#386 “Opened Culture”, Sisi Lain Kreatif Bangsa Belanda – Magnet Kekaguman Dunia

Kreatif, inovatif.
Hm… kata-kata itu sarat dengan makna. Lebih dekatnya dengan sesuatu yang berbeda dan unik. Lain dari pada yang lain.

Lalu kaitannya dengan Belanda apa ya? Wah, tentu seluruh dunia setuju kalau kita mengatakan “ BELANDA adalah negeri yang KREATIF dan INOVATIF”

Banyak sudah yang mengatakan bahwa kekreatifan Belanda dapat dilihat dari kondisi geografis dan bangunan-bangunan yang ada di sana, kincir angin, termasuk 10 besar negara penerima nobel terbanyak, hingga berbagai budaya yang mereka miliki.

Saya jadi teringat ketika tak sengaja menyimak suatu acara di televisi (Tv One), kalau tidak salah nama acara tersebut “Bukan Jalan-Jalan Biasa”. Acara itu begitu menarik, sebuah acara tentang jalan-jalan keliling dunia. Kebetulan topik acara waktu itu adalah tentang Eropa.
Si pembawa acara memulai perjalannya dari Paris lalu singgah ke Belanda. Inilah poin pentingnya. Saya sangat tertarik untuk menyimak lebih dalam.

Perjalanan dimulai dengan mengunjungi Queen Palace (istana Ratu Belanda) di Den Haag. Konon katanya setiap setahun sekali diadakan “Princess Dag”, hari di mana Ratu belanda akan menyapa dengan berbagai nasehat dan wejangan kepada seluruh rakyatnya dari istana itu. Sesuatu hal yang menarik, sarat dengan keramahan.
Namun, yang cukup menarik perhatian saya adalah suasana lalu lalang di sekitar jalan tempat tersebut. Nampak beberapa pemuda dan pemudi berkeliling dengan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Katanya, sepeda menjadi kendaraan favorit para remaja di sana. Keren ya?! Go green sekali ^^.

Menurut saya dari hal sederhana ini kita bisa melihat sisi kreatif dan inovatif orang Belanda. Biasanya para pemuda akan cenderung menyukai motor balap atau mobil mewah, tapi hal ini sungguh berbeda. Memang kebanyakan negara maju sudah menerapkan sistem ini, tapi kalau sampai menjadi trend remaja, saya rasa hal ini sangat menarik dan berbeda.

Hal menarik lain yang saya ingat dalam acara itu yaitu ketika pembawa acara tersebut mengunjungi sebuah perkampungan muslim Indonesia di Den Haag. Di sana ia bertemu dengan bapak Ahmad Hambali, salah satu imam masjid yang memiliki nama masjid Al-Hikmah. Dari beliaulah kemudian diketahui bahwa masjid yang kini dijadikan tempat ibadah umat muslim dari Indonesia dan negara lain itu sebelumnya adalah sebuah gereja. Woow !!!

Beliau mengatakan bahwa gereja tersebut sudah tidak digunakan lagi, dan terpaksa dijual. Lalu, tokoh Indonesia waktu itu, Probosutedjo kemudian mengusahakan membeli bangunan tersebut kemudian mencari izin menggunakannya sebagai masjid tentunya dengan berbagai renovasi.
Yang membuat saya kagum, untuk memperoleh perizininan tersebut beliau harus meminta izin kepada penduduk sekitar secara door to door. Jika salah satu orang saja yang tidak setuju, maka berarti mereka tidak mendapat izin. Dan, ternyata semua penduduk di sekitar tempat itu menyetujui sehingga pemerintah Belanda pun juga memberi persetujuan. HEBAT, di tengah-tengah isu agama di Indonesia, ternyata masyarakat Belanda masih menaruh rasa percaya dan rasa aman terhadap umat muslim. Menurut cerita bapak Imam Hambali, permohonon izin ke pemerintah Belanda juga termasuk dalam proses yang mudah, karena Belanda memiliki sejarah politik yang kuat dengan Indonesia.

Dari cerita tersebut saya berpendapat bahwa masyarakat(orang-orang) Belanda memiliki toleransi yang tinggi. Satu kata-SALUT- untuk mereka. Dan saya rasa sikap TOLERANSI yang mereka miliki ini merupakan salah satu bentuk keKREATIFan yang memilki makna tersendiri. Kenapa??

Ya karena hal tersebut merupakan salah satu cerminan bahwa mereka memilki “opened culture” yang unik. Dengan sikap yang seperti itulah yang menjadikan negara mereka sebagi salah satu negara yang sangat dikagumi di dunia dan menjadi tujuan pariwisata maupun pendidikan oleh para penduduk di seluruh penjuru dunia.

“Opened culture” menjadi salah satu wujud KREATIF yang mampu mendukung kemajuan bangsa mereka. Saya kembali teringat ketika acara jalan-jalan pembawa acara itu berlanjut ke sebuah restoran milik warga Indonesia di sana, De Poentjak Restaurant. Pemilik restoran tersebut mengatakan, banyak warga Belanda yang sering mengunjungi restoran itu, dan takjubnya menu favorit di restoran itu adalah “sayur lodeh” masakan khas Indonesia. Cerita tentang Belanda semakin menarik saja ya, lagi-lagi mereka memilki opened culture yang besar kepada penduduk asing, terutama Indonesia. Semakin terlihat keramahan mereka terhadap penduduk asing, hal ini juga merupakan ciri kreatif tersendiri. Kreatif dalam menyambut orang lain dengan begitu ramah, maka tak heran jika Belanda merupakan salah satu negara paling bahagia di dunia. Hal ini tak lepas dari sikap toleransi dan keramahan kepada budaya lain (“opened culture”) yang mereka miliki. Dan tentunya kategori negara paling bahagia bukanlah hal biasa, hal ini masuk dalam sebuah PRESTASI. Dan sudah pasti PRESTASI muncul karena KREATIVITAS dan INOVASI. Excellent !!

– ditulis oleh Ervanggis Kusumasari

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s