#328 Holland-phobia

Ngomongin Belanda? Duh, males banget deh. Suer, saya termasuk orang yang antipati dengan negeri tulip ini. Tahu sendiri kan, sejak jaman kita kuncir dua sampe SMA, buku-buku sejarah di sekolah sudah men-cap negatif Belanda sebagai negara penjajah yang kejam dan tak berhati nurani. Jadi, dalam benak saya telah tertanam bahwa betapa pun hebatnya Belanda, bangsa tersebut tetaplah bangsa yang bengis karena telah menginjak-injak harga diri Indonesia.

Masuk bangku kuliah, sikap anti-Belanda masih melekat dalam diri saya. Terlebih ketika media massa marak memberitakan mengenai salah satu anggota parlemen Belanda yang bernama, Geert Wilders. Dalam beberapa kolom berita, Wilders diberitakan mengusung kebijakan anti-islam dan menyeru untuk tidak mempekerjakan kaum imigran. Setelah membacanya, makin geram lah saya dibuatnya. Saya serta merta berpendapat bahwa semua orang Belanda pasti memiliki pemikiran sama seperti Wilders. Orang Belanda itu pasti egois, nggak welcome sama orang asing, dan mereka nggak akan peduli dengan bangsa ex-jajahannya kayak Indonesia, begitulah suudzon (pikiran negatif) saya terhadap the Dutchman.

Namun, Holland-phobia (atau apapun istilahnya bagi sikap antipasti pada Belanda) saya mulai runtuh sedikit demi sedikit ketika saya dipertemukan oleh beberapa orang purna praja (lulusan IPDN) yang mengadakan seminar beasiswa di kampus. Ketika itu saya hanya mencoba untuk menggali informasi mengenai beasiswa di Jerman dan Australia. Tidak terbersit sedikit pun untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana pendidikan di Belanda karena saya sudah terlanjur anti pada negeri kincir angin. Usai seminar, tak dinyana saya malah beruntung mendapatkan brosur dan CD info beasiswa yang lengkap dan punya referensi terpercaya.

Eits, tunggu.. tunggu.. kok hampir semua tujuannya ke Belanda ya? Dalam hati, sebenarnya saya ingin menolaknya karena saya tidak berminat ke Belanda, “ngapain juga kesana? Pasti suasana kuliahnya nggak asyik banget.” Tapi untuk menghargai pemberian alumni, saya terima saja meski agak kecewa.

Tiba di asrama, saya hanya membiarkan brosur dan pamphlet beasiswa Belanda tergeletak begitu saja di meja, tak tersentuh sedikit pun. sampai suatu hari saat saya sedang merapikan tumpukan kertas dan folder, saya menemukan CD itu teronggok di ujung rak. Lantaran iseng, saya coba putar dan wow… Subhanalloh, apa yang di benak saya mengenai Belanda terdobrak seketika. Film pendek itu begitu meyakinkan saya bahwa bangsa yang terkenal dengan kincir anginnya tersebut sangat terbuka dengan warga asing, bahkan kehidupan budaya mereka sangatlah beragam, Belanda selalu memadukan sejarah dan budaya tradisional dengan inovasi, modernitas dan orientasi internasional. Terus yang bikin kebelet ngacir kesana adalah event Parkpop tahunan pada bulan Juni di Den Haag, yang merupakan festival musik gratis terbesar Eropa.

Glekk.. saya baru bener-bener melek sekarang, bayangan buruk Belanda pun sirna! Berganti menjadi mimpi untuk menjelajahi Groningen hingga Zeeland. Dan lucunya, pikiran saya berubah melalui film pendek berdurasi lima menit saja. Uraian kreatifitas Belanda di berbagai sektor, termasuk pertanian dapat menyumbang 20% dari pendapatan nasional, padahal sebagian besar wilayah Belanda berada di permukaan laut yang tergenang oleh air digambarkan begitu nyata. Belum lagi bila berbicara di bidang industri, siapa yang tak kenal Unilever? Shell? Dan Philips? Meski telah berusia di atas 70 tahun, namun produksi mereka begitu mendunia dan kualitas produknya tak usah diragukan lagi.

Duh.. abis nonton, saya jadi tengsin ni, mau nggak mau sekarang saya mengakui: “ik ben verliefd op Netherland!”

– ditulis oleh Hasna Azmi F.

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s