#504 Belanda dan Prinsip 4K

Ada sebuah ungkapan populer dalam bahasa Inggris yang bisa mewakili semangat Belanda dalam berinovasi, “necessity is the mother of invention.” Kondisi mendesak memaksa orang menjadi kreatif. Saya menyebutnya 3K, “Kreatif karena Kepepet”. Belanda adalah salah satu negeri paling kepepet sekaligus paling kreatif di dunia.

Kondisi tanah yang berada di bawah permukaan air menjadi tantangan pertama. Belanda menjawabnya dengan pengeringan tanah (land drainage) dan reklamasi. Daerah-daerah hasil reklamasi kini menjelma menjadi kota dan lahan pertanian yang subur. Kawasan Zuiderzee salah satunya. Teluk sempit di Laut Utara ini disulap menjadi tanah seluas 1650 km2 dan dimanfaatkan menjadi area pertanian, wisata, dan pengembangan kota. Tanah hasil reklamasi yang subur ditunjang dengan teknologi pertanian yang maju berhasil mengantarkan Belanda menjadi negara pengekspor hasil pertanian terbesar ketiga di dunia. Sebuah prestasi fantastis untuk negara yang hanya menempati 0.008% dari luas total bumi ini.

Masalah topografi, peningkatan populasi, ditambah dengan ancaman pemanasan global menjadi tantangan berikutnya. Para arsitek harus mampu membangun kota sesuai dengan lanskap dan tanpa merusak lingkungan. Lahirlah kemudian bangunan-bangunan kreatif yang tak hanya menjawab masalah banjir namun juga eco-friendly. Solusi baru itu mewujud dalam bentuk rumah amfibi dan rumah apung (floating houses). Disebut amfibi dan mengapung karena rumah-rumah ini bisa mengambang saat permukaan air naik. Saya yakin suatu saat Belanda pasti akan punya kota di atas air!

Daya kreatif para arsitek Belanda tak berhenti sampai di situ. Jika bepergian ke Belanda, selain berkunjung ke Keukenhof yang kesohor itu, pastikan Anda juga mampir ke City of the Sun di Heerhugowaard. Ini adalah kompleks pemukiman bebas CO2 terbesar di dunia. Distrik yang digagas oleh arsitek Ashok Bhalotra ini mampu menghasilkan energi sebesar 10 MW dengan menggunakan panel surya dan turbin angin. Selain itu, City of the Sun juga menerapkan sistem filtrasi air alami dengan pemanfaatan ulang air hujan dan reed-bed filtration. Pemukiman ini menjadi cetak biru sustainable city bagi kota-kota lain di dunia.

Kerjasama rapi antara pelaku bisnis kreatif, pemerintah, dan para ilmuwan pun patut mendapat acungan jempol. Pengembangan bisnis kreatif direncanakan dengan matang dan integratif. Salah satu bukti kuatnya kerjasama itu adalah berdirinya Dewan Industri Kreatif Belanda. Dewan ini bertugas mengkoordinir implementasi rencana aksi menurut prinsip segitiga emas (kolaborasi sektor industri, lembaga ilmu pengetahuan, serta pemerintah). Hasilnya? Lima bidang pendukung industri kreatif Belanda (arsitektur, desain, media dan hiburan, game, dan fesyen) kini telah mendapat pengakuan internasional.

Mahasiswa-mahasiswa asing pun berdatangan untuk belajar bidang-bidang kreatif di berbagai universitas terbaik di Belanda. Sebut saja, Technical University Delft dan Eindhoven University of Technology yang masuk kategori universitas terbaik dunia dalam bidang arsitektur dan desain.
Melihat itu semua, rupanya bukan hanya kondisi kepepet yang menjadikan Belanda bangsa yang kreatif. Mereka melengkapi prinsip 3K dengan 1K lagi, yaitu kerjasama. Belanda maju bukan hanya karena kepepet, tapi adanya kesadaran bersama antara pemerintah, pelaku bisnis, dan para ilmuwan untuk bermitra.

Bagaimana dengan di Indonesia? Tampaknya kita harus belajar dari Belanda bagaimana mengatasi sekat birokrasi dan membangun kemitraan strategis demi mewujudkan negara yang lebih maju. Saya optimis Indonesia pun bisa!

– ditulis oleh Ari Zuntriana

Tinggalkan komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s