#426 Arsitektur Belanda

Kota Bandung sempat dijuluki sebagai kota yang menjadi laboratorium arsitektur dunia. hal tersebut, dilandasi dengan banyaknya aliran arsitektur dunia yang diaplikasikan pada bangunan-bangunan yang ada di kota ini. Beberapa aliran yang ada seperti Romantik Klasik, Indische Empire Stjil hingga aliran Art Deco masih bisa dilihat di Bandung hingga saat ini. Berikut 5 langgam arsitektur peninggalan Belanda di Bandung berikut contoh bangunan-bangunannya.

1. Indo-Europeeschen Architeectuur Stjil
Membicarakan langgam arsitektur di Kota Bandung seolah tak pernah ada habisnya. Salah satunya adalah langgam “Indo-Europeeschen Architeectuur Stjil” yang dicetuskan begawan arsitektur Belanda Dr.Hendrik Petrus Berlage. aliran ini memadukan gaya arsitektur modern dengan bentuk arsitektur tradisional Indonesia. Diantara sekian banyak gedung peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh sampai sekarang, beberapa diantaranya menganut aliran ini. Bahkan status bangunan monumental disematkan pada salah satunya yakni Gedung Sate. bangunan laiinya yang menganut aliran serupa antara lain; Gedung Utama ITB, Gedung Kantor BI, Gedung Landmark (van Dorp) dan gedung New Majestic.

 Bank Indonesia

2. De Indische Empire Stjil
Gaya arsitektur Hindia Belanda abad ke-19 yang dipopulerkan Gubernur Jendral Herman William Daendels adalah Indische empire Stijl. Gaya arsitektur yang dikenal juga The Empire Style ini adalah suatu gayaarsitektur neo-klasik yang melanda Eropa (terutama Prancis, bukan Belanda) yang diterjemahkan secara bebas. Hasilnya berbentuk gaya Hindia Belanda (Indonesia) yang bergaya kolonial, yang disesuaikan dengan lingkungan lokal dengan iklim dan tersedianya material pada waktu itu. Ciri-cirinya antara lain: denah yang simetris, satu lantai dan ditutup dengan atap perisai. Karakteristik lain dari gaya ini diantaranya: terbuka, terdapat pilar di serambi depan dan belakang, terdapat serambi tengah yang menuju ke ruang lain. Ciri khas dari gaya arsitektur ini yaitu adanya barisan pilar atau kolom (bergaya Yunani) yang menjulang ke atas serta terdapat gevel dan mahkota di atas serambi depan dan belakang. Serambi belakang seringkali digunakan sebagai ruang makan dan pada bagian belakangnya dihubungkan dengan daerah servis. Contoh bangunan yang mewakili gaya ini, Gedung Pakuan dan Kantor Polrestabes.

 Gedung Pakuan

3. Art Deco
Art Deco adalah gaya hias yang lahir setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia II yang banyak diterapkan dalam berbagai bidang, misalnya eksterior, interior, mebel, patung, poster, pakaian, perhiasan dan lain-lain dari 1920 hingga 1939, yang memengaruhi seni dekoratif seperti arsitektur, desain interior, dan desain industri, maupun seni visual seperti misalnya fesyen, lukisan, seni grafis, dan film. Gerakan ini, dalam pengertian tertentu, adalah gabungan dari berbagai gaya dan gerakan pada awal abad ke-20, termasuk Konstruksionisme, Kubisme, Modernisme, Bauhaus, Art Nouveau, dan Futurisme. Popularitasnya memuncak pada 1920-an. Meskipun banyak gerakan desain mempunyai akar atau maksud politik atau filsafati, Art Deco murni bersifat dekoratif. Pada masa itu, gaya ini dianggap anggun, fungsional, dan ultra modern. Contoh bangunan yang menerapakan gaya ini, antara lain: Hotel Savoy Homann, Arsitek Albert Aalbers. Grand Hotel Preanger dan Gedung Merdeka, Arsitek Wolff Schoemaker.

 Grand Hotel Preanger

4. De Stijl
Gaya De Stijl dikenal sebagai neoplasticism, adalah gerakan artistik Belanda yang didirikan pada 1917. Secara umum, De Stijl mengusulkan kesederhanaan dan abstraksi pokok, baik dalam arsitektur dan lukisan dengan hanya menggunakan garis lurus horisontal dan vertikal dan bentuk-bentuk persegi panjang. Selanjutnya, dari segi warna adalah terbatas pada warna utama, merah, kuning, dan biru, dan tiga nilai utama, hitam, putih, dan abu-abu. Gaya ini menghindari keseimbangan simetri dan mencapai keseimbangan estetis dengan menggunakan oposisi. Contoh bangunan pada gaya ini Gedung Markas Kodam III Siliwangi, karya Schoemaker bersaudara.

 Markas Kodam III Siliwangi

5. Niuwe Bouwen
Gaya bangunan sesudah tahun 1920-an adalah Niuwe Bouwen yang merupakan penganut dari aliran International Style. Seperti halnya arsitektur barat lain yang diimpor, maka penerapannya disini selalu disesuaikan dengan iklim serta tingkat teknologi setempat. Wujud umum dari dari penampilan arsitektur Niuwe Bouwen ini menurut formalnya berwarna putih, atap datar, menggunakan gevel horizontal dan volume bangunan yang berbentuk kubus. Gaya ini (Niuwe Bouwen/ New Building)adalah sebuah istilah untuk beberapa arsitektur internasional dan perencanaan inovasi radikal dari periode 1915 hingga sekitar tahun 1960. Gaya ini dianggap sebagai pelopor dari International Style. Istilah “Nieuwe Bouwen” ini diciptakan pada tahun dua puluhan dan digunakan untuk arsitektur modern pada periode ini di Jerman, Belanda dan Perancis. Contoh: Gedung Drie Kleur (BTPN) di pertigaan Jl. Dago dan Jl. Sultan Agung, dibangun pada tahun 1938 berdasarkan rancangan arsitek A.F. Aalbers.

 Gedung Drie Kleur

– ditulis oleh Renny Novia M. Putri

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s