#394 From Small, For EXTRA LARGE

Saya ingat kejadian hari itu, the inspiring moment. Sepulang kantor, saya berkeinginan untuk mengunjungi teman yang sudah lama tidak bertemu, hanya untuk melepas penat dan mengupdate kabar. Toh rumahnya juga tidak terlalu jauh, pikir saya.

Sesampainya di rumahnya, ternyata yang ada hanya maminya. Mami mempersilahkan saya untuk menunggu di dalam rumah. Saya mengamati mami yang sedang merajut, lalu berceritalah mami tentang hobi merajutnya yang ditekuni kurang lebih sejak 5 tahun lalu. Ternyata semua bermula ketika mami mengunjungi Belanda, mami sangat mengagumi kebersihan Belanda dan keuletan warganya dalam berwirausaha. “Di sana, rata-rata orangnya punya toko kecil, ada aja yang dijual”. Then I began to wonder, why? Mengapa penduduk Belanda suka akan wirausaha, padahal banyak MNC besar yang berbasis disana? Lalu kenapa warga Indonesia justru banyak yang bercita-cita untuk bekerja di Shell, Phillip, Unilever yang notabene merupakan MNC asal Belanda?

Menurut David McClelland, seorang pakar psikologi Amerika, untuk menjadi makmur sebuah negara butuh entrepreneur minimum 2% dari warganya. Lalu bagaimana posisi Indonesia? Berdasar data BPS Januari 2012, Indonesia telah memiliki entrepreneur sebesar 1.56%. Hal ini menggambarkan betapa Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara maju seperti Singapura (7.2%) dan Amerika Serikat (11.5%)di tahun 2007, sedangkan Belanda menempati peringkat 10 dengan Global Entrepreneurship Development Index 0.62 dan Indonesia menempati peringkat 46 dengan GEDINDEX 0.26 di tahun 2011. Penyebabnya beragam, salah satunya adalah sistem pendidikan yang diterapkan oleh masing-masing negara.

Menurut testimoni Taufik Dwicahyono, pendidikan di Belanda menuntut siswanya untuk lebih mengutamakan “how”, bukan pada “what”. Hal tersebut mengakibatkan penduduk Belanda lebih mementingkan proses daripada tujuan akhirnya, bagaimana cara mencapai tujuan utama ketimbang apa hasil akhirnya. Hal lain yang menarik adalah masih diberikannya banyak kebebasan individu dalam pengembangan diri sendiri baik di bidang akademis maupun lainnya. Mari kita lihat bagaimana sistem pendidikan di Indonesia, selalu menekankan akademis, sering pula para pendidiknya mencontohkan alumni-alumni yang telah sukses bekerja di perusahaan besar dan kesempatan pengembangan diri tidak merata di seluruh daerah.

Akhir-akhir ini saya terlibat di beberapa kegiatan sosial di 2 organisasi yang berbeda yang menurut saya mempunyai niat luar biasa mulia, namun mempunyai pergerakan yang berbeda. Kegiatan di organisasi pertama, mengajarkan bagaimana cara membuat ketupat dan memfasilitasi anak-anak panti asuhan untuk berjualan hasil karya mereka di dekat masjid Agung Surabaya. Kegiatan di organisasi kedua, mempresentasikan profesi para volunteer ke siswa-siswa SD agar mereka tetap mempunyai keinginan untuk terus melanjutkan pendidikannya hingga level universitas. Bagaimana respon yang didapat? Surprisingly (or not), kegiatan di organisasi kedua lah yang mendapatkan respon luar biasa dari para peserta. Banyak faktor memang yang melatarbelakangi, namun dapat sedikit tergambar bahwa anak-anak Indonesia terbiasa dengan paradigma mencari kerja, bukan membuka lapangan kerja.

Di akhir pertemuan, mami berkata “Belanda hebat dalam inovasinya memfasilitasi warga untuk berwiraswasta dengan kebersihan negaranya, kelengkapan akses atau fasilitas publik dan memupuk rasa cinta akan produk dalam negerinya sehingga mereka bangga menggunakan produk home made mereka”. A great example from a small country, for an EXTRA LARGE country. Indonesia, shall we?

– ditulis oleh Tinton Yudhianto

2 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

2 responses to “#394 From Small, For EXTRA LARGE

  1. Yah! Semoga menjadi “eye opener” buat yang membaca, dan menginspirasi diri untuk berbuat sesuatu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s