#399 Mengayuh Masa Depan

Bicycling is a big part of the future. It has to be. There’s something wrong with a society that drives a car to workout in a gym. – Bill Nye, The Science Guy

Ada satu pemandangan yang selalu saya tunggu setiap kali pulang ke kampung halaman di Jogja. Setiap pagi, saat matahari baru saja terbit, puluhan anak sekolah akan mengayuh sepedanya beramai-ramai menembus kabut di jalanan desa. Begitu tenteram rasanya melihat suasana egaliter dan komunal yang terpancar dari iring-iringan itu. Ya, Jogja memang surganya sepeda di Indonesia. Sejak lama, sepeda telah menjadi bagian dari denyut sehari-sehari warganya. Tapi predikat itu kini mulai terancam seiring meledaknya industri kendaraan bermotor.

Harus diakui, kendaraan bermotor memang lebih cepat dan nyaman ketimbang sepeda. Jika kita bisa sampai ke tempat tujuan dengan hanya menarik atau menginjak gas, mengapa harus berlelah-lelah mengayuh? Tadinya saya pun berpikir demikian. Sampai kemudian saya bertemu dengan beberapa orang turis asing yang sedang mengayuh sepeda di sekitar Prambanan. Saya pikir mereka hanya bersepeda untuk rekreasi dan menikmati suasana. Tapi ternyata tidak. Mereka melakukannya dengan niat yang sama seperti anak-anak Jogja yang bersepeda ke sekolah atau para petani yang bersepeda ke sawah: mereka berkendara. Saya kira, pasti lah mereka membawa kebiasaan bersepeda itu dari negaranya. Jika di Indonesia sepeda kian dianggap sebagai kendaraan masa lalu yang hanya digunakan di desa-desa, maka di belahan dunia lain sepeda justru menemukan momentumnya kembali di tengah kota.

Ibukota Sepeda Dunia
Bayangkan sebuah kota dengan jalur-jalur khusus sepeda yang membentang di seluruh ruas jalannya. Hampir semua orang di kota itu memiliki sepeda. Terdapat area parkir sepeda di seluruh kota, serta aturan khusus sepeda yang terintegrasi dengan sistem lalu lintas dan tata kota. Sudah terbayang seperti apa? Sekarang luaskan menjadi satu negara. Jalur-jalur sepeda membentang ribuan kilometer hingga ke garis perbatasan negara. Penduduknya bersepeda lebih sering dari penduduk negara mana pun di dunia. Industri sepedanya berkembang pesat dan menghasilkan kualitas terbaik dari produk sepeda. Itu lah Belanda, negara asal para turis yang saya temui di Prambanan. Negara yang sama yang dulu juga membawa dan memperkenalkan sepeda ke Indonesia.

Sepeda merupakan kendaraan paling ramah lingkungan yang kita kenal di jalanan. Memilih sepeda berarti memilih sebuah masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan. Meski demikian, popularitas sepeda di Belanda tentu saja tidak dicapai dalam waktu semalam. Terdapat pemerintah dan para ahli tata kota yang serius mendorong terciptanya sistem yang memprioritaskan sepeda di atas kendaraan bermotor. Prioritas melahirkan keamanan, dan keamanan melahirkan kenyamanan. Ketika jalanan kota menjadi semakin ramah bagi sepeda, maka penduduk pun akan berbondong-bondong menggunakannya. Bahkan seluruh lapisan masyarakat kemudian turut bersinergi dan melahirkan berbagai inovasi baru dalam dunia sepeda. Sebut saja konsep fietsappel, solaroad, dan sepeda bis. Sebuah studi juga menunjukkan bahwa pesepeda merupakan kelompok yang paling bahagia di antara pengguna transportasi lainnya. Mungkin ini lah salah satu faktor yang membuat Belanda berhasil menduduki jajaran teratas negara-negara paling bahagia di dunia.

Jakarta memang bukan Amsterdam, dan Indonesia masih banyak ketinggalan. Tapi jarak sejauh apa pun selalu dimulai dari kayuhan pertama. Jadi saya sudah memutuskan: saya akan mulai bersepeda.

– ditulis oleh Sidiq Maulana

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s