#484 Mari Berguru pada Belanda: Jangan Pasrah, Kreatiflah!

Hai, selamat siang!

Sejak pukul lima pagi, Surabaya diguyur hujan dan belum berhenti sampai saya menulis ini. Hujan memang selayaknya disyukuri, sebab hujan adalah berkah. Well, meskipun hujan di pagi hari kerap dijadikan alasan terlambat ke kantor, tapi, bukankah kita yang harusnya menyesuaikan diri dengan alam? Bukankah kita yang harusnya memaksa diri untuk bergegas, karena jika hujan, mau tak mau perjalanan kita jadi melambat?

Menyesuaikan diri dengan alam kerap menjadi hal yang kita ketahui harus dilakukan, tapi tidak kita lakukan. Menyesuaikan diri dimulai dengan sikap menerima. Menerima bahwa memang kondisi ini harus kita hadapi, dan bukannya bersedih, memaki atau malah melarikan diri.

Belajar mengenai penerimaan terhadap alam, kita perlu berguru pada Belanda, negeri yang sudah ribuan tahun bersahabat dengan alam. Seperti kita ketahui, Belanda merupakan dataran yang dibangun di atas tanah yang tergenang air dan hampir setengah wilayahnya berada kurang dari satu meter di atas permukaan laut.

Belanda tak pernah ada, jika masyarakatnya terus-menerus menganggap air sebagai musuh. Pernyataan ini muncul di benak saya ketika mempelajari topografi Belanda. Bagaimana tidak? Negara dengan management water system terbaik di dunia ini, penduduknya tidak meninggalkan tanah mereka yang begitu rendah! Mereka menerima kondisi ini dan berpikir keras mencari solusinya. Mulai dari mengeringkan laut, mengaplikasikan sistem polder, menciptakan delta project, bahkan yang terbaru, menciptakan kota di atas air dengan pondasi apung atau yang disebut floating city apps.

Floating city merupakan gagasan arsitek Belanda, Koen Olthuis. Lelaki yang masuk daftar orang paling berpengaruh di dunia tahun 2007 versi Majalah TIME ini, menemukan solusi atas fenomena alam terkikisnya daerah tepi laut yang terus terjadi belakangan ini.

Olthuis memulai proyeknya di Westland, dekat kawasan The Hague. Ia merendam sebuah dataran dengan cara membuka tanggul dan membiarkan air masuk. Di atasnya, ia membangun rumah-rumah apung.
“Akan ada 1.200 rumah, 600 diantaranya mengapung dan 600 lainnya berada di atas gundukan kecil.” kata alumnus TU Delft ini. Dengan inovasi kreatif ini, Olthuis menawarkan konsep bangunan yang kuat, modern, dan ramah lingkungan.

Tak hanya berhasil menerima dan menyesuaikan diri dengan alam, Belanda juga mampu berbuat lebih dengan melimpahnya kekayaan air di negeri mereka. Ya, selain Olthuis, Belanda juga memiliki Voltea, sebuah perusahaan yang masuk dalam daftar Europe’s 25 Most Creative Companies 2010.

Voltea terpilih sebagai perusahaan kreatif karena menemukan teknologi sederhana pengolah air yang sangat efisien. Teknologi Voltea ini sangat dibutuhkan dunia, mengingat persediaan air bersih di bumi yang semakin sedikit. Selain itu, proses desalinasi air yang selama ini dilakukan ternyata merupakan proses yang menghabiskan begitu banyak energi.
“Teknologi penghasil air layak minum yang banyak digunakan saat ini membuang 50% dari air yang diproses. Dengan menggunakan teknologi kami, Anda memiliki efisiensi hingga 95%.” ujar CEO Voltea, Michiel Lesink.

Lihat, negara kaya yang dulunya tergenang air ini tidak hanya berpikir untuk mengakali kondisi alamnya, tapi juga menciptakan banyak inovasi kreatif yang mengubah “kekurangan” menjadi kelebihan!

Jadi, sudahkah kita menjadi seperti Belanda? Jangan pasrah terhadap nasib, apalagi memakinya. Bergeraklah dan berpikirlah untuk mengubahnya. Sebab, nasib adalah sesuatu yang bisa diubah, kalau kita mau berusaha. So, selamat santap siang, para pekerja keras yang kreatif!

– ditulis oleh Niza Elangit

1 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

One response to “#484 Mari Berguru pada Belanda: Jangan Pasrah, Kreatiflah!

  1. Alhamdulillah termuat juga disini…. tiga hari euy ngantrinya, hihihi… terima kasih, Neso Indonesia! ^__^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s