#401 Inovasi Matematika oleh Belanda

Dalam sejarah Indonesia, Belanda adalah bangsa penjajah. Sejarah menuliskan banyak cerita dan ikonnya. Sejarah merupakan stepping stone ke masa depan. Belanda pun banyak meninggalkan ikonnya di Indonesia, mulai dari insfrastruktur yang masih bisa kita lihat di sepanjang kontimum wilayah Indonesia sampai resep kulinernya yang masih bisa kita nikmati, seperti roti buatan “Holland Bakery” dan es krim “Restauran Oen” di Malang dan Semarang. Sejarah dan masa depan tidak begitu jauh, begitupun Indonesia dengan Belanda begitu dekat. Begitu dekatnya sampai inovasi yang muncul dari negeri Van Oranje setelah masa penjajahan pun meresap dan mulai menjangkiti dunia pendidikan di Indonesia.

Salah satunya yaitu inovasi besar dalam bidang pendidikan matematika, yaitu Realistics Mathematic Education (RME). Sang pecetusnya adalah Hans Freudenthal dan namanya diabadikan di sebuah institut yaitu Freudenthal Institute, Utrecht University. Karena kecintaannya pada dunia matematika Freudenthal merasa betapa kecilnya tempat bagi pendidikan matematika dalam kongres matematikawan internasional dibandingkan dengan perkembangan yang pesat di bidang pendidikan matematika. Tekadnya semakin kuat untuk mengembangkan matematika dengan mengadakan kongres-kongres dalam bidang matematika yang difokuskan pada masalah-masalah dalam bidang matematika, alhasil Freudenthal berhasil mencetuskan inovasi besarnya yang disebut RME. Karakteristik RME yang dikembangkan menggunakan konteks “dunia nyata”, model-model, produksi dan kontruksi siswa, interaktif dan keterkaitan (intertwining).

Instead of seeing mathematics as subject matter that has to be transmitted, I see the idea of mathematics as a “human activity”. Education should give students the “guided” opportunity to” re-invent” mathematics by doing it (Freudenthal, 1968 dalam http://www.slideshare.net/jdewaard/what-is-realistic-mathematics-education-national-mathematics-conference-swakopmund)

RME diawali dengan masalah-masalah yang nyata, sehingga siswa dapat menggunakan pengalaman sebelumnya secara langsung. Matematika harus dikaitkan dengan realita dan aktivitas manusia. Dalam hal ini matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan situasi sehari-hari. Siswa diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika. Dari cerminan RME dapat dilihat bahwa dalam bidang pendidikan, Belanda menggunakan sistem pembelajaran berorientasi siswa (student-oriented) dan metode pembelajaran berbasis masalah (problem-based) yang dalam aplikasinya terdapat keterkaitan antara dunia nyata, masalah, and interaksi siswa.

Bagi Belanda “belajar” adalah strategi untuk berpikir kritis, kreatif, mandiri, inovatif dan mampu memecahkan permasalahan dalam kehidupan. Belanda merumuskan masalah kehidupan sebagai sumber inovasi dan kreativitasnya. Di Indonesia RME dikenal dengan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) yang bekerjasama dengan Belanda sejak 2001. Beberapa pergurungan tinggi di Indonesia mengadaptasi RME ini dan mengaplikasikannya dalam pembelajaran. RME juga dikembangkan oleh negara maju seperti Amerika dengan Mathematics in Context mulai tahun 1990-an yang didanai oleh National Science Foundation yang bekerjasama dengan Freudenthal Institute.

– ditulis oleh Nurrachma Winarti

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s