#373 Sejenak Bersemayam di Duri (Belanda)k

Tulisan ini akan saya awali dengan “segelintir” pengalaman hidup yang mungkin bisa berelasi erat dengan tujuan tulisan ini. Sore ini saya kembali hidup dengan gaya konservatif yang sangat mutlak. Tidak ada perubahan, tidak ada sesuatu yang baru, kecuali siklus natural yang dimotori oleh nafsu rendah sebagai manusia. Saya mencoba memainkan biola yang sudah lama berdiam dalam kotak yang rapi, dan lagi-lagi tak satupun lagu yang bisa dimainkan dengan jernih, semuanya nada berantakan, sekalipun yang saya mainkan hanya bait sederhana dari sebuah lagu wajib nasional. Jari saya kesemutan, dan entah mengapa nafas pun latah untuk menjadi sesak. Namun saya cukup beruntung bertemu dengan situasi ini , situasi dimana saya dapat menuliskan sebuah pendapat saya mengenai negeri Belanda.

Ya, dunia ini mungkin dipadati oleh dua macam manusia, yakni manusia yang mengetahui banyak hal, dan terdapat manusia yang mengetahuisatu hal besar. Sadar atau tidak, kebanyakan dari manusia lebih memilih hidup untuk menjadi seorang yang mengetahui banyak hal, mungkin termasuk saya. Saya mungkin mengetahui tentang sepakbola, biola, filsafat, matematika, fisika, politik, agama, dan berbagai hal lainnya, namun sangat disayangkan tak satupun dari banyak hal itu yang saya kuasai secara maksimal, semuanya serba rata-rata, atau mungkin sekedar tahu layaknya biola yang hingga saat ini tak saya pelajari dasar-dasarnya.

Hasilnya, semua hal yang diketahui itu hanya berujung kepada percakapan harian yang tak tentu arah, dan terkadang mengetahui banyak hal juga membuat kita pongah, congkak, apapun itu karena bisa memberi kesan pada banyak orang, meskipun yang ia bicarakan tersebut saling kontradikitf, samar-samar lebih tepatnya.

Lantas dimana hubungannya dengan kreativitas orang-orang Belanda?. Saya berpendapat bahwa pikiran kreatif masyarakat Belanda tak lain adalah hasil dari pilihan mereka untuk menjadi orang yang mengetahui satu hal besar. Mengetahui satu hal besar bukan berarti tak mengetahui banyak hal, namun justru mengetahui satu hal besar adalah pikiran yang mampu merelasikan berbagai hal ke dalam suatu visi yang central, jelas, dan yang terpenting tidak mabuk dalam logika yang kontradiktif.

Tentu, Belanda tak perlu lagi berkoar-koar tentang bukti akan kreativitas mereka ke dunia global, karena disamping memang sudah terlihat dengan jelas, biasanya yang berkoar-koar justru orang yang tak memilki apa-apa sehingga ia perlu tampil untuk meyakinkan khalayak ramai. Hal ini sesuai dengan salah satu moto masyarakat Belanda, yakni “janganlah terlalu membesar-besarkan diri”. Moto tersebut tak sekedar kata-kata mutiara, namun dengan moto itulah pikiran masyarakat Belanda selalu sibuk untuk mencari sesuatu yang baru, bosan untuk hidup dalam kondisi yang “rata-rata”, dan yang paling penting tidak sibuk untuk berkoar-koar ke dunia luar tentang sebesar apa yang telah mereka kerjakan.

Sebagai penutup, mengutip sebuah kalimat dari puisi kuno yunani dari Archilous, yakni: The fox knows many things, but the hedgehog knows one big thing,”. Saya sekali lagi bersyukur dan berharap, perjumpaan saya dengan pikiran kreatif masyarakat Belanda adalah semacamTramendum et faci nosum bagi pikiran saya, sebuah perjumpaan yang menyintil kulit ini dengan duri kreativitas “landak” itu dan pastinya akan sangat sempurna ketika saya juga mendapatkan kesempatan untuk hidup sejenak dengan “landak” (hedgehog) yang mengetahui satu hal besar tersebut, yakni Negeri Belanda.

– ditulis oleh Irsyad


Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s