#301 Belanda Mengubah Pertanyaan Menjadi Penghasilan

Mari kita renungkan, kapankah kita terakhir kali bertanya? Ketika kita tersesat di jalankah? Kebanyakan dari kita merasa malas untuk bertanya meskipun kita mempunyai kesempatan, misalnya saat berada di kelas bersama guru/dosen. Kondisi ini berbanding terbalik dengan orang-orang Belanda yang senang bertanya, baik itu pada diri sendiri, orang lain, ataupun ketika melihat kondisi sekelilingnya. Mereka telah dibiasakan untuk memiliki rasa keingintahuan sejak kecil dan ketika mengenyam pendidikan.

Ketika kita sedang makan bersama teman, keluarga, atau pacar, dan tiba-tiba mereka meninggalkan meja makan padahal kita belum selesai makan, pasti kita merasa tidak enak. Hal itu dirasakan juga oleh seorang desainer muda lulusan School of Arts di Breda, Marleen Jansen. Dia memikirkan bagaimana agar ketika kita sedang makan bersama seseorang, orang itu tidak meninggalkan meja makan terlebih dahulu? Lalu lahirlah ide untuk membuat ‘Tafelwip’, sebuah meja makan yang terintegrasi dengan kursi berbentuk jungkat-jungkit seperti sebuah permainan di Taman Kanak-kanak. Kita harus makan berdua dan menyeimbangkan beban. Jika salah seorang pergi, tentu akan menjadi tidak seimbang dan kita tidak bisa makan di meja makan ini.

Seorang desainer Belanda lainnya yang bernama Marco Manders bertanya pada dirinya sendiri, mengapa di Belanda ketika kita ingin duduk di kursi taman, kita sulit menemukan kursi yang kering dan bersih? Dia berusaha keras untuk menciptakan jawaban dari pertanyaannya sendiri dan terinspirasi dari bunga nasional Belanda, maka lahirnya Tulpi. Kursi menyerupai tulip yang akan selalu kering meski disimpan di tempat terbuka, mudah dibersihkan, terbuat dari polythene yang 100% dapat didaur ulang dan anti bakteri. Tulpi dapat berputar 360° dan tersedia dalam berbagai warna seperti halnya bunga tulip. Kini Tulpi sudah tersedia di Jepang dan Rusia.

Lain halnya dengan Marijn Beije, untuk mengerjakan proyek kelulusannya dari Design Academy Eindhoven, terbersit dalam pikirannya bahwa di Belanda ada banyak taman tetapi tidak terlalu banyak orang yang keluar dan menikmati alam. Bagaimana cara membuat alam lebih menarik bagi manusia? Dari pertanyaannya itu, terciptalah Free Floating. Sebuah pondok mini terapung yang dirancang dan dibangun untuk pengunjung taman. Dengan Free Floating ciptaannya, Marijn ingin membuat alam lebih menarik untuk masyarakat umum dan dia ingin berusaha membuat orang keluar dari rumahnya, jauh dari TV dan gagdet mereka sehingga mereka lebih menghargai alam. Dalam satu unit Free Floating terdapat dua tempat tidur yang langsung menghadap ke alam, dek, kamar mandi, dan menara pengintai yang cukup tinggi untuk melihat burung-burung dari sana. Kini Free Floating sudah diproduksi dan dijual untuk umum.

Banyak orang kreatif Belanda yang menciptakan suatu karya unik dan inovatif berdasarkan pertanyaan yang muncul dalam diri sendiri, terhadap orang lain dan lingkungan sekitar. Dalam hal ini sistem pendidikan Belanda dengan kurikulum problem-based learning system yang melatih siswa untuk menganalisis dan memecahkan masalah secara mandiri disertai dengan interaksi antarsiswa berperan penting. Pemerintah juga mendorong lembaga pendidikan untuk memasukkan ‘keterampilan kewirausahaan’ dalam kurikulum mereka sehingga dengan ide kreatif dan keterampilan yang mereka miliki, mereka diharapkan berwirausaha. 1 dari 8 orang di Belanda adalah wirausahawan. Itulah cara Belanda mampu mengubah pertanyaan menjadi penghasilan melalui produk inovatif yang mereka hasilkan yang dijual tak hanya di Belanda tetapi ke seluruh dunia.

– ditulis oleh Ricky Mardiansyah

7 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

7 responses to “#301 Belanda Mengubah Pertanyaan Menjadi Penghasilan

  1. @Andika: Ah iya benar sekali… Saya juga pernah belajar Pengantar Filsafat waktu kuliah. Iya memang benar, bertanya lebih sulit ^^ Mungkin karena itu kita jadi jarang bertanya 😀

    @Hanida: Terima kasih banyak 🙂

  2. hanida

    it’s when science and art blended perfectly. very great and inspiring article!

  3. dalam mata kuliah filsafat ilmu, ilmu juga diawali dengan sebuah pertanyaan, sama seperti penelitian dan riset yang juga diawali dengan sebuah pertanyaan. saya sepakat, kreativitas juga diawali dengan pertanyaan…. kadang bertanya itu lebih sulit dibandingkan dengan menjawabnya…

  4. Makasih banyak Nadya! 🙂
    Iya…orang Belanda banyak yang seperti itu. Semoga kita juga bisa seperti mereka ya! 😉

  5. Nadya Saraswati

    saya suka sekali artikel ini, dari pertanyaan sederhana kemudian lahir karya yg bermanfaat, marvelous ! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s