#375 Re(Kreasi) Peng(anggur)an Ala Belanda

Dalam beberapa momen, judul dari artikel ini memang agak bersifat “tak tentu”. Bagaimana mungkin kata pengangguran menjadi sebuah objek rekreasi, apalagi rekreasi tersebut harus dilakukan oleh kita ke salah satu negeri di belahan Eropa, Belanda.

Namun tanda kurung yang digunakan pada judul diatas adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan imajiner tersebut. Kita memang sedang membicarakan dua kata tersebut (rekreasi dan pengangguran) dalam tulisan ini, tetapi dua kata tersebut sedikit dimodifikasi yang membuatnya berbeda dalam common sense kita selama ini.

Hal pertama yang perlu dibahas adalah pengangguran yang terjadi di Belanda. Data terakhir menyebutkan bahwa angka pengangguran Belanda mengalami signifikansi sebagai efek atas krisis yang melanda Eropa akhir-akhir ini. Angka pengangguran di Belanda saat ini berkisar pada 5.9 % atau sekitar 800 ribu jiwa[1] . Namun peningkatan tersebut tidak mempengaruhi posisi Belanda sebagai Negara kedua di Uni Eropa dengan tingkat penggangguran terendah dibawah Austria.

Fakta tersebut adalah sebuah modal yang memperlihatkan bagaimana relasi Belanda dengan konsep pengangguran. Pengangguran memang bukanlah sebuah masalah yang mudah untuk diselesaikan, ia selalu hadir dalam menggerogoti semangat manusia untuk berkesistensi dalam keterlemparannya di dunia. Tak heran jika pengangguran menjadi masalah dalam pembahasan ekonomi makro di setiap Negara. Namun disinilah kita bisa belajar dari Belanda, atau setidaknya bisa melihat betapa cerdasnya masyarakat Belanda dalam memperkerjakan kata re-kreasi sebagai konsep antagonis atas pengangguran.

Re-kreasi adalah wujud dari kreativitas Belanda dalam memformulasi pengangguran sedemikian rupa, sehingga tidak ada alasan untuk menjadikannya sebagai jalan buntu bagi peradaban sebuah bangsa. Dalam pendapat penulis, formulasi dari re-kreasi tersebut dapat dilihat dari kata peng(anggur)an itu sendiri. Penulis memberikan tanda kurung pada kata tersebut sebagai pendapat atas bagaimana Belanda mencoba melimitasi konsep pengangguran dalam rangka menghindari adanya kegalauan saat masyarakat berhadapan dengan pengangguran.

Layaknya fungsi limit dalam matematika yang mencari turunan yangfinite, Belanda tampaknya mengerjakan fungsi tersebut. Artinya, pengangguran selalu dievaluasi dengan pendekatan berbagai macam suplemen dalam rangka mengkreasikan permasalahan seperti apa yang termuat dalam pengangguran itu sendiri, dan yang paling penting dengan limitasi tersebut, akan selalu terbuka kemungkinan untuk mengurai solusi yang setidaknya mampu mendekati inti permasalahan yang ada.

Disisi yang sama, pendidikan juga menjadi aspek penting yang selalu mengiringi limitasi dan evaluasi tersebut. Jika dilihat dari fakta yang menujukkan angka pengangguran berkisar di umur 15-24, maka pendidikan menjadi senjata yang paling rasional untuk menjadi solusi. Data objektif yang mengungkapkan  mengenai kualitas pendidikan Belanda[2], adalah jawaban nyata bagaimana SDM selalu dipersiapakan dalam rangka menekan angka pengangguran namun tetap memperhitungkan kualitas.

Re-kreasi pengangguran mungkin adalah gambaran dari kreativitas Belanda, namun sekaligus juga dapat dikatakan sebagai rekreasi dalam bahasa keseharian kita, sebuah perjalanan wisata pikiran kita terhadap bagaimana Belanda menjadikan pengangguran sebagai kajian yang tiada batas dalam skalar ekonomi makro hingga mikro sekalipun.

Evaluasi melalui inovasi tiada henti membuat penulis melihat Belanda telah dan tampaknya akan selalu melimitasi peng(anggur)an, dan perjumpaan kita dengan kata anggur yang menjadi hasil limitasi tersebut juga merupakan sebuah gambaran dimana limitasi tersebut selalu mempersiapakan SDM berkualitas, bukan SDM yang instan, layaknya anggur yang mahal sebagai hasil proses yang “panjang” bukan sekedar anggur instan yang memenuhi pasar, namun tidak menciptakan pasar!.

– ditulis oleh Irsyad

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s