#445 Belanda, Menyulap Rawa Menjadi Kota

Belanda adalah satu contoh kota yang selalu saya sebutkan tiap saya memjelaskan tentang rawa, banjir dan polder…. (walaupun saya belum pernah kesana…)… Satu hal yang saya ingat sejak kuliah dengan Prof. Hardjoso adalah cerita reklamasi rawa di Indonesia yang dimulai sejak zaman Belanda. Sistem polder yang ada di Indonesia adalah merupakan miniatur dari sistem yang ada di negara aslinya yaitu Belanda. Sistem polder di Belanda sudah merubah rawa menjadi kota. Ide kreatif ini sudah mereka mulai ribuan tahun lalu. Sebagai contoh adalah Polder Beemster yang dibangun tahun 1608 – 1612 yang merupakan reklamasi rawa tertua di Belanda….bisa kebayang ga ribuan tahun lalu polder dibangun di Belanda???

Yuk menengok sistem polder dan sejarahnya di Belanda. Tahukan kalian 2/3 wilayah Belanda adalah wilayah yang sangat rentan dengan banjir sejak dulu. Banjir yang mengancam sebagian besar wilayah Belanda karena pada dasarnya Belanda merupakan dataran aluvial yang dibangun dari sedimen yang ditinggalkan oleh banjir ribuan tahun dari sungai dan laut. Ternyata keterbatasan jenis dan struktur tanah ini membuat masyarakatnya lebih kreatif…harusnya kita yang tinggal di Indonesia bisa mencontoh mereka ya???… :)

Ribuan tahun yang lalu, sebelum orang-orang memikirkan tentang reklamasi, sebagian besar kota-kota di Belanda ditutupi oleh rawa gambut yang ekstensif yang berada di muara laut, sehingga untuk membangun kota, mereka harus membuat suatu kreasi inovatif yang mampu menanggulangi pengaruh air laut dan mencegah banjir masuk kepemukiman yang mereka akan tinggali… bukan perkara yang mudah lho dalam mereklamasi rawa yang memiliki kekhasan stuktur tanah.
Salah satu inovasi dalam mereklamasi rawa yang mereka terapkan adalah sistem polder, apa itu polder??? Yuk kita simak teorinya…:)

Polder adalah suatu bangunan hidrolik yang dibangun dengan tujuan mengeringkan suatu kawasan yang terendam, teorinya sederhana yaitu dengan membangun tanggul, sehingga kawasan tersebut terisolir dari pengaruh air disekitanya…terlihat simpel khan ide polder ini? tapi yang perlu diperhatikan dari kesederhanaannya adalah manfaatnya yang besar karena dengan sistem ini rawa yang aslinya tergenang dan tidak bisa dihuni sekarang menjadi kota-kota cantik dan ingin dikunjungi oleh semua orang di Belanda…:)

Secara teknis, pada sistem ini, elevasi dibiarkan pada ketinggian aslinya, sedangkan airnya diturunkan atau dikeringkan dengan sistem pengontrolan dengan tanggul dan pompa atau manajemen lainnya.

Dengan artian bidang tanah tersebut harus diisolasi dari pengaruh pemberatan air dari sekitarnya, namun walaupun wilayah tersebut dikeringkan harus juga diperhatikan bahwa tidak boleh terjadi drainase berlebihan karena inipun akan menyebabkan kerusakan tanah… ternyata pemikiran tentang polder ini meliputi berbagai aspek ya???

Bahkan beberapa sistem polder yang ada di Indonesia juga merupakan sistem polder yang dibangun oleh Belanda, misalnya Polder Alabio yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1933 di Kalimantan Selatan.

Ternyata mempunyai tipikal jenis tanah yang sama antara Indonesia dan Belanda tidak membuahkan kreatifitas yang sama ya??? Belanda dengan teknologi yang tepat guna bisa membangun rawa menjadi kota metropolitan dan kita masih saja sibuk dengan masalah banjir di ibu kota padahal kita bisa belajar dari Belanda. (bisa ga ya kita seperti Belanda?…plagiat atau peniru tidak selalu buruk jika itu menyangkut teknologi dan kemakmuran masyarakat…iya khan???)

– ditulis oleh Novitasari

1 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

One response to “#445 Belanda, Menyulap Rawa Menjadi Kota

  1. makasih banget infonya, kalau boleh tau dapet info di atas darimana ya? kebetulan saya lagi ada tugas in. makasih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s