#379 Perlu Belajar Ramah pada Pesepeda

Salah satu lajur sepeda di Denpasar

Amsterdam, konon menjadi kota teramah bagi pesepeda setelah Oregon, AS dan Copenhagen, Denmark. Hampir setengah lalu lintas kotanya dipadati oleh hilir mudik sepeda. Kota yang mulanya sebuah perkampungan nelayan di mulut Sungai Amstel ini sukses mempromosikan sepeda sebagai kebutuhan hidup.

Amsterdam berhasil mengajak penduduknya sadar hidup sehat, tak sekadar gaya hidup. Jalur sepeda diperluas, nyaman dan memberikan rasa. Jangan heran, pesepeda di Amsterdam bisa melenggang santai tanpa takut diseruduk atau diklakson keras-keras pengendara lain.

Kota ini juga membangun 10 ribu parkir sepeda di stasiun kereta. Parkir banyak dibangun di pinggir sungai Amstel dan dipadati ribuan sepeda setiap harinya. Tapi kota ini bukan tanpa masalah. Pencurian sepeda mencapai angka 80 ribu setiap tahun. Konon, pemerintah Amsterdam punya program pencegahan pencurian yang dirancang linier dengan populasi sepeda.

Aku membaca fakta ini dari internet sebab aku belum pernah ke sana. Aku menduga ini menjadi alasan mengapa Amsterdam menjadi 12 besar kota dengan kualitas hidup terbaik di dunia versi survey Mercer . Indikatornya antara lain kesehatan (polusi udara dan pelayanan transportasi). Kondisi dan komitmen Amsterdam membangun fasilitas sepeda tentu memegang peran penting.

Aku ingin membandingkan dengan apa yang aku alami. Di kampungku, sebuah desa di kabupaten terbarat Pulau Bali, kegiatan bersepeda mulai ditinggalkan. Waktu kecil, terutama saat SD dan SMP, bersepeda adalah rutinitas bukan cuma gaya hidup. Ke sekolah, ke kebun hingga jalan-jalan ke desa tetangga. Beranjak gede, ketika motor mulai mudah dikredit, secara perlahan sepeda ditinggalkan. Kini bocah-bocah belasan tahun sudah tak lagi mengendarai sepeda, tetapi lebih senang memakai sepeda motor.

Tren memakai sepeda justru bergeser ke kota. Di Denpasar misalnya, muncul banyak peminat sepeda seperti sepeda ontel, gunung atau lipat. Tapi ya itu, kegemaran bersepeda masih hanya sebatas tren, gaya hidup dan kegiatan rekreasi. Bersepeda bukan menjadi alat transportasi utama untuk bekerja, bersekolah dan beraktivitas. SMA Negeri 3 Denpasar, sekolah yang melarang siswanya memakai sepeda motor (artinya harus naik angkot, jalan kaki, dan bersepeda) juga menghapus kebijakan ini.

Dukungan pemerintah terhadap pesepeda sebenarnya sudah lumayan. Jalur sepeda dibangun, meski hanya berupa pengecatan lajur tanpa ada pembatas yang memberikan perlindungan. Selayaknya demokrasi di jalan raya, pesepeda adalah salah satu entitas paling lemah di jalan raya. Di Jakarta, tempat aku tinggal kini, nasib pesepeda tak jauh berbeda.

Tanpa perlindungan berarti, hak pesepeda mudah diserobot haknya oleh kendaraan pribadi. Mereka kerap harus menyingkir dari penguasa jalanan: sepeda motor dan kendaraan pribadi. Tak jarang, jalur sepeda ‘dikuasai’ untuk parkir kendaraan pribadi.

Menurutku, pemerintah harus serius melindungi hak pesepeda (dan pejalan kaki tentu saja). Jika ingin menghemat pemakain bahan bakar, pesepeda harus dilindungi hak-haknya. Tak hanya pemerintah, gedung perkantoran juga membangun infrastruktur untuk pesepeda. Misalnya, tempat parkir yang aman dan kamar mandi yang nyaman. Maklum, kita adalah negara tropis dengan curah matahari ekstra tinggi. Ketika tiba di kantor, pesepeda tidak ingin bekerja dalam keadaan gerah, kan?

Ini adalah tantangan bagi semua pemangku kepentingan. Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Belanda, rasanya, layaknya politik etis tidak keberatan untuk berbagi. Tinggal, apakah pemerintah dan kita serius untuk membenahi infrastrukturuntuk persepedaan. Bukan hanya sebuah tren sesaat yang kemudian meredup pelan-pelan…

– ditulis oleh Agus Purnomo

15 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

15 responses to “#379 Perlu Belajar Ramah pada Pesepeda

  1. faktor lingkungan sungguh mempengaruhi. Kalau di Belanda karena sejuk, mungkin peminat sepeda lebih banyak ketimbang Singaraja yang notabene emang panas banget. Ya taulah anak sekarang panas dikit aja udah ngeluh sampai panjang lebar. Dan kalaupun dihitung-hitung jumlah peminat sepeda hanya beberapa, pasalnya mereka hanya menggunakannya sebagai pengisi leisure mereka dan untuk pleasure saja, dan itupun hanya terfokus pada hari Sabtu dan Minggu saja (curhat jasa penyewaan sepeda). Tapi kalau memang ingin seperti Belanda, memang benar harus ada jalur khusus pesepeda. Karena apa? Pesepeda pun perlu rasa aman donk, bayangin aja kalau seandainya mereka bersepeda di jalan raya, dan ada yang nyerempet atau nyerunduk (seperti cerita Ridoi) pasti bakal trauma banget. Kalau di daerah pedesaan sih, masih aman-aman aja walau belum ada jalur khusus pesepeda, tapi kalau di kota besar kayaknya perlu mikir dua kali buat bersepeda di jalan raya. Ya, kalau mungkin ingin melestarikan budaya bersepeda, kayaknya bisa ditanamkan dari siswa SMP-SMA. Pernah lho kakak kelasku waktu SMA bawa sepeda tipe lama (baca: jengki), norak sih tapi bener2 membuat kesan yang berbeda banget…:)

  2. Sisilmiah Pena

    semoga sepeda nggak cuma jd tren gaya2an ya , yg cuma hari Sabtu malem and minggu pagi🙂 semoga bisa beralih jad gaya hidup kayak di Belanda ^-^

  3. Sisilmiah Pena

    Reblogged this on sisilmiahpena and commented:
    tulisan yang bagus ^-^

  4. Gus Surya

    Menurut saya pribadi iklim juga berperan. walaupun pemerintah mendukung penuh, tpi cuaca panas sangat tidak mengenakkan untuk dilewati dengan jalan kaki dan bersepeda terutama di siang hari, dimana aktifitas sangat padat. Tubuh akan cepat berkeringat dan tidak nyaman saat melakukan aktifitas seperti kuliah. Beda dengan negara eropa yang mempunyai iklim sejuk. Gimana ya enaknya???

    #Hanya pendapat pribadi…^^

  5. Sutaningrat Puspa Dewi

    Asyik ya klo bisa ngampus pakai sepeda. Asal medannya memungkinkan. Selain sehat dan hemat juga ramah lingkungan. Mungkin bisa mulai dari kampanye dari para idola2 generasi muda. Misal sekarang jaman boyband atau girlband, nah semestinya public figure seperti mereka dilibatkan, karena mereka saat ini sedang jadi role model. Apa-apa ditiru. Mudah-mudahan yang positif kayak gowes gini juga ditiruuu.. hihihi

  6. adymul

    semoga bisa diterapkan di indonesia🙂 tapi transportasi umum juga harus memadai supaya bisa menjangkau masyarakat yg mau pergi ke tempat tujuan yg lumayan jauh

  7. kangen naik sepeda lagi…😐
    ehniwe, yang sma 3 itu bener banget..sangat disayangkan…ckckck

  8. hariniwn

    satu satunya kendaraan pribadi yg saya suka pakai buat bepergian cuma sepeda, walau punya kakak saya, tp saya senang.
    Saya lebih memilih naik angkutan umum dibanding pakai kendaraan bermotor, walau org tua saya masih mampu buat belikan buat saya.
    Saya suka jalan kaki untuk ke tempat yg jaraknya cuma 100 atau 200 meter.
    Tp cuma saya, temen yg lain ngga.
    Walau komentar saya gak nyambung bodo amat.
    Semoga hak buat pesepeda, atau pejalan kaki semakin terjamin kedepannya. Amin.😀

  9. Menjadikan sepeda sebagai pilihan transportasi pribadi itu komitmen menurut saya,… dengan kondisi jalanan di Denpasar seperti sekarang yaitu tata-ruang yg memang sejak awal tidak dipersiapkan untuk menjadi ibu kota sehingga lebar jalan dan volume pemakai jalan sangat berimbang perlu tekad yang besar untuk tetap bertahan memakai sepeda, terutama di siang hari. Memakai pakaian yg bisa menahan terik matahari, masker untuk menghindari debu/asap, kacamata biar tidak silau dan tingkat kewaspadaan terhadap pemakai kendaraan bermotor yang cenderung “akrobatik” adalah sebuah modal awal untuk memulai komitment ini.

    Upaya melindungi hak pesepeda di Denpasar yg dilakukan pemerintah saya pikir sudah lumayan ok lah, sekarang pertanyaannya apakah warga sadar dengan hak pesepeda ini? Jangankan untuk tidak memakai jalur sepeda, kita ini loh masih buta warna (bodoh) sama lampu lalin buktinya lampu-lalin di depan kampus UNUD harus memakai suara pidato “Lampu merah mohon mengentikan kendaraan…” (mana suaranya kayak orang giting pula, mau-mau aja diceramahin orang giting) tapi tetep aja banyak yang nyelonong. Padahal kawasan itu seringkali dilewati temen-temen tuna netra.

    Sosialisasi dan propaganda alternative untuk meningkatkat kesadaran warga (“mesuluh nyingakin rage”) saya pikir sangat penting dan urgent untuk dilakukan, salah satunya seperti tulisan di blog ini… dibutuhkan komitment. Tembak! Ajakin jadian! Loh..! *salah focus hahaha

    • Koreksi “…sehingga lebar jalan dan volume pemakai jalan sangat tidak berimbang perlu tekad…”

      • oiya ngomong-ngomong masalah ‘suara pidato’ Lampu merah bla..bla..bla… saya pernah ada kejadian ga menyenangkan…
        pertama, hampir diseruduk karena berhenti tapi yg dibelakang nekat mau ngeloyor
        yang kedua, pas ada yg mau nyebrang tiba-tiba itu pidato keputus ditengah jalan gitu, jadinya yg nyebrang jadi gelagapan…😦

        oiya menurut saya yg terpenting juga sih…jalur sepeda jangan dipake buat parkiran mobil x(
        apalagi dipake buat arena tikung menikung *eh….ikutan salah focus x))

  10. Celoteh Ngawur

    gak ada trotoar, gak ada bus, gak ada bemo, gak ada parkir, gak ada halte yg nyaman, gak bnyak bengkel sepeda, gak ada apalagi yaw, gak ada temen buat naek sepeda k kampus #tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak

  11. Saya suka bersepeda tapi saya tidak punya sepeda.
    Bersepeda dibali baru sebatas tren angin2an dan rutin hanya pada suatu komunitas. Semoga deh dengan BBM naik, yang naik sepeda juga semakin banyak😛

  12. seru juga ya kalo ke kampus naik sepeda, ga perlu berebut parkiran yang sesak, lebih hemat dan aman bagi lingkungan tentu saja😉
    tapi bener tuh, perlu ruang ganti atau kamar mandi yang memadai buat ngilangin gerah usai naik sepeda…..
    oiya butuh keamanan dan kenyamanan juga ketika bersepeda di jalan raya.. bair ga kena serempet terus :)))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s