#501 Belanda pun di Yogyakarta

Hi will, terima kasih sudah menjadi pembaca setia dari surat suratku. Kali ini aku ingin mengenalkanmu pada kota ku –kota yang telah  mendewasakanku. Tak perlu jauh  menemuimu ke Belanda, Yogyakarta pun jadi Belanda kedua bagiku.

Siapa tak ingin ke kota kelahiranmu, Belanda?! Aku pun ingin menginjakkan kaki di negeri yang indah itu. Negeri seribu tulip. Namun, tak sedikit pengorbanan yang dibutuhkan untuk kesana. Bagiku hanya mimpi tetap mendekatkanku dengan Belanda. Tahu kah kau bahwa nenek moyangmu pun pernah datang di kotaku.

dok. istimewadok. istimewa

Apapun kepentingannya, pastinya mereka merasa nyaman tinggal di sini. Lihat saja tata kota  Yogyakarta yang memadukan tata kota gaya Belanda. Tugu Yogyakarta yang dikenal dengan nama tugu Pal Putih ini tak lepas dari perpaduan Yogyakarta-Belanda. Tugu Pal Putih awalnya tidak seperti yang kita lihat sekarang. Dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I –raja kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat tugu ini bernama Golong Gilig. Tubuhnya berbentuk gilig (silinder) dan puncaknya berbentuk golong (bulat), berfilosofimanunggaling kawula gusti atau menyatunya rakyat dan penguasa.

Hebatnya kedatangan Belanda ke Yogyakarta justru menjadikan tata kota Yogyakarta semakin unik.  Belanda membangun gedung berarsitektur khas Belanda. Hal ini dibuktikan dengan gedung Kantor pos Indonesia, Bank BNI, Benteng Vrederburg, gereja dan perumahan pegawai Belanda di Nieuw Wijk (1920) atau Kotabaru. Lebih keutara, Belanda membangun  jalan dan jembatan melintasi sungai Code dalam bahasa Belanda disebut Kerkweg. Namun orang Jawa menyebutnya Kewek.

Belanda pun membangun Tugu Golong Gilig karya Sri Sultan HB I yang runtuh akibat gempa bumi pada 10 Juni 1867.  Sudah pasti berntuknya berbeda. Belanda memadukan berbagai gaya arsitektur jawa dan dunia. Terlihat pada tiap sisi tugu dihiasi prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah dari bangunan semula. Tugu ini juga diberi nama De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.

…meski lebih pendek 10 meter Tugu Pal Putih lebih rumit penyelesaiannya, Will!….konsep dasar berundak mengingatkanku pada konsep India. Sementara hiasan di bagian pinggirnya mirip arsitektur gaya Itali. Nenek moyang mu pun memasukkan tulisan dalam setiap sisinya dalam bahasa Jawa…

Tak jauh dari Tugu Pal Putih terdapat beberapa sekolah yang dulu  digunakan Belanda untuk mendidik anak Belanda dan pribumi salah satunya SMA De Britto. Disinilah aku menghabiskan masa remajaku. Sementara di beberapa sekolah masih meninggalkan  bangku, buku buku, bahkan peralatan laboratorium kuno. Di SMA De Britto (1948) tempat aku bersekolah justru meninggalkan model pendidikan yang khas. Sekolah ini dulu dikelola oleh pastur Sarekat Jesus yang kebanyakan orang orang Belanda. Pendidikan yang keras, logis dan membangun kepribadian tetap diwariskan. Uniknya yang sekolah ini hanya kaum pria. Bayangkan saja gaya khas asli masih terlihat sebut saja pengajaran partisipatif, bahkan siswa boleh tidak menggunakan sepatu,boleh tidak memakai seragam untuk hari tertentu dan tidak melarang siswa berambut panjang. Disini siswa harus cerdas emosi, cerdas kognitif dan mandiri. Man For the other menjadi prinsip yang harus dipahami semua siswa.

…Itulah aku sekarang will. Belanda memang telah mendarah daging di Yogyakarta bahkan didalam pikiranku.

– ditulis oleh Pascalis Widiawan

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s