#296 Disiplin sebagai Komponen Pendukung Sebuah Perwujudan Mimpi

Seburuk apapun torehan sejarah, bangsa Belanda telah membangun infrastruktur di bumi pertiwi, bahkan ketahanannya masih dapat dirasakan manfaatnya hingga saat ini, meskipun tujuan awal pembuatannya adalah untuk percepatan pencapaian kekuasaan wilayah. Berandai dapat memutar waktu, dan sejenak membentangkan benak kita pada kondisi geografis masa lalu yang sama sekali belum terjamah tangan “sang perubah”, maka kemungkinan besar rel kereta, stasiun, jembatan, gedung pos, tempat ibadah maupun istana tidak akan tegak sebagaimana terlihat pada peninggalan kota-kota tua di negeri ini. Kalaupun tercipta kemajuan, akan lebih terinspirasi dari kejayaan kerajaan nusantara yang tak kalah indahnya. Peninggalan zaman Belanda, istilah yang sangat akrab kita dengar tatkala melihat bangunan fisik khas Eropa ini masih kokoh berdiri . Tulisan ini tidak untuk membandingkan keberadaan keistimewaan antara timur dan barat, tetapi lebih terfokus pada optimalisasi pendayagunaan sumberdaya yang kita petik proses pembelajarannya dari para penguasa yang datang dari negeri tulip ini.

Bangsa Belanda memiliki adab disiplin yang sangat baik, dan dengan disiplin ini merupakan akar yang dapat menopang segala bentuk kegiatan menjadi taat konsekuensi. Disiplin merupakan alat utama mewujudkan mimpi maupun perencanaan. Dalam rangka membangun sebuah pemerintahan, kedisiplinan bukan hal yang dapat ditawar lagi. Disiplin dalam merencanakan, disiplin pula dalam melaksanakan. Disiplin membutuhkan pengorbanan, namun segala hal memang harus diraih dengan pengorbanan, mengesampingkan segala bentuk ego dengan visi perbaikan kondisi.

Adab disiplin inilah yang sangat baik ditularkan bagi kita sebagai negara yang terus berkembang untuk maju. Sejatinya bukan hal mustahil apabila ibukota pemerintahan bukan lagi di Ibukota negara seperti sekarang ini, ataupun pembangunan kota yang lebih merata, meskipun segalanya akan dimulai dari nol. Beban berat yang harus dipikul Ibukota oleh karena didiami berjuta jiwa, ruang gerak semakin sempit serta kemacetan lalulintas menjadi bagian warna kehidupan. Di tempat manapun, pada tahap awal selalu dipenuhi dengan tantangan berat untuk menciptakan sesuatu, dari yang tidak ada menjadi ada. Tentu akan selalu ada permasalahan geografis, perubahan kulturasi dan proses adaptasi. Namun dapat ditanggulangi dengan telah dibekalinya pengetahuan yang mumpuni, pendidikan berkualitas dan pengalaman yang telah mapan serta motivasi untuk memperbaharui suatu keadaan. Hal ini merupakan modal sangat utama tak ternilai harganya yang dibutuhkan dalam membangun sebuah tatanan kehidupan baik dalam pemerintahan, tata kota, adab perilaku tanpa mengganggu pelestarian budaya.

Disiplin, setia pada komitmen, sungguh-sungguh, fokus, memiliki perencanaan yang sistematis, terealisasi, yakin dengan perubahan yang signifikan, adalah dambaan masyarakat Indonesia terhadap kemajuan bangsanya. Dulu, kita belum punya banyak putra cendekia, namun sekarang tidak dapat lagi terhitung dengan jari bahkan dari berbagai disiplin ilmu. Artinya, potensi besar ini sangat memungkinkan terwujudnya wilayah baru yang segar sebagai upaya dalam penyehatan pemerintahan dan urbanisasi, sebagaimana pada pemipimpin Belanda datang kemari pada saat negeri ini masih dalam keadaan belantara.
Sebagai inspirasi pembangunan infrastruktur mendasar.

– ditulis oleh Fenny Raharyanti

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s