#377 The Sweety Dutch

Alam adalah sebuah media yang menyimpan begitu banyak potensi yang bisa menjadi daya tarik bagi sebuah negara. Kita semua tahu bahwa begitu banyak negara terkenal dengan keindahan alamnya, sehingga spontanitas mengantarkan mereka menjadi negara wisata. Ya, mau tak mau kita harus menyebut alam sebagai sebuah spontanitas. Alam tak bisa dikondisikan. Ia hanya bisa dijaga dan dipelihara sehingga nilai aslinya tak pernah hilang, atau bahkan dikembangkan menjadi sebuah investasi nyata dari jati diri sebuah negara. Inilah yang dilakukan oleh negara tulip, Belanda.

Siapapun yang mendengar kata tulip, pikirannya akan segera melayang pada bunga cantik mirip kuncup mawar di sebuah negara nun jauh di daratan Eropa Barat. Tulip memang telah menjadi salah satu trademark negara Belanda. Namun, siapa sangka bahwa tulip sebenarnya berasal dari kawasan Asia. Jika kita menengok ke daerah pegunungan Asia, maka kita akan melihat bunga tulip tumbuh liar disana. Salah satunya adalah pegunungan Pamir dan Hindu Kush di daerah Kazakhstan. Lalu mengapa Belanda menjadi negara yang selama ini kita kenal sebagai pemilik autentik dari bunga indah ini?

Tak banyak yang tahu bahwa pada prinsipnya bunga tulip dapat tumbuh di kawasan bersuhu rendah. Tentu saja ini mencakup negara-negara Eropa yang memang mempunyai karakteristik kawasan ini. Meskipun tulip tumbuh dan berkembang di berbagai negara di eropa, namun Belanda lah yang mempunyai inisiatif paling tinggi untuk membudidayakannya. Sejak lama, bunga tulip telah menjadi salah satu komoditi terbesar di Belanda. Meskipun seringkali mengalami fluktuasi harga dalam pemasarannya, Belanda tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas bunga tulip hingga hampir seluruh Eropa terbius dengan pesona dan daya tarik dari bunga yang berkembang melalui biji dan umbi ini.

Tak berhenti sampai disitu, Belanda terus memutar otak untuk menemukan cara mengimplementasikan kreativitasnya dalam mengolah sumber daya alam. Pada dasarnya kelopak bunga tulip hanya memiliki warna dasar hijau kebiru-biruan. Namun, berkat persilangan yang rajin dilakukan oleh para pembudidaya, kini kita dapat melihat beragam warna dan bentuk kelopak bunga tulip. Untuk kesekian kalinya Belanda melakukan kombinasi sempurna antara pengetahuan dan inovasi hingga menghasilkan daya pikat yang sangat mahal.

Kini, siapa yang tak kenal Keukenhof? Taman bunga tulip yang memiliki luas sekitar 30 hektar dengan lebih dari empat juta tulip dari 100 spesies. “Haven’t seen Keukenhof? Then you haven’t seen the Netherlands.” Sebuah kalimat yang telah menjadi gambaran publik tentang sejauh apa hubungan Belanda dan bunga tulip. Tak perlu diragukan lagi, masih banyak konten menarik yang ditawarkan Keukenhof selain pemandangan menakjubkan dari hamparan tulip warna-warni. Mulai dari art showchildren visit, hingga photography course. Keukenhof seperti sebuah media baru bagi Belanda untuk memfasilitasi kebutuhan wisata para pengunjung. Lebih dari itu, Keukenhof juga telah menjelma menjadi ajang kreativitas Belanda dalam memperlakukan alam. Tulip memang tidak diciptakan untuk Belanda tapi Belanda mampu membuat bunga tulip memilih tuannya. Setelah terkenal dengan negeri kincir, kini dunia tahu bahwa Belanda juga menjadi negeri tulip. Well, Belanda memang selalu memilih karakternya dengan inovasi dan kreativitas, bukan?

– ditulis oleh Adlian Rahmadita

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s