#429 Henri Theodore Fischer, Antropolog dari Belanda

Saya rasa semua orang pasti setuju dengan statement : Holland is a creative nation. Dutch people enjoy innovating and constantly ask themselves and others questions to come up with new ideas. bagaimana tidak, hampir separuh daripada negara Belanda berada kurang 1 meter dibawah permukaan laut, kok bisa? kok tidak tenggelam? Belanda itu ibarat “kecil-kecil cabe rawit”, mereka itu tidak hanya mampu dalam berinovasi dibidang teknologi saja tapi juga mengenai sejarah, antropologi, budaya lokal maupun luar dari pada negara mereka. Nah, postingan yang akan Anda baca berikut ini adalah seorang tokoh yang terkenal di Belanda dan mempunyai hubungan dengan Indonesia, lalu Anda akan bertanya, “Siapa yah dia?”. Here we are, Check this out!

Tokoh ini bernama lengkap Henri Theodore Fischer. Tidak sedikit di antara kita yang mengenal Fischer, tidak sedikit pula yang mengenal lewat buku karyanya Inleiding tot De Culturele Antropologie van Indonesie, yang ditahun 1954 diterjemahkan oleh Anas Makruf : Pengantar Antropologi Kebudayaan Indonesia. Buku ini untuk pertama kalinya diterbitkan oleh Volksuniversiteits Bibliotheek ditahun 1940, dengan judul Inleiding tot De Volkenkunde van Nederlandsch-indie.

 Buku Pengantar Anthropologi Kebudayaan Indonesia
Situs web gambar ini dari : geraibukubekas.blogspot.com/pengantar-anthropologi-kebudayaan-indonesia.html

Henri Fischer, yang juga pendiri perhimpunan antropologi di Negeri Belanda, menulis banyak artikel mengenai Indonesia di berbagai penerbitan : dari teori-teori mengenai asal-muasal ketam (Enkele theorieen over onstaan of herkomst van het Indonesische rijsmesje) sampai sosok Indonesia sebagai suatu negara yang memang berbeda dengan Negeri Belanda (Indonesie een Land, zo anders dan het onze).

Tetapi sebagai antropolog, Fischer menulis banyak pula uraian mengenai berbagai permasalahan manusia, pandangan hidup dan lingkungannya. Tulisannya pernah dimuat oleh majalah Bijdragen tot De Taal, Land-En Volkenkunde (BKI) tahun 1977, yang diterbitkan oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-Land-, en Volkenkunde), F.Allan Hanson dan Floyd Miller dari KITLV, menyertakan tidak kurang dari 99 karya mahaguru itu, mulai dari dia pertama kali menulis tahun 1928 sampai dengan tahun 1969.

Pada tahun 1934, Fischer pernah menolak rasisme Hitler, dan dengan gigih pula ia menentang pandangan yang cukup meluas waktu itu, bahwa secara intelektual “bangsa-bangsa pribumi” lebih rendah dari pada kaum penjajahnya. Fischer juga pernah menegaskan, bahwa identitas kultural bangsa Indonesia harus dihormati.

Henri Theodore Fischer meninggal pada usia 75 tahun. Enam tahun sebelum dia meninggal, ia pensiun dari jabatannya sebagai Mahaguru Ilmu Antropologi Budaya di Universitas Utrecht.

DENGAN meninggalnya Fischer berlalulah generasi antropolog Belanda sebelum Perang Dunia II, di antaranya De Josselin De Jong (meninggal 15 November 1964) dari Universitas Leiden, dan J. Fahrenfort dari Universitas Amsterdam. Mereka itu umumnya memberikan perhatian besar kepada Indonesia.

Dengan berlalunya generasi Fischer itu, tidak berarti berakhir pula minat terhadap Indonesia di kalangan Eropa serta Dunia Barat umumnya. Dan dalam jajaran generasi Fischer maupun generasi berikutnya, tidak sedikit pula jumlah ahli dari sarjana “biasa” dibidang-bidang lain yang menunjukan minatnya kepada Indonesia. Mereka melahirkan tulisan-tulisan di bidang sejarah, bahasa, arkeologi, agama, bahkan filsafat, permasalahan wanita (woman studies), obat-obatan, pertanian, geografi sosial (social geography), ekenomi, politik, demokrafi, agama, dan berbagai bidang lainnya.

Majalah seperti BKI banyak memuat tulisan mereka. Tidak sedikit di antaranya merupakan hasil penelitian yang tekun. Dalam BKI yang terbit belum lama berselang misalnya (penerbitan ke-2 dan ke-3 tahun 1987), kita dapati tulisan Dr Aichele (meninggal tahun 1971) mengenai Kabayan, R.H. Barnas dari Universitas Oxford mengenai riwayat Benteng di Lahayong (Solor); Keebet dan Franzuon Benda-Beckmann tentang surat wasiat (testamen) Hasan Suleiman dalam kaitannya dengan permasalahan tanah di Ambon; R.C. Kwantes mengenai empat surat Ir. Soekarno. Dari tangan Kwantes juga telah lahir antara lain tulisan mengenai perkembangan pergerakan nasional.

Dalam BKI yang sama, dapat kita baca pula tulisan J. Noorduyn mengenai Makasar dan Islamisasi Bima; J.J. Ras : Genesis Babad Tanah Jawi. Tulisan ini merupakan uraian ilmiah pada inaugurasi J.J. Ras sebagai mahaguru bahasa jawa di Universitas Leiden, 25 Oktober 1985. Kalau J.J. Ras mendalami “kejawen”, maka J. Noorduyn adalah pengajar Bahasa Bugis dan Makasar serta Kebudayaan Asia Tenggara dan Oseania di Universitas Leiden.

Dalam tinjauan buku majalah yang sama, W.F. Wertheim membahas buku Jan Breman yang telah terbit : Koelies, Planters en Koloniale Politiek. Buku ini berkisar sekitar perkebunan-perkebunan besar di pantai timur Sumatera pada awal abad 20.

Meningkatnya minat di kalangan ilmuwan internasional kepada Indonesia dalam berbagai aspek eksistensinya itu, diharapkan mendapat perhatian dan tanggapan serta dimanfaatkan dalam artian positif oleh bangsa Indonesia. Saya berharap tokoh seperti Henri Theodore Fischer ini yang telah menunjukkan minat dan menghasilkan karya mengenai banyak hal Indonesia seperti menulis artikel sejarah indonesia. mudah-mudahan kita semua bisa membangkitkan rasa nasionalisme dan kecintaan kita terhadap negeri Indonesia. Dengan mengetahui sejarah, kita jadi lebih tahu mengenai negeri sendiri. Bukankah kita selalu mendengar : “Bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai sejarah negerinya”.

Historia docet!
Sejarah itu memberi pelajaran kepada kita!
In het heden ligt het verledenIn het nu wat komen zal
Dalam masa sekarang kita mendapati masa lalu, dalam masa sekarang juga kita mendapati apa yang akan datang.

– ditulis oleh Yogi Tikna

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s