#365 Belanda dalam Jejak Multatuli dan Anne Frank

“Di Amsterdam, jika kita berjalan kaki dari rumah kelahiran Multatuli di jalan Korsjespoorsteeg 20 (sekarang Museum Multatuli), ke arah jalan Herrengracht, kita akan bertemu patung Multatuli di atas jembatan, kemudian jalan menurun ke kanan, di jalan Prinsengracht 263 tibalah di rumah persembunyian Anne Frank, maka jejak kaki kita akan membentuk huruf V. Apakah huruf V tersebut masih punya arti Victory alias kemenangan? Atas nama kemanusiaan, tentu saja ya. Dua penulis yang hidup di dua era berbeda: kolonialisme dan Perang Dunia II itu tak disangka, ternyata bertetangga. Hanya dalam hitungan menit, dua kaki kita bisa menjangkaunya.”

Pertama membaca tulisan Sigit Susanto di atas, saya jadi berpikir: di tengah keangkuhan Belanda (dulu) menjajah bangsa lain ternyata masih ada “suara perlawanan” dari negerinya sendiri. Anne Frank memang bukan penduduk asli Belanda, tetapi ia menulis catatan harian The Diary of a Young Girl yang diterbitkan pada tahun 1947. Gadis kelahiran Frankfurt 12 Juni 1929 itu pada tahun 1933 mengungsi ke Belanda karena tekanan tentara Nazi, Jerman.

Apa yang dilakukan Anne Frank, sebelumnya pernah dilakukan Multatuli. Penulis kelahiran Belanda ini bernama asli Eduard Douwes Dekker. Di usia 18 tahun Multatuli meninggalkan Belanda ke Indonesia. Kesaksian Multatuli terhadap ketidakadilan di tanah jajahan membuat ia tak bisa menyembunyikan rasa kemanusiaannya. Ia menulis novel Max Havelaar. Dalam bukunya itu, Multatuli bukan mendukung agresi Belanda, sebaliknya, ia menulis perihal kebebasan, kemanusiaan, keadilan dan kemerdekaan.

Baik Anne Frank maupun Multatuli, keduanya menjadi penulis besar justru karena mereka merindukan kebebasan dan kedamaian. Multatuli menggugat kolonialisme Belanda lewat tokoh-tokoh fiktifnya. Anne Frank mengutuk tragedi kemanusiaan (khususnya pembantaian Nazi yang anti-Yahudi) dari bilik persembunyiannya di Belanda lewat tokoh imajiner, Kitty.

Dua penulis besar yang memiliki masa lalu di Belanda itu, memberikan pelajaran hidup bagi kita bahwa buku yang ditulis bukan sekadar tumpukan ide dalam kata-kata, lebih dari itu, ia adalah bahasa perlawanan—dalam bentuknya yang lain. Berkat novel Max Havelaar, karya yang paling banyak dibaca terkait dengan dokumentasi kolonialisme Belanda di Indonesia, kita tak mudah lupa betapa sejarah Indonesia adalah sejarah melawan luka. Tersebab catatan harian Anne Frank, karya yang paling banyak dibaca terkait dengan rezim fasis Nazi di Jerman serta mozaik perlawanan di Belanda, kita akan terus mengingat tentang perjuangan kemanusiaan yang harus dibayar mahal. Kedua karya besar ini, kata Sigit Susanto, tergolong literasi antitirani.

Tempat persembunyian Anne Frank sekarang dijadikan museum. Museum ini, tulis M. Mushthafa, bukanlah museum biasa. Siapapun yang menyusuri ruang-ruang kecilnya yang penuh dengan sejarah pasti akan dengan cukup mudah terlibat secara emosional ke dalam situasi yang ingin digambarkannya. Negeri Belanda—meski pernah menjadi bagian dari sejarah kelam bangsa kita—tetap menebar kerinduan bagi saya. Setidaknya, Multatuli dan Anne Frank-lah yang membuat sisa-sisa kepongahan Belanda di masa lalu luntur.

Multatuli meninggal 19 Februari 1887 di Nieder-Ingelheim, Rheinhessen, Jerman. Anne Frank meninggal pada Maret 1945 di negara yang sama, Jerman. Namun demikian, keduanya memiliki catatan ritmis tentang Belanda, hidup, perjuangan, kebebasan dan kemanusiaan. Saya selalu bermimpi untuk menyusuri jejak-jejak Anne Frank dan Multatuli di tanah persaksiannya: Belanda. Entah kapan!

– ditulis oleh Naufil I. Kr

Iklan

2 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

2 responses to “#365 Belanda dalam Jejak Multatuli dan Anne Frank

  1. Naufil

    ayo k sana bareng!

  2. dhika

    Membaca tulisanmu, jadi ingin ke Belanda jg. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s