#517 Holland Horizon

Tak ada yang istimewa dari masa kecilku yang saya habiskan di Pangkajene Sidrap. Tak banyak kenangan indah dan tak banyak tawa yang bisa kuingat. Tidak ada mobil-mobilan, tidak ada pistol-pistolan, dan tidak ada buku cerita. Yang ada hanya surat kabar dan majalah-majalah yang merupakan langganan dari perusahaan radio swasta yang saya tinggali.

Salah satu majalah yang paling saya tunggu adalah majalah Holland Horizon. Dari majalah inilah saya mengenal all about Holland seperti perkembangan ekonomi, budaya, sejarah, sosial dan politik di Belanda. Sebagai anak kampung, saya berangan-angan untuk bisa merasakan atmosfir negeri Windmill secara langsung eventhough dengan membaca majalah Holland Horizon serasa berada di Belanda. Terkadang saya merasa bosan menunggu datangnya majalah ini ke ‘rumah’ yang saya tinggali karena ternyata majalah ini terbit tiap triwulan.

Dari majalah inilah saya mengenal seniman dengan IQ tinggi (IQ=155) yang berasal dari Belanda yaitu Rembrandt van Rijn. Rembrandt dikenal dengan keahliannya memanipulasi ekspos cahaya terhadap objek sehingga memberikan efek tertentu di dalam lukisan.

Dari majalah ini pulalah saya mengetahui salah satu kota yang ada di Belanda yaitu Rotterdam. Meski kota Rotterdam pernah di bom oleh tentara Jerman pada masa Perang Dunia Kedua namun kota ini bangkit kembali. Belakangan juga saya tahu bahwa Rotterdam ternyata nama sebuah benteng yang ada di Makassar (Fort Rotterdam). Tujuh tahun yang lalu (kelas 2 SMP) saya sempat berkunjung ke Fort Rotterdam untuk melihat keindahan bekas bangunan pusat pengaturan lalu lintas perdagangan yang melintas di area lautan Makassar. Bangunannya megah dan indah. Itulah pertama kali saya melihat bangunan yang indah dan megah lagi kokoh.

Holland Horizon pulalah yang mengenalkan saya tentang komisi perselisihan yang ada di Belanda. “Tiada tempat yang mendamaikan perselisihan dengan begitu baik seperti di Belanda” (Holland Horizon Nomor I/XI-Juni 1999). Di sebagian negara Eropa, untuk menyelesaikan konflik antara konsumen dan pemasok mereka akan ke arbitrase atau pengadilan. Namun di Belanda, kita cukup menghadap ke komisi perselisihan yang dibentuk hampir di setiap sektor. Jika kacamata Anda menimnulkan sakit kepala, maka komisi perselisihan ‘optik’ akan menjadi penengah antara Anda dengan ahli kacamata yang bersangkutan. Komisi peselisihan Belanda telah menciptakan iklim dimana para konsumen tidak perlu takut lagi menjadi korban pemasok. Indonesia harus mengikuti langkah Belanda untuk membentuk komisi perselisihan mengingat masyarakat/konsumen yang sering mengeluh akan barang/jasa yang dibelinya.

Sebagai negara yang kemajuan teknologinya sangat pesat tak membuat Belanda melupakan industry dan teknologi kuno. Sudah sejak lama Belanda melestarikan bangunan yang mempunyai nilai sejarah dan artistik. Mereka menyadari bahwa pelestarian peninggalan industry dan teknologi kuno akan sangat bermanfaat untuk generasi yang akan datang. Berikut beberapa warisan industry yang masih tetap dijaga kelestariannya:

1. Pompa Bensin, Nijmegin

2. Bursa Jagung, Groningen

3. Pabrik Bahan Wol A.J. Van Den Heuvel & Zoon, Geldrop

4. Pengolahan Batu Kapur Hasselt

5. Rumah Sinyal, Maastricht

6. Gedung De Vijf Werelddelen, Rotterdam

7. Berkas Arsip Nasional, Den Haag

8. Pintu Air, Aduardezijl

9. Menara Air, Oost-Souburg

10. Pintu Terowongan Tambang Nulland, Kerkrade

– ditulis oleh Ikhwan Iqbal

2 Komentar

Filed under entri, kompetiblog2012

2 responses to “#517 Holland Horizon

  1. nice post Mas Iqbal…jangan lupa, selain rembrant Belanda juga punya vincent van gogh…hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s