#406 Orang Belanda Tidak Suka Nyusuh*

*nyusuh = menyimpan dan menumpuk banyak barang

Saya paling tidak menyukai kebiasaan orang yang suka mengkoleksi barang, entah pakaian, sepatu atau furniture. Apalagi kalau barang-barang itu didapatkan dengan membeli baru, barang impor, harga selangit. Fungsinya apa coba? Padahal akhirnya tidak semua barang itu terpakai. Bahkan bisa rusak hanya karena disimpan terlalu lama. Sayang banget kan?

Entah karena keluarga saya pelit, terbiasa hidup sederhana, atau bahkan cenderung seadanya [hehehe], saya selalu diajarkan untuk setia pada satu barang. Jadi tidak akan membeli yang baru, sebelum barang itu rusak atau tidak muat. Bahkan dalam keluarga kami ada semacam sistem ‘turun-temurun’. Pakaian milik kakak yang suda tidak muat akan menurun pada saya, sedang milik saya akan menurun pada adik. Lalu punya adik? Biasanya akan diberikan pada saudara atau orang lain yang membutuhkan. Bukannya menyepelekan orang tersebut sih, tapi selama barang itu masih layak pakai kenapa tidak diberikan saja pada orang yang lebih membutuhkan.

Dari kebiasaan ini saya mnyimpulkan bahwa saya mampu bertahan hidup di Belanda hahaha,, karena ternyata orang Belanda, terutama di kota Zwolle, juga memiliki kebiasaan yang sama. Mereka tidak suka menumpuk baju, mereka hanya mnyimpan baju yang pasti akan mereka pakai, selebihnya akan mereka sumbangkan.

Ada 3 cara sih yang bisa mereka lakukan untuk menyumbangkan pakaian-pakaian itu.
Pertama lewat kringloop, yaitu semacam toko secondhand. Jadi orang Belanda bisa menjual pakaian mereka tadi di toko ini. Ada 2 jenis kringloop, yang dikelola oleh swasta atau milik perorangan, dan ada yang milik pemerintah, yang hasil penjualannya akan diserahkan kepada pemerintah untuk dikelola.

Cara kedua yaitu melalui kotak kleeding. Kotak ini adalah semacam kotak sampah yang terbuat dari besi dan khusus diperuntukkan ‘sampah’ baju. Jadi baju-baju yang akan disumbangkan, dibungkus dengan plastik terlebih dulu baru dimasukkan dalam kotak kleeding tadi.

Yang ketiga bisa melalui yayasan sosial. Jadi secara periodik, petugas yayasan akan memasukkan plastik dan surat ke kotak pos rumah-rumah. Isi surat kurang lebih memberitahukan pemilik rumah bahwa mereka bisa menyumbangkan baju tak terpakai dengan cara memasukkan dalam plastik tersebut dan akan diambil petugas sesuai dengan waktu yang tertera dalam surat tadi.

Wow,, sungguh terencana dan terorganisir ya. Coba kalo di sini, mungkin baju-baju itu akan semakin ditumpuk.

Oya, menurut teman saya yang tinggal di Belanda, kebiasaan lain orang Belanda adalah cenderung hidup nomaden. Mereka lebih suka menyewa flat/apartemen dengan sistem kontrak. Jika mereka akan pindah, mereka harus mengosongkan rumah yang mereka sewa sebelumnya, kecuali mereka ijin kepada pemilik rumah untuk meninggalkan mebel. Karenanya, mereka harus benar-benar menjaga dan merawat barang mereka dengan baik. Karena seandainya barang mereka rusak dan ingin membuangnya, meraka harus menghubungi dinas sampah setempat, dan membayar mahal pajak sampahnya yang diukur dari per meter kubiknya. Dengan aturan ini, pemerintah berusaha mengurangi sampah di belanda. Hmm,, kreatif juga. Sampah saja sampai di-pajak-kan.

Dan, sepertinya saya memang ada bakat jadi orang Belanda.

– ditulis oleh Ratih Padma Sari

3 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

3 responses to “#406 Orang Belanda Tidak Suka Nyusuh*

  1. wew tulisanmu keren mbak bero, ga nyangka kalo dari seni rupa ^__^

  2. he-eh,,, bener banget, mbak Niken,, dengan begitu kan orang Indonesia punya kesadaran dalam pengelolaan barang dan sampah,,

  3. Suka deh sm peraturan Belanda yg ngasih pajak buat sampah itu
    . patut ditiru Indonesia juga tuh buat ngatasin masalah sampah di Indonesia🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s