#380 Belajar Kincir ke Negeri Tulip

Aku tiba-tiba saja teringat untuk menuliskan pengalaman ini: sejumlah kincir setinggi 30 meter, menjulang dan berdiri kokoh. Beberapa sudutnya berkarat. Di sekelilingnya, rumput liar tak terawat mulai meninggi. Sudah hampir satu setengah tahun kincir angin ini rusak tanpa perawatan. Itu adalah nasib tujuh dari sembilan kincir angin ini di Bukit Puncak Mundi, puncak tertinggi di Nusa Penida, Bali akhir tahun lalu. Hingga hari ini, kondisinya tak jua kunjung membaik.

Kincir ini mampu menghasilkan daya sebesar 80 kilowatt. Proyek ini diresmikan oleh Presiden SBY sebulan jelang Konferensi Dunia tentang Perubahan Iklim di Bali Desember 2007. Sayang, sejak akhir 2009, beberapa unit kincir ini menampakkan gejala nggak beres. Beberapa komponen mulai mengalami kerusakan termasuk sistem operasinya.

Sejak pertengahan 2010, tujuh dari sembilan unit resmi mati suri. Tak ada itikad perbaikan hingga hari ini. PLN beralasan, ada beberapa komponen yang harus didatangkan dari luar negeri. Kincir ini membuktikan, kita jamak lebih senang dengan proyek seremonial nan gagah-gagahan tapi abai dengan perawatan dan keberlanjutan. Padahal warga sekitar mengakui, kehadiran kincir ini membantu menstabilkan listrik yang selama ini sering byar pet. Sekadar informasi, di Pulau Nusa Penida belum semua desa dialiri listrik PLN.

Aku teringat dengan nasib kincir-kincir angin ini saat mencoba membandingkannya dengan Belanda. Negeri ini, konon (karena aku belum pernah ke sana) hampir 70 persen wilayahnya di bawah permukaan laut . Seperti namanya, Nederland diambil dari kata neder yang artinya rendah. Nederland artinya tanah rendah. Pada titik inilah kincir angin memegang peranan penting. Untuk memperbesar wilayahnya, pantai di tepi barat dikeruk dan dibendung. Kincir angin digunakan untuk mendorong air ke lautan agar wilayah menjadi lebih luas.

Aku ingin mengatakan, Belanda dengan segala keterbatasan luas wilayah dan bentang alam berhasil memanfaatkan potensi yang dimiliki. Padahal negeri ini luasnya hanya sepulau Madura. Garis pantainya tentu saja tidak sepanjang kita. Tapi mereka bisa. Kini, kincir angin di Belanda multifungsi. Tidak hanya untuk membendung air, juga berguna untuk pertanian, industri dan pariwisata. Kincir angin menjadi penegas identitas: Negeri Kincir Angin.

Lalu kenapa Indonesia tidak melakukan hal yang sama? Itulah yang aku bayangkan saat datang ke Puncak Mundi. Bukan untuk menyamai identitas tentu saja. Tetapi pemanfaatan potensi negeri. Kita punya 95.181 km panjang garis pantai (keempat terpanjang di dunia) dan lebih dari 17.000 ribu pulau. Kita negara maritim, angin berhembus sepanjang tahun dan pasti potensinya jauh lebih tinggi dibandingkan Belanda.

Pulau-pulau kecil, yang tidak terjangkau aliran listrik, seharusnya bisa memanfaatkan ini. Tujuannya agar kita tidak lagi bergantung pada bahan bakar fosil. Selain mahal, bukankah bahan bakar fosil tidak ramah lingkungan. Masyarakat, terutama di pesisir yang selama ini hanya menikmati listrik saat malam hari bisa menghasilkan listrik secara mandiri. Negeri ini, rasanya cukup kaya untuk menyediakan apa yang bisa kita olah. Persoalannya, maukah kita berbenah diri seperti Belanda?

Buatku, komitmen memanfaatkan sumber energ terbarukan bukan lagi sekadar jargon dan pemanis di bibir. Belanda sudah membuktikannya. Negeri mungil yang pernah menjajah kita selama berabad-abad itu bisa menjadi contoh. Rasanya tidak perlu malu untuk berguru kincir ke hingga ke Negeri Tulip…

– ditulis oleh Agus Purnomo

12 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

12 responses to “#380 Belajar Kincir ke Negeri Tulip

  1. wah,,,sayang ya,,,banyak hal yang sebenarnya dapat dilakukan Indonesia untuk bisa mengejar ketertinggalan. Namun tentunya harus dimodali dengan komitmen yang memang benar-benar ingin menjadi maju seperti Belanda ini… Gak ada salahnya kan belajar dari yang sudah lebih mampu seperti Belanda,,,:-)

  2. Sisilmiah Pena

    Reblogged this on sisilmiahpena and commented:
    di Bali ada yg begini ya..

  3. apa memang belum ada “orang” yang ditugasi untuk menjaga keberlanjutan para kincir angin itu ? apa itu proyek lama yg AKAN diperbarui tapi kenyataannya belum bisa ?

  4. Sisilmiah Pena

    wah, di Nusa Penida memang kondisi “listrik” masih “agak-agak”…Ternyata ini toh sebabnya … sekarang ini, kita masih berupaya “membuat” dengan cover kata “inovasi” , tp sudah dibuat inovasi tapi konsistensi untuk sustain belum maksimal.. jadilah begitu…
    pray for kincir angin @Nusa Penida ..

  5. Krisna

    Perlu Belajar cara merawat dan cara biar orang mau merawat.

  6. Sutaningrat Puspa Dewi

    waaa… jujur aku ga tau ada kayak gini2 d Bali hihihi… ide memang banyak bertebaran. Memulainya pun bisa dibilang mudah. Terlalu banyak proyek mangkrak, GWK salah satunya. Terbukti management skill SDM kita harus dilatih. Khusus ini mungkin running system dan maintenance yang harus di follow-up. Sukses Kak Le. Tulisan ini membuka mata kita😀

  7. adymul

    wah keren donk, dunia bisa terang benderang malem hari, kota pun indah d siang hari karna ada kincir angin yg terus berputar.. hha

  8. iya loh..padahal..padahal..kita punya potensi luar biasa..
    apa karena merasa udah punya segalanya, jadi males2an mengolahnya ya?

  9. hariniwn

    agak miris tau ttg hal ini, 2 tahun 9 kincir angin mati suri.
    Semoga rencana perbaikan terus berjalan, walau cuma terbilang rencana.🙂

  10. Celoteh Ngawur

    wuih musti ke nusa penida nie #masuklist
    ku yakin di indonesia pasti ada yg bisa bikin tu kincir gak perlu beli diluar negeri, paling cuma alasan doang tu luar negeri. indonesia kan banyak unniversitas ma lembaga penelitian kayak lipi contohnya..hehe
    yaw tpi emang sie bener kita ahli ceremonial doang *tpi nanti musti jdi gak bener, contoh laen kyk bnyak yg bikin acara nanem poon hbis itu gak di rawat dan kasian dah tu poon udah mati padahal masih balita *cupcupcup

  11. Keren, baru tau ada beginian di bali.. hahaha

  12. sayang banget yaa….padahal di Bali juga potensial seandainya perawatannya di optimalkan…pasti membawa dampak yang positif untuk mendukung perbaikan kehidupan masyarakat kita..
    setujuu,,, ga usah malu deh buat berguru ke belanda…..biar makin oke indonesia tercinta *kiiir😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s