#475 The Basic of Us Through Design

Saya sangat setuju pada kalimat pembuka untuk rubrik desain pada majalah Monocle bulan Mei. Pada paragraf singkat tersebut, sang penulis sedikit beropini tentang keraguannya pada desain yang kini semakin berubah menjadi fesyen. Desainer yang tampil di muka umum bak selebriti. Konsumen yang menikmati sinar dari brand yang telah mapan.

Saya pun beberapa lama ini turut bertanya, sejak kapankah desainer menjadi selebriti dan wajah mereka menjadi sama penting dengan hasil pekerjaannya?

Lalu saya kembali mengingat masa-masa terakhir saya menjalani kuliah desain produk. Keinginan saya melanjutkan jenjang berikutnya di Belanda sekedar karena dosen saya pernah berkuliah juga disana. Namun seiring riset saya mengenai sekolah di Belanda, dan kesadaran saya akan dunia desain yang semakin dalam sekarang,  Belanda memiliki sesuatu yang berbeda dari negara-negara lain. Sekolah desain di Belanda selalu mencoba menelusuri sisi-sisi dasar manusia. Perasaan, dorongan emosi, hidup, mati dan seterusnya. Menelusuri hal-hal tersebut bermanfaat untuk memberi solusi dan inovasi desain.

Pada tahun 2009, Design Academy Eindhoven mengangkat tema kematian sebagai bahan kuliahnya yang berjudul “Remember Me”. Kematian sebagai dasar siklus manusia yang masih sedikit di sentuh dunia desain justru menjadi basis pendekatan berpikir mahasiswa-mahasiswa Design Academy Eindhoven. Ide-ide yang akhirnya bangkit dari tema kematian menjadi beragam contohnya seperti sebuah instalasi yang menyerupai detak jam, kain penutup jasad yang menyesuaikan karakter dan seterusnya. Mungkin hasil-hasil karya tersebut bukanlah hasil yang mempunyai kemungkinan besar untuk dibeli. Tapi jika dibawa pada persoalan yang lebih besar dari sekedar tugas kuliah, pendekatan ide-ide tersebut dapat menjadi angin segar.

Desain-desain Belanda yang menyentuh sisi dasar manusia juga sering digabungkan dengan aspek alam. Aplikasi fisik penggabungan aspek manusia dan alam terlihat pada sebuah objek karya desainer-desainer Belanda, contohnya sentuhan tidak selesai atau unfinished, gabungan antara sentuhan glossy danraw, bentuk-bentuk organik dan asimetrikal begitu juga aspek craftmanship. Ciri-ciri tersebut dapat dilihat pada karya-karya desainer seperti Tord Boontje, Hella Jongerius, Lucas Maassen dan lainnya.

Profesi saya sendiri yang berhubungan dengan media desain membuat saya tersadar bahwa begitu menyenangkan melihat pendekatan-pendekatan berbeda dari desain tiap negara. Begitu menyenangkan pula melihat pendekatan desain Belanda yang membuat saya merasa desain itu dekat dengan manusia dan bukan sesuatu yang gemerlap dan berpura-pura. Selain itu tidakkah menjadi menyenangkan, bahwa karya-karya di dunia ini bukan sekedar estetika yang memuaskan keinginan pasar? Melihat karya-karya tersebut, seperti ada sekelompok orang yang menyumbangkan tenaga sukarela pada sebuah tragedi dan kembali pada sisi positif manusia yang mempunyai kedekatan antara sesama. Desain dan manusia mungkin seharusnya memiliki pola hubungan yang sama seperti manusia dan manusia, dekat dan bertetangga.

– ditulis oleh Fryza Pavitta P.

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s