#372 Sebuah Pencerahan dari Negeri Tulip

Saya bukan orang yang pernah pergi mengenyam studi di Belanda. Sekedar untuk singgah ke sana saja masih berupa impian yang sampai saat ini saya masih berusaha mewujudkannya. Awal ketertarikan saya tentang studi ke Belanda adalah ketika saya berkesempatan untuk menemani 2 orang berkebangsaan Belanda untuk magang dan melakukan riset di komunitas pekerja seks Sosrowijayan.

Mereka adalah Bess Doornboss dan Maya Westerhof. Dua teman ini datang di suatu siang ke kantor tempat saya menjadi relawan pengorganisasian komunitas yang termarjinalkan. Mereka sedang datang ke Indonesia dalam rangka menyelesaikan tugas akhir di perguruan tinggi yang sedang mereka tempuh. Bess melakukan riset mengenai kehidupan pekerja seks di Sosrowijayan atau yang lebih dikenal dengan “sarkem” dan Maya magang di LSM kami.

Suatu saat saya sempat iseng bertanya mengapa dia sampai jauh-jauh ke Indonesia untuk melakukan riset mengenai pekerja seks. Karena kalau sejauh yang saya tahu, di Indonesia riset kebanyakan dilakukan di Indonesia sendiri atau kalau perlu tidak perlu jauh-jauh untuk melakukan riset, apalagi jika riset tersebut adalah riset untuk syarat kelulusan. Dia bilang justru dengan melakukan riset di lain tempat (lain negara) ada rekomendasi yang bisa disumbangkan karena kalau melihat pekerja seks yang ada di Belanda, mereka sudah jauh di depan ketika berbicara mengenai HAM. Meskipun kemudian, memang karena negara dan pemerintah sudah membangun sistem yang yang mempunyai perspektif HAM juga. Mungkin salah satunya itu yang dibutuhkan di Indonesia, jelasnya. Saya terus terang kaget dengan statement pendek, namun lugas yang diberikan Bess.

Saya kira, kalau kebanyakan mahasiswa Indonesia tidak terlalu perduli dengan permasalahan disekitar mereka itu bukan karena mereka yang tidak perduli, namun karena sistem pendidikan di Indonesia tidak serta merta membuat peserta didik menjadi seorang yang peka. Berbeda dengan yang saya tangkap dari beberapa teman yang pernah mengenyam studi ke Belanda atau belahan dunia lain misalnya.

Sistem pendidikan yang diterapkan di Belanda cenderung membuat peserta didik menjadi proaktif. lembaga pendidikan adalah sebuah sarana untuk memfasilitasi keingintahuan peserta didik bukannya malah membuat peserta didik enggan berfikir yang lain kecuali hal akademis. Lebih penting lagi adalah bagaimana fenomena-fenomena yag terjadi dalam kehidupan sehari-hari itu adalah hal yang bisa dipandang dari berbagai sudut pandang, maka fungsi pendidikan adalah memberikan berbagai macam sudut pandang tersebut. Itulah kemudian kenapa mahasiswa Belanda seperti Bess misalnya bisa memandang sebuah realitas dengan cara pandang yang beragam. Kalau saja sistem pendidikan di Indonesia bisa seperti itu, maka kita tidak akan pernah diajarkan untuk menjadi judmental dan hanya berfikir secara parsial saja.

Tapi seperti semua perubahan yang butuh proses, semoga sistem pendidikan di Indonesia sedang berproses untuk lebih baik.

– ditulis oleh Fita Purwantari

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s