#490 Erasmus, Sang Jiwa Kreatif Belanda

Salah satu tokoh besar yang paling dibanggakan oleh bangsa Belanda adalah Desiderius Erasmus (1466-1536). Beliau adalah budayawan dan intelektual yang hidup pada era Humanisme Renaisans di Eropa. Sungguh berharga warisan yang ditinggalkan Erasmus sehingga pengaruhnya masih terasa sampai sekarang. Banyak universitas, baik di Belanda maupun di luar Belanda, yang memakai nama Erasmus sebagai tanda penghormatan padanya. Di tempat kelahirannya Rotterdam, penduduknya begitu mencintai Erasmus sampai-sampai mereka mempunyai tiga hari dalam setahun yang khusus didedikasikan untuk merayakan kebesaran namanya.

Salah satu alasan mengapa Erasmus mempunyai pengaruh historis yang kuat adalah karena hidupnya menjadi saksi dari arti kreativitas yang sejati. Dalam hidup dan karyanya, Erasmus secara konsisten meresapkan nilai kreativitas sebagai prinsip untuk meretas pembaruan dan reformasi. Keprihatinannya akan pentingnya kreativitas memberikan Erasmus sensitivitas untuk melihat betapa kondisi zamannya telah begitu dikuasai oleh kekolotan dan tradisi kuno yang menyesakkan. Gereja sebagai pemegang otoritas tertinggi pada masa itu hanya menyibukkan diri dengan mengajarkan doktrin dan ritual formal dalam rangka menjamin kepatuhan umat. Erasmus melihat bahwa atmosfer semacam itu tidak lagi relevan di tengah perkembangan zaman yang bergerak semakin dinamis, terbuka, dan kritis. Sebagai seorang humanis yang ahli dalam sastra dan bahasa klasik, Erasmus menyerukan pentingnya gereja untuk berubah dengan cara menggali esensi keberagamaan yang sejati, yakni dengan berpaling kepada bahasa asli kitab suci dan dokumen-dokumen historis.

Tentu, Erasmus tidak hanya berbicara kepada gereja melainkan juga bagi masyarakat luas. Dengan menilik seluruh karya dan gagasannya, dapat dilihat bahwa apa yang sesungguhnya dilakukan Erasmus adalah mengabarkan kepada zamannya bahwa era yang baru telah tiba sehingga cara orang berpikir, merasa, dan menilai realitas harus berubah. Karyanya yang paling terkenal, The Praise of Folly, berbicara tentang pokok tersebut. Dengan menggunakan tokoh seorang dewi bernama Folly, di dalamnya Erasmus secara simbolis menyindir kecenderungan para panutan masyarakat, terutama para intelektual dan pendeta, yang terlalu mendewakan intelektualitas sehingga merendahkan aspek emosional dan gairah dalam diri manusia. Folly mengingatkan bahwa penekanan pada intelek hanya akan membuat hidup menjadi membosankan dan kering. Agar sungguh menjadi manusiawi, manusia perlu mengimbangi intelek dengan emosi. Melalui emosi, manusia bisa menertawakan dirinya, belajar dari kesalahan, dan pada gilirannya mampu mengembangkan diri. Dari sinilah kemudian kreativitas dapat bertumbuh secara produktif dan membuahkan hasil nyata.

 Sebuah ilustrasi tentang The Praise of Folly

Jika kita merenungkan kecenderungan yang terjadi saat ini, kita akan melihat betapa relevannya seruan tersebut. Erasmus sesungguhnya ingin menegaskan tentang pentingnya sikap realistis dan kejujuran dalam menjalani hidup. Manusia terlalu sering memupuk kesombongan melalui pendewaan akal dan lupa bahwa sumber kekuatannya justru terletak dalam realitas manusiawi yang lebih dalam. Kreativitas tidak dihasilkan dari kekuatan akal belaka yang justru seringkali digunakan untuk menindas dan menghancurkan manusia, misalnya melalui penciptaan senjata perang. Sebaliknya, kreativitas sejati muncul dari pengolahan seluruh gerak batin yang ada dalam emosi dan gairah manusia sehingga hasilnya menjadi selaras dengan kebutuhan untuk menciptakan relasi yang harmonis dan etis dengan sesama. Spirit dan esensi dari kreativitas inilah yang diwariskan ke dalam jiwa bangsa Belanda dan termanifestasi dalam seluruh karya kreatif Belanda dalam berbagai bidang, yakni sebagai karya yang bersumber dari kedalaman emosi dan hati.

 Patung perunggu Erasmus di Rotterdam

– ditulis oleh A. Galih Prasetyo

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s