belanda justru turut menjaga budaya Nusantara yang mulai dilupakan oleh bangsa Indonesia.

Nah, lalu dimana kreativnya? Ya itu tadi, Belanda membawa pulang budaya Nusantara dan menyebabkan orang Indonesia berbondong-bondong datang kesana untuk mempelajarinya. Mungkin satu saat nanti kalau saya diberi kesempatan belajar ke Belanda (itu harapan saya, haha), saya akan membawa pulang budaya Belanda dan mengkajinya. Jadi nanti giliran orang Belanda yang belajar ke Indonesia, ha ha ha.

– ditulis oleh Wisnu Anindyo Jati

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s