#278 Belajar Dari Bangsa Yang Besar: Kreatifitas dan Ilmu Pengetahuan

Albert Einstein pernah mengatakan “Imagination is more important than Knowledge” – dimana tersirat di dalamnya, bahwa “kreatifitas” tidak di batasi oleh (bahkan) ilmu pengetahuan.
Orang Belanda sangat suka “berimajinasi” atau “berkreasi”. Seperti yang kita sudah tahu berbagai macam kreasi mereka di bidang tata ruang, tata kota, energi, dan sepakbola. Tentunya tak ketinggalan pula di bidang seni.

Seniman yang paling terkenal di Belanda- tak lain lagi adalah Vincent Van Gogh, seorang pelukis Belanda dari masa Post-Impressionism, yang  dianggap sebagai salah satu pelukis terbesar di dalam sejarah besar seni Eropa- dan mampu menghasilkan lukisan yang terbaik dan paling mahal di dunia.
Awalnya lukisannya juga mengikuti era yang ada. Tetapi dengan ketidakpuasannya terhadap pengekangan ekspresi seni oleh standar impresionisme itu sendiri- membuat ia beralih pada gaya ekspresionisme.
Kreatifisme dan jiwa seninya berkembang pesat di sini- seperti katak yang baru keluar dari tempurung. Dia menciptakan mahakarya yang terkenal sampai sekarang- seperti seri lukisan Cypresses-nya- yang menghasilkan salah satu karya terbaik sepanjang masa yaitu De sterrennacht.

Seniman pendobrak lain di Belanda adalah Theo Van Doesburg- pengagas sebuah gerakan seni yang bernama De Stijl,  yg dikenal dengan neoplasticism– yang berusaha memenuhi keinginan masyarakat dunia mengenai sistem keharmonisan baru, dengan pemikiran utopia yang sederhana. Dimana komposisi visual menjadi bidang dan garis horisontal-vertikal, dengan warna-warna primer saja- intinya de stijlmemperkenalkan sebuah bentuk yang abstrak namun sederhana. Gerakan seni ini bukan hanya di bidang seni lukis saja tetapi menyeluruh masuk ke seni tata kota, arsitektur, seni murni, seni terapan bahkan di dalam filosofi.

Kemudian di dalam seni Musik ada Accordéon Mélancolique– duo akordion dari Belanda- yang salah seorang personilnya bahkan lahir di kota Jakarta, yaitu Cherie de Boer dan Jean-Pierre Guiran. Mereka pernah tampil di hadapan Bill dan Hillary Clinton, putra mahkota Belanda Willem Alexander dan mantan perdana mentri Belanda Wim Kok. Mereka berhasil merilis 5 CD album- dan bahkan musik mereka di terbitkan dalam bentuk partitur.
Nah uniknya mereka, mereka mengkomposisi musik mereka bukan hanya dari kultur Belanda saja, tetapi bahkan mengkombinasikannya dengan musik dari negara lain, seperti Tango Argentina, musik tradisional Italia, Yahudi dan Yunani, gipsi, Musette’s Waltz Perancis, swing, Merengue Republik Dominika, Waltz dari Antillen Belanda , dan bahkan Musik Keroncong Indonesia.

Melihat seniman-seniman Belanda dari berbagai Bidang di mana Van Gogh, mendobrak pakem impresionisme, kemudian Van Doesburg yang mempelopori gerakan seni abstrak sederhana- yang diikuti oleh pelukis Piet Mondrian, pemahat Vantongerloo, dan bahkan arsitek J.J.P. Oud. Lalu Accordéon Mélancolique yang mengkomposisi musik bukan hanya dari seni musik tradisional Belanda saja.
Di sini kita dapat lihat bahwa kreatifitas orang Belanda, jauh melebihi “ilmu pengetahuan” itu sendiri-  dan mendobrak pakem-pakem yang ada.
Dari situ kita bisa belajar bahwa kreatifitas tidak hanya dari “buku pelajaran” ataupun status “gelar” baik dalam seni, pendidikan maupun jabatan. Tapi jauh melebihi itu- untuk menciptakan sebuah inovasi- suatu saat kita harus melangkah keluar dari “standar pikiran” kita.  Mungkin statement “seperti katak dalam tempurung” bermaksud seolah menyindir “otak” kita yang selama ini “berdiam” di dalam tengkorak kepala kita- dan bangsa Belanda menyadarkan kita- bahwa kreatifitas tidak melulu sesuai standar yang baku.

– ditulis oleh Aria R.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s